Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna Ulu Teben dalam Tata Ruang di Bali Hulu Jadi Tempat Sakral, Urusan Posisi Tidur Menjadi Perhatian

I Putu Mardika • Selasa, 3 Desember 2024 | 05:12 WIB

 

Rumah Adat di Bali yang dibangun senantiasa memperhatikan Ulu Teben
Rumah Adat di Bali yang dibangun senantiasa memperhatikan Ulu Teben
BALIEXPRESS.ID-Konsepsi Ulu-Teben bagi masyarakat di Bali dalam tata ruang rumah senantiasa menjadi pedoman.

Masyarakat meyakini wilayah yang sakral, dan terletak di bagian hulu (depan/ timur) dari pekarangan, kemudian bagian tengah yang diperuntukkan sebagai tempat untuk melaksanakan segala aktivitas dalam kehidupan, serta wilayah teben sebagai teba (kebun).

Ketua PHDI Kecamatan Buleleng, Nyoman Suardika menjelaskan, ketiga wilayah ini tentunya saling terkait dan terintegrasi antara satu dengan yang lain.

Oleh karenanya, pengejawantahan dari konsep Tri Mandala ini sebagai bentuk representasi dari konsep Tri Hita Karana yang didesain dalam struktur dan tata letak bangunan di Bali guna untuk menjaga keseimbangan antara Tuhan, manusia dan juga lingkungan.

“Dalam keyakinan masyarakat Hindu Bali bahwasanya tata letak bangunan pada satu wilayah hendaknya mengikuti penjuru arah mata angin, dengan kesembilan penjuru tersebut masing-masing memiliki manifestasi Tuhan sebagai penguasa dari masing-masing arah penjuru,” ungkapnya.

Seperti arah Timur dikuasai oleh manifestasi Tuhan sebagai Dewa Iswara, arah Tenggara dikuasai oleh manifestasi Tuhan sebagai Dewa Mahesora, arah Selatan dikuasai oleh manifestasi Tuhan sebagai Dewa Brahma.

Baca Juga: Disebut Tirta Siwa, Ini Makna Tirta Pengentas dalam Upacara Kematian di Bali: Digunakan saat Ngaben atau Penguburan

Arah Barat Daya dikuasai oleh manifestasi Tuhan sebagai Dewa Rudra, arah Barat dikuasai oleh manifestasi Tuhan sebagai Dewa Maha Dewa, arah Barat Laut dikuasai oleh manifestasi Tuhan sebagai Dewa Sangkara.

Kemudian, arah Utara dikuasai oleh manifestasi Tuhan sebagai Dewa Wisnu, arah Timur Laut dikuasai oleh manifestasi Tuhan sebagai Dewa Sambhu, dan arah Tengah dikuasai oleh manifestasi Tuhan sebagai Dewa Siwa

“Konsep kesembilan penjuru mata angin tersebut di dalam masyarakat Hindu Bali dikenal dengan konsep Dewata Nawa Sańga. Kesembilan penjuru mata angin ini diyakini memiliki simbolnya masing-masing,” kata Suardika.

Sehingga tata letak bangunan di Bali mengikuti kesembilan simbol yang ada di dalam konsep Dewata Nawa Sańga tersebut.

Baca Juga: KOK BISA? Partisipasi Pemilih saat PSU di TPS 005 Sangkan Gunung Karangasem Berkurang: Diduga Ini Penyebabnya

Misalnya, pada arah Timur dikuasai oleh Dewa Iswara dengan simbol angin, maka pada posisi Timur dan Timur Laut atau dalam bahasa Bali disebut Kaja-Kangin dibangun tempat suci.

Kemudian arah Utara misalnya dengan dewa penguasanya yakni Dewa Wisnu dengan simbol air, maka di sebelah Utara ini dibangun Bale Daja atau Bale Meten yang difungsikan sebagai tempat untuk beristirahat dengan tujuan untuk memperoleh kesejukan dan kedamaian.

Masyarakat Bali juga meyakini bahwasanya ketika tidur maka posisi kepala harus berada di Timur dan kaki di Barat, atau kepala di Selatan dan kaki di Utara.

“Karena Timur disimbolkan dengan udara yang akan mendatangkan kesejukan, demikian juga Selatan yang disimbolkan dengan gunung,” katanya.

Apabila tidur dengan posisi kaki di Timur atau di Selatan maka posisi ini disebut dengan nyungsang (terbalik) dan juga mengakibatkan tulah (berdosa) karena arah Timur dan Selatan dikategorikan sebagai arah yang sakral.

Baca Juga: Wabup Suiasa Hadiri Peringatan Hari AIDS Sedunia di Kabupaten Badung

Demikian juga dalam konsep Dewata Nawa Sańga pada arah Selatan dengan dewa penguasanya yakni Dewa Brahma yang disimbolkan dengan api (agni), maka dalam tata letak bangunan Bali, arah selatan ini diperuntukkan untuk dapur, karena di dapur sangat erat kaitannya dengan aktivitas masyarakat Bali yang tidak terlepas dari api.

Ia menambahkan, tata ruang yang diatur dalam teks lontar Asta Kosala-Kosali ini menunjukkan betapa pentingnya dalam mendesain tata ruang dalam satu pekarangan rumah.

“Hal ini dapat dilakukan dengan meletakkan bangunan-bangunan beserta dengan fungsinya masing-masing pada tempat-tempat tertentu yang sangat sarat dengan makna filosofis,” paparnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #sakral #hindu #ulu teben #rumah