Catus patha adalah pusat negara pada zaman kerajaan Bali. Dalam Lontar Eka Pretamaning Brahmana Sakti Bujangga berisi gagasan tentang negara dan bagaimana suatu puri diletakkan di catus patha Bali.
Menurut prasasti ini perpaduan rasa diperlukan untuk membangun tata negara karena itu merupakan perpaduan dari dua dunia atau alam, yaitu mikrokosmos dan makrokosmos (bhuana alit dan bhuana agung).
Rasa ini digunakan oleh pikiran sebagai inspirasi untuk mewujudkan kesejahteraan, keadilan, dan keserasian alam.
Dosen Agama Hindu, STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Nyoman Ariyoga, M.Pd menjelaskan dalam alam, empat arah mata angin ditentukan (catur loka pala), yang kemudian disusun menjadi catur negara.
“Pempatan agung atau Catus Patha adalah simbol pusat dunia karena pusat Catus Patha adalah pusat negara dan tempat di mana letak puri seorang kepala negara ditetapkan,” jelasnya.
Baca Juga: Miliki 17 Gerai Layanan, Mal Pelayanan Publik Tabanan Diresmikan: Bupati Sanjaya Ungkap Tujuannya
Puri berfungsi sebagai pusat kekuasan berdasarkan arah mata angin dari pusat Catus Patha ini, bukan berdasarkan kiblat gunung-laut.
Dalam istilah Bali, Catus Patha disebut juga dengan tapak dara yang ditemukan dalam Lontar Catur Bumi.
Tampilan dara ini yang merupakan dasar swastika. Karena swastika menunjukkan perputaran alam semesta, tampak dara, atau sumbu salib, menunjukkan alam semesta juga. Tampak dara ini juga digunakan sebagai antisipasi bencana
Dikatakan Ariyoga, secara umum Catus Patha berwujud catur muka yang mana hampir seluruh masyarakat Hindu Bali sangat percaya bahwa yang bersemayam di Catus patha adalah Sanghyang Catur Bhuana, representasi dari Ida Sang Hyang Widhi atau Tuhan.
Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa orang Bali mengenal berbagai macam peristiwa yang tidak dapat dijelaskan dengan akal sehat.
Seperti tabrakan yang terjadi pada siang hari (tengai tepet) dan tabrakan yang terjadi pada sore hari (sandi kala).
Keberadaan Catus Patha atau yang dikenal dalam masyarakat umum disebut dengan pempatan agung yang masih eksis hingga saat ini
Konsep religius ini dianggap sebagai tempat bersemayamnya Dewa Brahma (catur muka), salah satu dari perwujudan trimurti yang bertugas menjaga alam semesta.
Pempatan agung dari sisi makro kosmos tata ruang Bali berfungsi sebagai pusat suatu wilayah dan titik sentral awal perkembangan wilayah tersebut
Ia menambahkan, dalam konsep desa, kala, patra (tempat, waktu, dan kondisi), implementasinya sangat beragam. Namun, pempatan agung diyakini sebagai pusat energi yang menetralisir kekuatan positif dan negatif tetap sama.
Baca Juga: Balian Perempuan di Buleleng Dibacok Seorang Laki-laki
Sebagai pusat energi, Pusat ini berfungsi sebagai pusat upacara penyucian di mana seluruh warga desa adat berpartisipasi. Pempatan Agung menggunakan konsep Pusat yang kosong sebagai isi.
“Jadi, secara spasial, titik nol ini adalah titik kosong; itu tidak memiliki apa-apa untuk mengisi, tetapi karena ada energi yang misterius di dalamnya harus terisi,” imbuhnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika