Gending Nyapa Manda Tengahing Dalu ini dinyanyikan oleh Jero Kubayan di Alang Beten pada jam dua belas malam atau tengah malam. Gending ini sangat sakral maka dari itu sebagai bukti jika upacara ini berjalan lancar adalah munculnya unén-unén duwé seperti kijang, harimau, macan, serta ketika berlangsungnya tradisi magoak-goakan tidak ada keributan dan kegaduhan sepanjang tradisi dilaksanakan.
Pada saat Ngusaba Dalem Pingit ini masyarakat Kintamani melaksanakan persembahyangan dan menghaturkan bakti/banten seikhlasnya di Pura Dalem Pingit sebagai wujud rasa syukur dan menyambut Nyepi Desa besok harinya.
Setelah selesai pelaksaksanaan persembahyangan di Pura Dalem Pingit upacara akan dilanjutkan di Alang Beten yaitu menyanyikan Gending Nyapa Manda Tengahing Dalu tepat pada tengah malam.
Jero Kubayan Armadi menjelaskan ketika upacara berlangsung masyrakat yang ikut serta dalam upacara tidak diperkenankan menghidupkan lampu/cahaya dan menyuarakan bunyi-bunyian.
“Dari dulu samoai sekarang yang boleh menyanyikan Gending Nyapa Manda Tengahing Dalu ini adalah Jero Kubayan,” ungkapnya.
Baca Juga: VIRAL Pria Bandung Ditusuk di depan Monumen Bom Bali Kuta
Jero Kubayan ini mempunyai tugas dalam menyanyikan Gending Nyapa Manda Tengahing Dalu karena beliau sudah melaksanakan upacara mekelaci. Upacara mekelaci adalah upacara yang menggunakan sapi bercula.
Upacara mekelaci ini adalah upacara yang sama dengan upacara mapugala atau setara dengan upacara dwi jati. Karena itu masyarakat tidak bisa menyanyikan gending ini ketika belum naik atau melaksanakan upacara mekelaci.
Ia menambahkan, Gending ini sudah diwariskan oleh leluhur oleh karena itu masyarakat harus tahu sejarah, lirik, sarana prasarana, tempat dan waktu gending ini dinyanyikan.
Upacara ini dilaksanakan dipertengahan bulan Februari-Maret hal ini sudah diatur sesuai dengan awig-awig Desa Adat Kintamani.
Masyarakat Desa Adat Kintamani menghaturkan sembah bakti di sanggah sanga di Pura Bale Agung Desa Adat Kintamani, setelah itu baru akan dilaksanakan upacara di Pura Dalem Pingit Desa Adat Kintamani.
“Upacara Ngusaba Dalem Pingit ini dimulai dari Pasangkepan Ngliwon di pura Bale Agung Desa Adat Kintamani yang dilaksanakan dari sasih kawulu sampai sasih kasanga sampai mendekati upacara di pura Dalem Pingit,” katanya.
Pasangkepan ini dilaksanakan sebanyak lima kali. Ketika Pasangkepan Ngliwon ini dilaksanakan ada masyarakat Desa yang tidak ikut serta kecuali sakit akan dikenakan denda berupa tuwak acééng
Ketika upacara ini akan ditancapkan Sanggah Sanga sebagai peringatan Mosa atau Ngusaba Dalem Pingit sudah dekat.
Ketika pasangkepan pertama ini masyarakat akan melaksanakan kegiatan mepengarah atau menyebarkan informasi (pidato) kepada masyarakat Desa Adat Kintamani menginformasikan bahwa mosa sudah dekat dan sudah dilaksanakan yasa kerthi atau ngeker bulan atau melaksanakan pantangan.
Ngeker bulan adalah batasan batasan masyarakat Desa Adat Kintamani tidak boleh menginap di luar desa, tidak boleh menerima tamu luar desa, tidak boleh menginapkan tamu. Tidak boleh menyembelih hewan, tidak boleh berjualan daging, tidak boleh melakukan upacara berkaitan dengan upacara Manusa Yadnya, Dewa Yadnya dan Pitra Yadnya.
Dalam pasangkepan ini juga akan membahas terkait tuwak. Upacara ini dilaksanakan di pura Bale Agung Desa Adat Kintamani.
Setelah melaksanakan pasangkepan masyarakat akan menunggu ngeliwon berikutnya, disana akan dilaksanakan pasangkepan yang kedua mengenai pembahasan upacara sanganan emping atau nyah nyah godem.
Pasangkepan ini juga dilaksanakan di Pura Bale Agung Desa Adat Kintamani. Sama seperti sebelumnya masyarakat Desa Adat Kintamani akan menunggu ngeliwon berikutnya untuk melaksanakan pasangkepan.
Proses terus berlanjut. Pada pasangkepan yang ketiga dan pasangkepan keempat akan membahas terkait tuwak dan sanganan emping, upacara ini juga dilaksanakan di Pura Bale Agung Desa Adat Kintamani. Ketika ngeliwon berikutnya atau ngeliwon yang kelima masyarakat Desa akan membahas mengenai upacara ngidang.
Baca Juga: Kisah Inspiratif Eka Dyan: Merintis Kesuksesan Bisnis dari Nol Dua Kali di Usia Muda
Jero Kubayan Armadi menjelaskan Upacara ngidang merupakan upacara menggunakan sarana berupa hewan kidang. Dalam upacara ini juga ada upacara nyahnyah atau menyanggrai emping atau nyahnyah geringsing dan menancapkan sanggah sanga sebagai simbol bahwa upacara dimulai.
Setelah selesai upacara di pura Bale Agung maka akan dilanjutkan upacara persembahyangan di pura Dalem Pingit oleh masyarakat Desa Adat Kintamani. Di Pura ini akan dilaksanakan prosesi ngerempah Sapi yang bertempat di jaba pura Dalem apingit Desa Adat Kintamani, itu juga akan dilaksanakan upacara ngangsah yang dilakukan di song apit pura.
“Disaat upacara ngangsah salah satu masyarakat Desa atau Jero Peduluan salah berkata maka akan dikenakan denda berupa tuwak acééng,” katanya.
Setelah upacara di pura Dalem Pingit selesai maka akan dilanjutkan upacara di Alang Beten yaitu menyanyikan Gending Nyapa Manda Tengahing Dalu oleh Jero Kubayan pada waktu tengah malam.
Setelah upacara di Alang Beten ini selesai maka masyarakat Desa Adat Kintamani akan menancapkan Sawén sebagai petanda bahwa upacara Nyepi Desa sudah dimulai.
“Ketika Nyepi Desa masyarakat akan melaksanakan catur brata penyepian yaitu amati geni, amati karya, amati lelungan, amati lelanguan,” ungkapnya
Serta masyarakat Desa Adat Kintamani juga akan menjalankan tradisi Magoak-Goakan sebagai ciri bersenang-senang setelah melaksanakan Yasa Kerthi, tradisi Magoak-Goakan ini juga bisa dikatakan sebagai sarana untuk mempererat tali persaudaran antar masyarakat Desa Adat Kintamani.
Sebagai pengiring suara dalam Gending Nyapa Manda Tengahing Dalu ini tentunya ada sarana pengiring salah satunya berupa terompet, masyarakat Kintamani menyebutnya dengan sebutan Sunggu.
Jero Kubayan Armadi Sunggu ini berasal dari cangkang atau kulit kerang namun sunggu ini bukan terompet biasa, sunggu ini merupakan paica (berkat) dari tuhan yang sudah ada sejak zaman dahulu kala. Selain Sunggu juga ada Bajra Dewa, sama halnya dengan Sunggu Bajra Dewa juga merupakan paica atau berkat dari tuhan yang sudah ada sejak zaman dahulu.
Selain Bajra Dewa dan Sunggu sebagai sarana pengiring lainnya juga ada yang dinamakan Taru Sakti (pohon dadap). Taru Sakti ini sebagai simbol keseimbangan Tri Hita Karana dan Rwa Bhineda. Banyaknya jumlah Taru Sakti ini adalah dua buah yaitu satu buah taru sakti yang bercabang dua dan yang satu lagi harus bercabang tiga.
Jika Taru Sakti ini tidak didapatkan maka upacara tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya. Selain Taru sakti juga ada sarana lain yaitu Sanggah Sanga. Sesuai dengan namanya yaitu sanga yang artinya sembilan, maka Sanggah Sanga ini merupakan simbol waktu pelaksanaan Ngusaba Dalem Pingit yaitu di bulan kesembilan masehi yaitu antara dipertengahan bulan februari-maret.
“Sanggah Sanga ini sebagai tempat meletakan sesajen atau bakti masyarakat Desa Adat Kintamani saat melaksanakan persembahyangan, Sanggah sanga ini terbuat dari pohon bambu dan dihiasi oleh daun plawa, daun tlujungan, ambu, dan sujang,” katanya.
Selain beberapa sarana pengiring yang sudah dijelaskan diatas, secara garis besar setiap upacara di Bali tentu saja tidak dapat dilepaskan dari bakti/banten. Sama halnya dalam upacara Ngusaba Dalem Pingit Desa Adat Kintamani ini tentu menggunakan pengiring banten/bakti.
Banten maupun bakti yang dipakai seperti bakti Bangun Ayu, bakti ini berasal dari daging sapi yang disembelih ketika pembuatan pelinggih di pura Dalem Pingit.
Selain itu juga ada bakti Pulung Rai yang berasal dari beras merah Pulung Rai ini disimbolkan bakti panyineb yang diletakan di atas Sanggah sanga sebagai simbol bahwa upacara sudah dipuncak atau pengujung. Selain itu bakti tersebut upacara ini juga diiringi beberapa bakti-bakti pelengkap lainnya.
Untuk dinding dari pelinggih itu dibawa oleh kelian banjar berupa bedég tiing atau berasal dari pohon bambu, dan untuk atapnya dibawa oleh krama Desa Adat Kintamani. “Pelinggih ini dibuat dan harus selesai dalam waktu satu hari,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika