BALIEXPRESS.ID - Tak banyak yang tahu bahwa upacara manusa yadnya dalam tradisi Hindu Bali memiliki prosesi yang jauh lebih kompleks daripada sekadar telubulanin, mesangih, atau nganten.
Ada prosesi lain yang sangat penting namun jarang dilakukan, seperti Warak Keruron, Ngelangkir, Ngelungah, dan Megedong-gedongan.
Prosesi ini memiliki makna mendalam, terutama bagi mereka yang pernah mengalami keguguran atau kehilangan bayi.
Upacara yang Langka dan Bermakna Mendalam
Jro Mangku Dharma Wisesa, seorang pemuka agama Hindu Bali, mengungkapkan bahwa prosesi seperti Warak Keruron sangat jarang dilakukan karena hanya relevan bagi mereka yang pernah mengalami keguguran.
"Upacara ini dilakukan untuk mengembalikan atman (jiwa) janin yang tidak sempat lahir ke alam suargan," jelasnya.
Menurut tradisi Hindu, meskipun janin belum lahir, ia telah memiliki atman sejak usia kandungan dua minggu.
Jika prosesi ini diabaikan, dipercaya atman tersebut dapat mengganggu kehidupan orang tuanya, menyebabkan penyakit berkepanjangan, kesialan, atau bahkan masalah kesehatan serius seperti kanker rahim bagi sang ibu.
Makna di Balik Prosesi Langka
-
Warak Keruron
Prosesi ini ditujukan bagi janin yang gugur, baik secara alami maupun disengaja. Ritual ini bertujuan untuk mengembalikan atman janin ke alam suargan. Jika tidak dilakukan, atman tersebut dipercaya dapat membawa dampak buruk secara sekala (fisik) maupun niskala (spiritual). -
Ngelangkir
Diperuntukkan bagi bayi yang meninggal sebelum kepus pungsed (tali pusar putus). Upacara ini melibatkan pemohonan izin kepada leluhur dan dewa, serta penyucian dengan tirta penglukatan rare agar atman bayi dapat kembali bereinkarnasi. -
Ngelungah
Prosesi ini mirip dengan Ngelangkir tetapi ditujukan untuk bayi yang telah kepus pungsed namun belum tumbuh gigi. Bayi dalam kondisi ini dianggap masih sangat suci, sehingga prosesinya berbeda dengan ritual kematian untuk orang dewasa.
Menjawab Ketidaktahuan dan Tabu Masyarakat
Menurut Ida Mpu Yogi Swara dari Griya Uma Jati, kurangnya pemahaman dan rasa malu mengakui pengalaman keguguran membuat prosesi-prosesi ini jarang dilakukan.
Padahal, pelaksanaannya penting untuk menjaga keseimbangan hidup secara spiritual dan menghindari dampak negatif di masa depan.
“Dengan memahami prosesi ini, masyarakat bisa menjalani kehidupan lebih harmonis, baik secara fisik maupun spiritual. Kami juga berharap dengan adanya informasi ini, masyarakat tidak ragu untuk melaksanakan upacara yang sesuai dengan kondisi mereka,” ujarnya.
Harapan untuk Melestarikan Tradisi
Melalui sosialisasi dan ritual bersama, tradisi ini diharapkan dapat terus dilestarikan, sekaligus meringankan beban biaya masyarakat.
Prosesi ini bukan sekadar ritual, tetapi sebuah langkah spiritual untuk menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.
Ritual-ritual ini adalah cerminan mendalam dari kearifan lokal Bali yang sarat makna dan penuh misteri.
Akankah masyarakat kembali melestarikan upacara-upacara ini, ataukah ia akan semakin terlupakan di tengah arus modernisasi? ***