BALIEXPRESS.ID – Di tengah kekayaan tradisi Hindu Bali yang sarat makna, terdapat sebuah ritual unik bernama Masakapan ke Pasih.
Tradisi Hindu Bali ini dilakukan sebagai upaya penebusan "kapiutangan" atau utang karma yang dibawa oleh Sang Atman dari kehidupan sebelumnya.
Ritual ini tak hanya menarik dari sisi spiritual, tetapi juga menyimpan nilai filosofis yang mendalam.
Mengurai Kapiutangan Sang Atman
Dalam kepercayaan Hindu, konsep Punarbhawa atau reinkarnasi menjelaskan bahwa kehidupan seseorang saat ini merupakan hasil dari karma di masa lalu.
Tokoh Hindu Bali, Pinandita Pasek Swastika, menjelaskan bahwa ada tiga jenis hasil karma atau Karmaphala:
1. Sancita Karmaphala
Karma yang belum selesai dinikmati dan terbawa ke kehidupan saat ini.
Misalnya, di masa lalu seseorang melakukan perbuatan buruk seperti korupsi namun belum menerima akibatnya, sehingga hasilnya dinikmati di kehidupan sekarang.
2. Prarabdha Karmaphala
Karma yang buahnya langsung dinikmati dalam kehidupan saat ini. Contohnya, seseorang yang korupsi dan langsung tertangkap lalu dihukum.
3. Kriyamana Karmaphala
Karma yang baru akan dinikmati di kehidupan mendatang, baik berupa kebahagiaan maupun penderitaan tergantung perbuatannya saat ini.
Perilaku yang Mengundang Tanda Tanya
Kasus anak yang sangat nakal atau berperilaku di luar kewajaran sering kali dikaitkan dengan kapiutangan yang belum tertebus.
Bahkan, dalam kasus tertentu, anak-anak tersebut bisa melakukan tindakan ekstrem seperti mencuri, melukai orang lain, hingga membangkang terhadap keluarga.
Hal serupa juga terjadi pada orang dewasa yang merasa selalu tidak beruntung atau kerap gagal dalam setiap usaha yang dilakukan.
Namun, Pinandita Pasek Swastika menegaskan, tidak semua anak nakal atau orang yang mengalami kesialan berarti memiliki kapiutangan.
Untuk memastikannya, diperlukan proses malausin, yaitu bertanya kepada orang pintar atau pemangku yang memahami karma.
Prosesi Masakapan ke Pasih
Jika diyakini seseorang membawa kapiutangan, maka ritual Masakapan ke Pasih bisa dilaksanakan.
Upacara ini biasanya dilakukan di laut atau sungai sebagai tempat pelepasan energi negatif. Tahapan prosesi meliputi:
1. Penghaturan Banten Penebusan
Sang numadi (orang yang menjalani ritual) mempersembahkan banten penebusan di lokasi prosesi. Laut atau sungai dipilih karena dipercaya sebagai tempat melebur kekotoran diri.
2. Proses Ngangkid
Sang numadi mengambil benda seperti batu, kerang, atau kayu dari lokasi prosesi sebagai simbol pengambilan karma baik Sang Atman.
3. Pelepasan Jukung
Sebuah perahu kecil (jukung) dengan hiasan bulu ayam atau layar dilepaskan ke laut. Jukung ini melambangkan pelepasan karma buruk yang masih melekat pada Sang Atman.
“Karma baik kita ambil, sedangkan karma buruk kita lepaskan ke laut,” jelas Pinandita Pasek Swastika.
Makna Filosofis Masakapan ke Pasih
Menurut lontar Batur Kawisesan, tradisi ini berakar pada ajaran bahwa laut adalah tempat melebur segala kekotoran dan kejahatan. Sloka dalam lontar menyebutkan:
"Ring segara tanah melebur sarwamala papa gekeh leteh."
Ritual Masakapan ke Pasih dianggap sebagai bentuk penghormatan dan bhakti kepada Tuhan, serta sebagai upaya penyatuan sempurna antara raga dengan Atman yang bereinkarnasi.
“Masakapan artinya penyatuan, yaitu penyatuan Atman yang bereinkarnasi dengan raga baru dalam kehidupan ini,” terang Pinandita Pasek Swastika.
Tradisi yang Langka dan Sarat Makna
Menariknya, prosesi Masakapan ke Pasih hanya ditemukan di beberapa wilayah Bali, seperti Badung dan Denpasar.
Tradisi ini menjadi salah satu kekayaan budaya Bali yang tidak hanya memperkuat identitas spiritual masyarakatnya tetapi juga menyampaikan pesan moral yang mendalam.
Bagi Anda yang ingin mengetahui lebih dalam tentang tradisi unik ini, datanglah ke Bali dan saksikan bagaimana nilai-nilai spiritual diwujudkan dalam ritual yang begitu memikat.
Sebuah warisan yang mengingatkan kita bahwa setiap perbuatan pasti memiliki konsekuensi, baik di kehidupan ini maupun selanjutnya. ***
Editor : I Putu Suyatra