Tokoh masyarakat Pedawa, Wayan Sukrata mengatakan, ritual ngeyehin karang juga dimaknai sebagai neduh ibu pertiwi.
Tujuannya agar ibu pertiwi yang kondisinya panas bara, kita kotori, cangkul injak kembali lestari dan berguna bagi kehidupan dalam kapasitasnya sebagai karang rumah.
Dijelaskan Sukrata, Ngeyehin karang biasanya dilakukan pagi hari, dengan pertimbangan bahwa pagi hari masih menyimpan suasana yang masih segar dan aura positif lebih kuat. Sehingga dapat membuat bakti lebih kusuk, tapi tidak menutup kemungkinan juga bisa siang hari dan sore hari.
“Harapannya tentu agar ada keseimbangan antara penghuni rumah dengan ibu pertiwi termasuk ada kekuatan bhuta,pemali dan makhluk lainnya disomia. Jadi kami tidak nundung para buta, melainkan menyomia,” jelasnya.
Hal ini tergantung seberapa banyak pengaep (pemimpin upacara) muput upacara ngeyehin karang. Namun sebagian besar Pengaep paling banyak memimpin upacara satu sampai tiga rumah, sehingga tidak akan sampai dilakukan siang hari.
Dalam tradisi ngeyehin karang menggunakan Sesontengan sebagai mantra. Sesontengan merupakan bahasa yang digunakan berkomunikasi dengan Tuhan pada jaman dahulu, karena pada jaman dahulu di Desa Pedawa belum mengenal mantra.
Tradisi Ngeyehin karang dilaksanakan dengan menggunakan banyak sarana salah satunya adalah air. Dalam agama Hindu air digunakan sebagai tirta atau air suci yang digunakan sebagai sarana pembersihan lahir dan batin
Pada Tradisi Ngeyehin karang ini menggunakan sebelas sumber mata air ini digunakan sebagai tirta peneduh pekarangan rumah. Diantaranya Cacapan semer (air dari pemandian umum), Cangkupan (air yang ada pada pertemuan dua aliran sungai).
Kemudian Belahan tukad (aliran sungai yang jalurnya membelah dua arah) Paung batu (air yang ada pada batu yang berlobang), Empul buluh (air yang ada di dalam bambu buluh), Empul tiing bali (air yang ada di dalam bambu bali).
Selanjutnya Yeh kelebutan (air yang keluar alami dari pohon), Kelungah (air kelapa kuning), Yeh apit munduk (air yang ada diantara dua munduk), dan Empul ampel (air yang ada di dalam bambu ampel).
Kesebelas sumber mata air ini nantinya akan dijadikan satu dalam suatu tempat yang disebut sangka (tempat air yang terbuat dari stainless yang berisi ukiran bali) yang kemudian digunakan untuk menyirami seluruh pekarangan rumah.
Selain menggunakan air dan bantuan tenaga dari tetangga yang mana nantinya akan membantu nyiratang yeh (menyiramkan sebelas sumber mata air tersebut), sarana utama yang lainnya adalah banten.
Banten yang digunakan sangat unik karena sebagian besar terbuat dari daun pisang dan daun sirih.
Diantaranya Banten pengulapan, Banten ini dibuat dari base tampilan (daun Sirih yang disusun), kemudian berisi bunga dan daging ayam panggang dengan alas daun pisang dan tempatnya adalah ingka (anyaman dari lidi yang dibentuk menyerupai piring besar).
Banten ini adalah untuk menyampaikan permohonan ijin kepada Ida Bathara bahwa akan melaksanakan upacara ngeyehin karang pada hari ini.
Canang Baas Pipis, Banten ini berada didalam tetembong (ayakan beras terbuat dari bambu bentuknya lebih kecil seukuran piring) kemudian didalamnya ada beras uang kepeng diatasnya disi daun, buah-buahan dan paling atas ada pasepan tanah yang diisi kayu majagau yang di bakar. Tempatnya berada tepat di bawah sanggah cucuk.
Banten sebagai simbol lingga atau tempat sad khayangan jagat Desa Pedawa atau enam Pura yang ada di Desa Pedawa yakni Pura Bingin, Pura Desa, Pura Penyarikan, Pura Telaga, Pura Mundu Madeg dan Pura Bukit Anyar
Ketipat Kelan, adalah sara yang dibuat dari beras dan daun kelapa muda. atau ketupat beras biasa yang berjumlah enam atau di Bali di sebut akelan.
Ketupat ini disebelahnya diisi dengan buahbuahan walaupun hanya satu macam,kemudian ada telor yang sudahh di rebus satu butir, berisi satu buah jajan dan diisi canang yang terbuat dari janur dan bunga, tempatnya dibawah sanggah cucuk.
“Banten ini sebagai simbol untuk memanggil batara sad khayangan desa. Dimana melalui sarana inilah nanti pengaep atau pemimpin upacara ngeyehin karang akan memanggil batara sad khayangan desa, yang ada di Desa Pedawa,” katanya.
Ketipat Gong, adalah yang dibuat berbentuk seperti gong atau alat musik tradisonal. Ketupat ini merupakan sarana yang cukup sering di gunakan dalam banten lainnya di Pedawa.
Ketupat ini di masukan dalam wadah bernama ingka atau anyaman dari lidi yang dibuat seperti piring kecil. Selain ketupat gong ada jajan atau kue Bali, pisang, telor bebek yang di rebus dan canang. Ketupat gong ini merupakan persembahan untuk ibu pertiwi
Banten teenan, adalah banten yang tempatnya dari tempeh kecil, yang di dalamnya ada beras, uang kepeng sebanyak 200 keping, benang putih satu gulung kecil, tutup kampuh (atau piring kecil dari tanah) diatasnya disi kain hitam, miyak, abu dan di sebelahnya berisi base tampilan (sirih yang di susun berisi buah pinang dan kapur putih).
Banten pengundang, Banten yang dikasi tempat tetembong (tempeh kecil) berisi beras, uang kepeng sebanyak 25 keping, berisi daun pisang, diatasnya berisi daun sirih sebanyak 10 pucuk diikat dengan tali bambu, diatas daun sirih berisi pamor, buah pinang lima biji, berisi buah-buahan dan jajan.
Baca Juga: Hendak Buang Air Kecil, Pria di Klungkung Temukan Sesosok Mayat Terkubur Lumpur
Bakulan, ini berisi beras, uang kepeng 25 keping diatasnya berisi daun pisang, kemudian berisi daun sirih sepuluh pucuk diikat dengan tali bambu, diatasnya berisi daun sirih yang berisi pamor dan buah pinang lima biji berisi buah-buahan dan jajan. Bakulan ini dipercaya berfungsi sebagai simbol daftar hadir dari bhatara yang di undang.
Uang Kepeng, ini sarana yang paling banyak digunakan, uang kepeng ini berjumlah tujuh ikat. Uang kepeng ini dipercaya memiliki fungsi sebagai tangga menuju tujuh lapisan tanah.
Nasi bayuan, nasi bayuan merupakan nasi yang berisi ayam yang di rebus kemudian diisi beragam lawar, yang merupakan bentuk persembahan untuk ibu pertiwi.
Nasi bayuan nantinya akan dimakan oleh pemilik rumah sebagai simbol bahwa sesuguhan tersebut sudah diterima oleh ibu pertiwi. Sarana ini nantinya juga bisa dilungsur atau bisa dinikmati oleh pemiliknya.
Berbeda dengan mecaru yang mana semua sarananya harus di lebar (dibuang) ke perempatan jalan sebagai simbol membuang sial. (dik)
Editor : I Putu Mardika