Tradisi ini dinamakan magelang-gelang, yang berasal dari kata "nemugelang," mengacu pada bulan purnama berbentuk melingkar seperti gelang.
Filosofi ini mencerminkan harapan untuk menemukan kesepakatan dalam komunitas desa, seperti lingkaran bulan yang utuh.
Perbekel Desa Alasangker, Wayan Sitama menjelaskan Ritual magelang-gelang dilaksanakan di bale panjang di Jaba Tengah Pura Bale Agung.
Bale panjang, terbuat dari kayu jati berusia ratusan tahun, diyakini sebagai tempat masandegan (tempat singgah) leluhur dan dewa-dewa yang disungsung.
“Bentuknya yang panjang memungkinkan seluruh krama desa untuk berkumpul dengan kesabaran dan pikiran panjang selama rapat desa,” jelasnya.
Sarana unik dalam ritual ini meliputi bungan desa yang dibuat dari kojong kewangen, dihiasi bunga japun, base, daun intaran, serta cane (kapur sirih) dalam wadah daun pisang.
Simbol-simbol ini mencerminkan harmoni dengan alam dan niat tulus masyarakat.
Ritual dimulai dengan piuning atau persembahyangan bersama di jeroan Pura Bale Agung.
Seluruh krama desa mengenakan kamen, nyelit, dan keris tanpa baju, melambangkan kesederhanaan dan kerendahan hati. Piuning dipimpin oleh Jro Mangku, dengan persembahan berupa tegteg daksina, canang sari, dan bungan desa.
Pada hari pertama, dilaksanakan paruman atau rapat bulanan yang dipimpin oleh Kelian Desa Adat. Seluruh prajuru desa duduk di bale panjang, sedangkan krama desa duduk di bawah.
Rapat membahas berbagai isu seperti keuangan desa, perbaikan pura, hingga masalah sosial. Tradisi ini mengutamakan transparansi dan keterbukaan dalam diskusi.
Setelah laporan dari Kelian Desa Adat, masyarakat diberi kesempatan untuk memberikan kritik dan saran.
Baca Juga: DPRD Tabanan Sebut Kebijakan Moratorium Hotel Masih Perlu Dikaji
Prinsip utama yang dipegang adalah menjaga harmoni tanpa adanya perselisihan. Semua pendapat diarahkan untuk mencapai kesepakatan bersama atau namugelang.
Hari kedua dimulai dengan kegiatan paebatan atau memasak bersama. Krama desa mengolah daging babi menjadi berbagai hidangan tradisional seperti lawar, komoh, dan gecok. Tradisi mebat atau memasak ini mencerminkan spirit ngayah yang kuat.
Usai memasak, masyarakat melaksanakan persembahyangan bersama dengan sarana tambahan berupa ebatan yang sebelumnya telah dimasak. Setelah itu, acara diakhiri dengan magibung atau makan bersama, sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.
Kelancaran tradisi ini tidak terlepas dari peran berbagai pihak. Jro Mangku memimpin persembahyangan, sementara Kelian Desa Adat memimpin rapat. Para prajuru desa adat mencatat hasil diskusi dan memastikan ritual berjalan lancar.
“Tradisi ini melibatkan semua lapisan masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan. Peran aktif komunitas dalam setiap tahapan menunjukkan kekuatan sosial yang terjalin erat di Desa Adat Alasangker,” katanya/
Meskipun tidak ada catatan tertulis tentang asal-usul magelang-gelang, masyarakat Alasangker meyakini pentingnya tradisi ini sebagai warisan leluhur. Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi ini tetap relevan dan dipertahankan hingga sekarang.
Pelaksanaan ritual ini dilakukan setiap bulan purnama, menekankan keteraturan dan keterkaitan dengan siklus alam.
Lokasi di bale panjang dipilih untuk memfasilitasi semua peserta dengan tetap menjaga kesakralannya.
Sebagai bagian dari upacara keagamaan, magelang-gelang tidak hanya berfungsi sebagai forum diskusi, tetapi juga sebagai sarana mendekatkan diri kepada Sang Hyang Widhi Wasa. Ritual ini menyeimbangkan kebutuhan spiritual dan sosial masyarakat.
Selain makna sosial, tradisi ini juga memiliki simbolisme mendalam. Bulan purnama melambangkan keutuhan, sementara persembahan dan sarana ritual mencerminkan hubungan manusia dengan alam.
“Peserta magelang gelang diharapkan untuk menunjukkan kesabaran, terutama selama paruman. Prinsip ini diterjemahkan melalui bentuk bale panjang dan pelaksanaan ritual yang terstruktur,” ungkapnya.
Tradisi ini menjadi identitas kuat bagi Desa Adat Alasangker, memperkuat solidaritas antarwarga dan membangun kebanggaan terhadap budaya lokal.
Melalui tradisi ini, generasi muda diajarkan nilai-nilai luhur seperti gotong royong, kedisiplinan, dan rasa hormat terhadap leluhur. Upaya pelestarian terus dilakukan agar tradisi ini tidak punah.
Meski terus dilaksanakan, magelang-gelang menghadapi tantangan modernisasi. Diperlukan dokumentasi tertulis dan dukungan pemerintah untuk menjamin keberlangsungan tradisi ini di masa depan.
“Tradisi magelang-gelang adalah bukti bahwa masyarakat Desa Adat Alasangker tetap menjaga warisan budaya dengan sepenuh hati, menjadikannya sebagai pusaka tak ternilai yang layak dilestarikan,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika