BALIEXPRESS.ID - Ada yang berbeda di Desa Songan, Kintamani, Bangli! Tradisi pemakaman di desa ini punya keunikan tersendiri dibandingkan dengan daerah lain di Bali.
Mulai dari cara pemakaman hingga perlakuan terhadap jenazah, semuanya mengundang rasa penasaran. Mengapa bisa begitu unik?
Sistem Uluwapat: Landasan Tradisi Pemakaman Songan
Tokoh Desa Songan, Jro Temu, menjelaskan bahwa Desa Songan menganut sistem Uluwapat, sebuah sistem yang menempatkan kekuasaan tertinggi di tangan seorang Kabayan.
Sistem ini melahirkan prosesi pemakaman khas seperti Mabia Tanem dan Mabia Tunjel.
“Mabia Tanem adalah prosesi menanam jenazah terlebih dahulu, lalu kemudian membakarnya sebagai simbolisasi perjalanan menuju Nirwana,” ungkap Jro Temu.
Perbedaan Tradisi di Sema Songan
Di Desa Songan, terdapat empat jenis sema atau tempat pemakaman: Sema Cerik, Sema Bangsil, Sema Gede, dan Sema Gel-gel.
Namun, Sema Gel-gel memiliki tradisi berbeda karena diperuntukkan bagi masyarakat pendatang berkasta Gel-gel.
Mereka melaksanakan Pitra Yadnya seperti masyarakat Bali pada umumnya, yakni langsung melakukan Ngaben jika memiliki biaya.
Sebaliknya, di Sema Gede, jenazah masyarakat Songan, khususnya yang bergelar Jro Balian Suci atau Jro Putus, diperlakukan dengan cara berbeda.
Jenazah mereka tidak dikubur dalam tanah, tetapi diletakkan di liang lahat yang ditutup dengan Ancak Saji dari bambu kuning.
“Ini karena mereka sudah dianggap suci, sehingga kepala mereka tidak boleh menyentuh tanah,” jelas Jro Temu.
Tradisi Pemakaman yang Dijaga Kelestariannya
Uniknya, meski tidak ada pohon Taru Menyan seperti di Desa Trunyan, iklim dingin di Songan membuat jenazah yang hanya diletakkan di lubang sepanjang dua meter tidak berbau.
Di lubang tersebut, jenazah diletakkan melintang, ditutupi jaring pelindung, dan diberi tumpukan pakaian serta barang-barang almarhum.
“Untuk jenazah suci di Sema Gede, mereka akan dibiarkan hingga waktu Ngaben massal tiba,” tambah Jro Temu.
Tandu Khusus untuk Jro Balian Suci
Tidak hanya makamnya yang unik, alat pengantar jenazah juga berbeda.
Jika masyarakat biasa menggunakan tandu standar atau kantong jenazah, Jro Balian Suci diantar dengan Tumpang Salu, tandu khusus berbahan bambu kuning yang diberi kayu dap-dap di bagian atasnya.
“Semua bahan tandu harus sukla atau suci, dan dibuat dari bahan-bahan alami,” ujar Jro Temu.
Warisan Budaya yang Tak Tergantikan
Jro Temu menegaskan bahwa tradisi pemakaman di Desa Songan merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan.
“Jangan mengaitkan tradisi kami dengan asal-usul kasta tertentu. Tradisi Bali Mula di Desa Songan ini adalah bagian dari identitas kami yang harus tetap dijaga,” tegasnya. ***
Editor : I Putu Suyatra