BALIEXPRESS.ID – Pernahkah Anda merasakan pengalaman De Javu? Fenomena di mana Anda merasa sangat familiar dengan tempat yang baru pertama kali dikunjungi atau seseorang yang baru dikenal.
Dalam ajaran Hindu, peristiwa ini sering dikaitkan dengan konsep Punarbhawa atau reinkarnasi.
Benarkah De Javu adalah memori kehidupan masa lampau?
De Javu: Perspektif Ilmiah dan Spiritualitas
Secara ilmiah, De Javu berasal dari bahasa Yunani yang berarti “ingatan.” Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Acharya Nanda menjelaskan bahwa De Javu terjadi akibat gelombang alpha yang dihantarkan ke otak dalam jangka waktu tertentu.
Gelombang ini berbentuk aliran listrik yang dibaca otak secara otomatis. Namun, dalam ajaran Hindu, De Javu dipercaya sebagai memori dari kehidupan sebelumnya.
“Kita di Hindu sangat percaya dengan Punarbhawa atau reinkarnasi. Atman yang bereinkarnasi membawa memori tertentu dari kehidupan lampau yang dianggap berharga. Ketika bertemu dengan faktor pemicu, ingatan tersebut muncul sebagai De Javu,” jelasnya kepada Bali Express.
Punarbhawa dan Hubungannya dengan De Javu
Punarbhawa, yang berasal dari kata Punar (lagi) dan Bhawa (terlahir), berarti kelahiran kembali.
Menurut Ida Pandita, Atman yang telah mengalami reinkarnasi berkali-kali membawa karma dan memori tertentu.
“Tidak semua ingatan muncul, tetapi memori yang dianggap penting atau berharga bisa muncul ketika ada pemicu, seperti tempat atau orang tertentu,” tambahnya.
Ia juga menjelaskan bahwa memori bawah sadar manusia sangat terbatas dan hanya akan aktif jika ada faktor tertentu.
“Manusia memiliki kapasitas memori sekitar 1 petabyte, setara dengan 10 juta gigabyte. Ketika ingatan bawah sadar terpicu, biasanya hanya sebagian kecil dari kejadian masa lalu yang muncul,” jelasnya.
De Javu dalam Perspektif Kitab Suci
Fenomena ini juga dijelaskan dalam kitab suci Hindu, seperti Garbha Upanisad. Dalam kitab tersebut, disebutkan bahwa bayi dalam kandungan hingga usia sembilan bulan masih membawa memori kehidupan lampau.
Memori ini berfungsi sebagai intuisi yang menuntun kehidupannya sesuai karma.
“Intuisi ini bagian dari karma phala, atau buah perbuatan yang akan menentukan jalan hidup seseorang di kehidupan mendatang. De Javu adalah salah satu manifestasi dari intuisi itu,” jelas Ida Pandita.
Pelepasan dan Kelahiran Kembali
Dalam proses reinkarnasi, Atman yang meninggalkan Stula Sarira (badan kasar) akan menuju Surga atau Neraka sesuai karma. Setelah waktu tertentu, Atman akan terlahir kembali sebagai bagian dari siklus Punarbhawa.
“Bayi yang baru lahir umumnya membawa memori masa lalunya secara utuh, meskipun seiring waktu, memori ini tersimpan dalam bawah sadar,” ungkap Ida Pandita.
Pesan Penting dari De Javu
Fenomena De Javu bukan sekadar pengalaman biasa, tetapi menjadi pengingat akan siklus kehidupan dan karma.
“Ini adalah bukti kecil dari perjalanan spiritual Atman. De Javu mengingatkan kita untuk terus berbuat baik, karena setiap perbuatan akan kembali kepada diri kita dalam bentuk karma phala,” tandasnya.
Dengan memahami De Javu dari perspektif ilmiah dan spiritual, kita dapat lebih menghargai perjalanan hidup yang kita jalani.
Setiap pengalaman, baik di masa lalu maupun masa kini, adalah bagian dari siklus yang lebih besar dalam kehidupan. ***
Editor : I Putu Suyatra