BALIEXPRES.ID - Pasraman Bali Prawerti Nawasena yang beralamat di Banjar Jasri, Desa Belega, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar saat ini tengah getol melakukan pendidikan karakter kepada anak-anak di desa setempat. Mulai dari peningkatan secara pengetahuan, maupun praktek.
Pembina Yayasan Bali Prawerti Nawasena, I Nyoman Agus Widhiana, yang didampingi ketua pasraman, I Kadek Widiana, menjelaskan pasaraman tersebut dibangun pada tahun 2020 lalu. Sampai saat ini lokasi pasraman yang ada di tempat jauh dari keramaian aktif dimanfaatkan oleh para tokoh masyarakat, agama, maupun seniman untuk melakukan kegiatan.
Terlebih areal tersebut merupakan lahan pribadi pembina pasraman yang digunakan untuk kepentingan umum, dan tanpa dipungut biaya alias gratis.
“Namun dalam proses pembangunannya kami melibatkan masyarakat, sampai dipergunakan untuk masyarakat juga. Bangunannya juga style Desa Belega yang semuanya berbahan dari bambu sebagai ciri khasnya,” jelas Nyoman Agus Wdihiana, Minggu (8/12).
Seperti kegiatan yang dilaksanakan pada Minggu kemarin, merangkul anak-anak tingkat sekolah dasar di desa setempat untuk pengenalan lingkungan. Mereka diajak bersih- bersih di sekitar sungai, selanjutnya diberikan pemahaman terkait penanganan sampah. Hal itu pun erat kaitannya dengan ajaran agama Hindu, khususnya Tri Hita Karana, dalam menjaga hubungan yang baik manusia dengan alam lingkungan.
Pada umumnya pasraman adalah lembaga pendidikan atau tempat pembelajaran dalam tradisi Hindu, khususnya di Bali. Pasraman biasanya berfokus pada pengajaran ajaran agama Hindu, termasuk tentang kitab suci, ritual, filosofi, dan praktik kehidupan sehari-hari yang sesuai dengan ajaran Hindu.
Sementara Ketua Yayasan Bali Prawerti Nawasena, Ni Luh Ketut Adriani, menyampaikan kegiatan yang dilaksanakan di sana sering kolaborasi dengan komunitas maupun stakeholder terkait yang ada di Kabupaten Gianyar.
“Kalau nama Nawasena sendiri kita ambil dari bahasa sansekerta yang berarti masa depan yang cerah,” jelas Ketut Adriani.
Yayasan Bali Prawerti Nawasena merupakan sebuah wadah pendidikan non-formal yang dibentuk sebagai sebuah tempat untuk memberikan pendidikan usia dini bagi anak-anak untuk mempelajari Agama, adat, tradisi dan budaya. Serta diharapkan melalui media ini bisa melahirkan generasi yang cerdas.
“Serta berbudi pekerti yang luhur dengan memegang teguh prinsip-prinsip keyakinan dalam beragama sebagai landasan dalam kehidupan sebagai individu, maupun dalam peranan sebagai makhluk sosial,” jelasnya.
Disinggung terkait nama yayasan yang isi Prawerti, disebutkan adalah istilah dalam bahasa Bali yang merujuk pada seorang wanita yang baru saja memasuki masa dewasa atau yang telah mencapai usia tertentu, biasanya setelah menjalani upacara adat tertentu.
Dalam konteks agama Hindu di Bali, prawerti sering kali digunakan untuk menyebut seorang perempuan yang sudah mencapai kedewasaan fisik dan spiritual, yang siap untuk menjalani kehidupan dalam tahap yang lebih serius. Seperti pernikahan atau melaksanakan tanggung jawab sosial dan agama.
Prawerti juga bisa digunakan dalam berbagai konteks sosial atau budaya lainnya, bergantung pada adat dan tradisi lokal yang berlaku.
Sedangkan Nawasena adalah istilah dalam bahasa Bali yang merujuk pada suatu konsep atau prinsip yang sangat penting dalam ajaran Hindu Bali. Secara harfiah, nawa berarti sembilan dan sena berarti kekuatan atau kekuatan yang berhubungan dengan aspek spiritual.
Sehingga Nawasena mengandung berbagai nilai kehidupan yang mencakup perilaku, etika, dan prinsip moral yang dijadikan pedoman hidup. Prinsip-prinsip tersebut mengarahkan umat untuk hidup selaras dengan alam, menjaga hubungan harmonis dengan sesama, dan bertanggung jawab dalam menjalankan ajaran agama.
Editor : Putu Agus Adegrantika