Pada Catur Wara terdapat empat Wara yang memberikan adanya pengaruh pada watak kelahiran. Diantaranya Shri, Laba, Jaya dan Mandala.
Catur wara Sri terhubung dengan penglihatan (mata) mendapat anugrah pada Amertha. Laba terhubung dengan pendengaran (telinga) mendapatkan anugrah pada Bayu atau kekuatan. Jaya kemudian terhubung dengan pernafasan (hidung) mendapatkan anugrah pada angin.
Kemudian wara Menala terhubung dengan muka atau wajah, mendapatakan anugrah pada area badan. Dapat diuraikan berikut ini. Pertama yakni Sri, pada Catur Wara ini dinamakan dengan Shri.
Dosen Wariga STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Made Gami Sandi Untara, M.Fil.H menjelaskan, menurut Alih Aksara Lontar Wawatekan Wawaran, memberikan keterangan “Sri, sneng ngajum, santi miwah bresih". Dapat dimaknai kelahiran orang Sri senang sekali memuji orang lain, berwatak damai, dan menyukai kebersihan.
Lebih lanjut dikatakan Gami, pada Shri tabiatnya cerdas dan memiliki banyak ide. Mereka dalam merancang sasaran programnya jarang sekali meleset.
“Sayangnya, cenderung bagaikan orang banyak minum semakin haus, orang banyak makan semakin lapar, orang banyak belajar semakin dimabukkan oleh ilmu pengetahuan, lebih pada semakin kaya akan selalu merasa kurang. Sebaiknya mereka perlu belajar ilmu pengetahuan spiritual dan pengendalian diri,” katanta.
Kedua yaitu Laba. Alih Aksara Lontar Wawatekan Wawaran, menjelaskan Labha, mdwe kayun bcik, jmet makaryya, akweh madwe bawos, tangar miwah Susila.
Watak yang lahir pada Laba ini memiliki pemikiran atau pandangan yang baik, suka bekerja keras, kadang-kadang terlalu cerewet, sifat kebiasaan waspada, serta memiliki etika dan moralitas yang baik. Kelahiran Laba (catur wara), mendapatkan pengaruh dari kekuatan Bhatara Bayu dan Bhagawan Kanwa.
“Orang yang lahir ketika Laba pada masa lalunya sebagai entertainer, sehingga pada masa sekarang mereka terlihat kemampuannya dibidang mencari teman,” imbuhnya.
Meski demikian, orang yang lahir ketika hari Laba terlihat periang sehingga banyak kelengahan atau kelalaian. Mereka cenderung berwatak ceroboh. Bahkan, mereka sangat susah mempolakan disiplin dan integritas.
“Maka sering harus digembleng oleh kehilangan, kerugian dan lain sebagainya, barulah akan disadari kelengahannya,” katanya.
Walaupun banyak kerugian, dengan pengaruh kekuatan Bhetara Bayu artinya sanggup saja menerima kehilangan dan kerugian, karena mereka berbakat untuk terus berjuang tidak pantang mundur.
Dengan tabiat mereka selalu terlihat periang mereka cenderung tidak tergiur dengan harta kemewahan, dan walau penghasilannya sedikit akan selalu merasa untung.
Ketiga Wara Jaya. Dalam Lontar Wawatekan Wawaran, dijelaskan Jaya, madwe kahyun pageh, kahanan iri, meweh manggih ledang. Dapat diartikan kelahiran Jaya memiliki komitmen yang kuat, terkadang suka iri hati, sukar mendapatkan kelegaaan.
Kelahiran Jaya mendapat pengaruh kekuatan Sanghyang Sangkara dan Bhagawan Janaka. Orang yang lahir ketika Jaya pada masa lalunya seorang prajurit atau tentara. Berakibat pada masa sekarang kemampuan mereka memajukan suatu usaha dan sebagai penggerak tenaga kerja, serta dengan semangat tinggi.
Mereka selalu tegar tidak pernah jera dengan masalah, oleh karena ada kesanggupan untuk melawan, dengan keyakinan segalanya akan bisa diatasi, walaupun sering dikalahkan oleh kelicikan orang lain, sifat hati-hati sulit dipolakan dan cenderung menganggap semuanya gampanggampang saja.
Pengaruh kekuatan Batara Sangkara artinya Dewa Kemenangan mereka cenderung dinamis dan rasa optimisnya besar sekali. Maka orang yang lahir ketika Jaya sulit menjadi orang rendah hati.
Lebih lanjut tabiatnya sangat takut kecewa bahkan cenderung ingin menang sendiri atau dalam debat selalu ingin diatas kemenangan. Dan dalam perdebatan mereka sulit mengalah. Namun kelahiran Jaya biasanya cerdas terutama kecerdasan intelektualnya secara dominan.
“Sayangnya, mereka kurang berhati-hati, kurang waspada, serta mereka cepat marah. Bagaikan suatu bahan peledak yang terbantu oleh senapan, sehingga mempercepat proses. Sebaiknya kelahiran Jaya banyak belajar tentang ilmu etika dan moralitas sehingga mereka paham sikap-sikap moral kepribadian yang kuat,” imbuhnya.
Keempat, pada catur Mandala, menurut Alih Aksara Lontar Wawatekan Wawaran, dijelaskan “Mandala, sneng maledang-ledangan, kiran wikan, mayusa cendet”. Dapat diartikan kelahiran Mandala suka bepergian untuk bersenang-senang, kurang bijaksana, berusia pendek.
Watak kelahiran Mandala mendapat pengaruh kekuatan dari Sanghyang Kencana Widhi dan Bhagawan Narada. Orang yang lahir ketika Mandala pada masa lalunya suka berpetualang. Berakibat pada masa sekarang kemampuan mereka sebagai pengawas / pengamat dan kesukaan mereka kesana-kesini atau keluyuran. Sebaiknya mereka bekerja di lapangan atau project.
Pengaruh kekuatan Sanghyang Kencana Widhi identik dengan sifat-sifat menginginkan orang lain supaya jujur, bahkan tidak disadari bahwa orang lain punya hak berbuat curang atau berbohong, akhirnya mereka terombang-ambing oleh keadaan orang lain yang curang tersebut.
Lebih lanjut tabiat mereka yang suka berkelana dan berpetualang, banyak mendapatkan keberuntungan dari lingkungan hidupnya yang bersahabat. Mereka sangat jarang mendapatkan keuntungannya dari sanak saudaranya sendiri.
Dengan banyaknya sesuatu yang tidak menguntungkan, maka mereka sangat kesulitan memilih sahabat yang benar-benar baik. Dengan pandangan mereka terlalu luas artinya kurang tajam pengamatannya mudah tertipu oleh orang-orang licik. Mereka memiliki pandangan logika yang kuat sehingga kurang intuitif.
Mereka memiliki karakter sering merasa diri berada pada bidang yang luas artinya; suka gegabah. Kesadarannya muncul pada saat kejepit. “Dan dalam kondisi yang sempit akhirnya pusing dengan sendirinya. Bagaikan orang sesat di padang pasir atau pada samudra yang sangat luas,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika