BALIEXPRESS.ID - Bagi para penekun spiritual di Buleleng, Bali, nama Pura Taman Sari tentu sudah tak asing lagi.
Berlokasi di Lingkungan Taman Sari, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Buleleng, tempat suci Hindu Bali, ini memiliki sejarah unik yang jarang diketahui banyak orang.
Siapa sangka, pura yang juga dikenal sebagai Pura Pancasila dan dianggap "bares" (pemurah) ini ternyata didirikan oleh seorang pedagang asal Tiongkok sekitar dua abad silam.
Awal Mula Berdirinya Pura
Menurut Tokoh Adat Pura Taman Sari, Drs. Anak Agung Gede Ngurah, M.Si, pura ini awalnya bernama Pura Gerojogan, merujuk pada keberadaan mata air deras di kawasan pura yang terletak di tepi pantai.
Kisah pendirian pura ini dimulai pada tahun 1801, saat sebuah perahu dagang dari Tiongkok berlabuh di dekat Pelabuhan Buleleng.
Para pedagang yang hendak mengambil air dari mata air di bawah pohon besar mengalami kejadian aneh: perahu mereka tiba-tiba kandas dan tak bisa berlayar.
Meski berbagai upaya dilakukan, termasuk meminta bantuan penduduk setempat, perahu itu tetap tak bergerak selama tiga hari.
Merasa putus asa, awak kapal memutuskan untuk melakukan ritual semadi di bawah pohon besar di area Pura Gerojogan.
Ajaibnya, setelah semadi, perahu mereka kembali bisa berlayar.
Hadiah dari Pedagang Tiongkok
Sebulan setelah kejadian tersebut, para pedagang Tiongkok kembali lagi ke Buleleng.
Sebagai bentuk rasa syukur, mereka membangun sebuah palinggih berbentuk stupa di pura tersebut.
Palinggih inilah yang kemudian menjadi cikal bakal stana Ratu Dewa Ayu Sarining Amerta, yang hingga kini menjadi pusat pemujaan di Pura Taman Sari.
Keajaiban dan Perubahan Nama
Seiring waktu, pura ini semakin dikenal masyarakat karena diyakini memberikan keberkahan bagi pemedek yang memohon berbagai hal, seperti pekerjaan, jabatan, jodoh, keturunan, hingga kesehatan.
Popularitas pura ini makin meningkat setelah pada tahun 1960, almarhum I Nyoman Kuta, seorang anggota organisasi seni bela diri Bakti Negara, bersemedi di sana selama 11 hari.
Ritual semedi itu konon berhasil mengabulkan semua niatnya.
Sebagai wujud rasa syukur, pura ini pun dipugar oleh anggota Bakti Negara.
Pemugaran ini sekaligus menjadi awal perubahan nama Pura Gerojogan menjadi Pura Taman Sari, yang kini memiliki 33 palinggih.
Destinasi Spiritualitas dan Sejarah yang Memikat
Dengan sejarah unik yang menghubungkan pedagang Tiongkok, keajaiban spiritual, dan kontribusi komunitas lokal, Pura Taman Sari tak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga daya tarik sejarah dan budaya.
Pura ini terus ramai dikunjungi oleh pemedek yang ingin merasakan langsung berkah dari pura yang penuh misteri ini. ***
Editor : I Putu Suyatra