Kolaborasi dengan Pemerintahan Desa Taro, Kemenag Gianyar Isi Pembinaan Pemangku

Putu Agus Adegrantika • Dipublikasikan Kamis, 5 Desember 2024 | 19:01 WIB
PEMANGKU : Pelaksanaan pembinaan pemangku di Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Gianyar, Rabu (4/12).
PEMANGKU : Pelaksanaan pembinaan pemangku di Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Gianyar, Rabu (4/12).

BALIEXPRESS.ID -  Pembinaan pemangku di Desa Taro, Kecamatan Tegallalang dilaksanakan pada Rabu (4/12). Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Pemerintah Desa Taro serangkaian Porsenides Taro Tahun 2024.

Dalam pembinaan tersebut diikuti oleh para pemangku yang ada di 14 desa adat desa setempat. Narasumber dalam pelaksanaan pembinaan itu  diisi oleh Penyuluh Agama Hindu, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gianyar, Dewa Nyoman Arsana, dan Ida Bagus Putu Wiadnyana Manuaba.

Diungkapkan di Bali, Mangku adalah orang yang dianggap suci dan memiliki peran penting dalam memimpin ritual dan upacara agama.

Mereka bertugas memimpin ibadah, memberikan bimbingan spiritual, serta menjaga kesucian tempat ibadah dan masyarakat.

“Secara umum, dalam Hindu, orang suci bukan hanya mereka yang memiliki pengetahuan agama yang dalam, tetapi juga mereka yang telah mencapai pencerahan atau kesucian melalui disiplin spiritual, pengendalian diri, dan pengabdian yang tulus kepada Tuhan,” jelas Dewa Arsana.

Dijelaskan juga terkait sesana kepemangkuan dalam Hindu. Khususnya dalam tradisi Bali, merujuk pada aturan atau ketentuan yang mengatur jabatan mangku (pendeta) serta pelaksanaan tugas-tugas keagamaan yang berkaitan dengan agama Hindu.

Kepemangkuan adalah sistem jabatan bagi seorang mangku, yang bertanggung jawab atas kegiatan keagamaan di pura (tempat ibadah), serta pelaksanaan upacara dan ritual penting dalam masyarakat Hindu Bali.

Secara umum, sesana kepemangkuan mengatur kewajiban dan tugas mangku. Mangku bertugas untuk memimpin ritual dan upacara keagamaan, memberikan petunjuk spiritual kepada umat, serta menjaga kesucian tempat ibadah.

Beberapa tugas utama mangku adalah memimpin Puja (upacara sembahyang) di pura, baik yang bersifat rutin maupun upacara besar.  Memberikan bimbingan kepada umat tentang tata cara ibadah, terutama dalam hal persembahan (banten) dan doa. Memelihara kesucian dan keamanan pura serta fasilitas keagamaan lainnya.

Sementara Ida Bagus Manuaba menyampaikan persyaratan calon mangku adalah setiap calon mangku diharapkan memiliki kualifikasi tertentu.

Mulai dari pendidikan agama, calon mangku biasanya harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang ajaran agama Hindu, termasuk teks-teks suci seperti Veda, Upanishad, dan Bhagavad Gita.

Baca Juga: Kunjungi Kanwil BPN Provinsi Sulteng, Wamen ATR/Waka BPN Sampaikan Solusi Percepatan Layanan Pertanahan

“Secara keturunan, dalam beberapa kasus, menjadi mangku bisa diwariskan, terutama dalam keluarga-keluarga yang memiliki tradisi keagamaan yang kuat. Namun, tidak selalu demikian, karena orang dari berbagai latar belakang bisa menjadi mangku berdasarkan pengetahuan dan kesucian mereka,” papar Ida Bagus Manuaba.

Selanjutnya calon mangku harus menjalani kehidupan yang murni dan bersih, serta menjalankan ajaran Dharma dengan benar. Ini mencakup pengendalian diri, tidak melakukan perbuatan tercela, dan memiliki niat tulus dalam melayani Tuhan dan umat.

Dalam kesempatan itu diungkapkan terdapat berbagai jenis mangku dalam struktur keagamaan Bali, berdasarkan kedudukan dan tanggung jawabnya.

Secara etika mangku harus menjaga moralitas dan etika yang tinggi dalam menjalankan tugasnya. Beberapa prinsip yang harus dijaga adalah kesucian. Mangku harus menjalani kehidupan yang suci dan tidak terikat pada duniawi.

Kedua ada tanggung jawab spiritual, Mangku harus menyadari bahwa tugas mereka adalah untuk mendekatkan umat kepada Tuhan dan menjaga keseimbangan spiritual di masyarakat.

Ketiga ada keteladanan, Mangku harus menjadi teladan dalam hidup yang penuh dengan disiplin, kesabaran, dan kebijaksanaan.

Dengan adanya sesana kepemangkuan, sistem keagamaan Hindu Bali terstruktur dengan jelas, yang memastikan bahwa setiap upacara dan ritual keagamaan dijalankan dengan penuh kesucian dan sesuai dengan ajaran agama.

“Tugas mangku tidak hanya sebatas ritual, tetapi juga mencakup bimbingan spiritual dan pemeliharaan hubungan harmonis antara umat dan Tuhan,” pungkas Ida Bagus Manuaba. *

 

Editor : Putu Agus Adegrantika
Sumber : Berbagai Sumber
pemangku desa taro