Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Unik Desa Dukuh Penaban: Lawar Don Jepun, Makanan Sakral di Bali yang Kini Jadi Ikon Wisata Kuliner

I Putu Suyatra • Selasa, 17 Desember 2024 | 15:01 WIB
Lawar Don Jepun jadi punya sejarah khusus di Dukuh Penaban, Karangasem, Bali.
Lawar Don Jepun jadi punya sejarah khusus di Dukuh Penaban, Karangasem, Bali.

BALIEXPRESS.ID – Pernahkah Anda membayangkan daun kamboja bisa diolah menjadi makanan khas Bali? Di Desa Adat Dukuh Penaban, Karangasem, tradisi unik ini telah berlangsung turun-temurun.

Daun bunga Jepun atau daun kamboja dijadikan bahan utama lawar—kuliner khas Bali yang biasanya identik dengan daging.

Tidak hanya sekadar hidangan, lawar don bunga Jepun memiliki nilai sakral dan cerita sejarah yang menarik.

Lawar don bunga Jepun ini wajib hadir dalam berbagai upacara besar di desa tersebut, seperti penampahan Galungan, Kuningan, hingga piodalan di Pura Puseh yang berlangsung pada Purnama Kapat, Purnama Kapitu, Tilem Kesanga, dan Purnama Kedasa.

Tradisi ini disebut "nyaud" dan telah diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur mereka.

Sejarah dan Janji Leluhur di Balik Tradisi Lawar Don Jepun

Kisah lawar don bunga Jepun bermula dari pembangunan Pura Puseh di Desa Adat Dukuh Penaban pada tahun 1658 Caka, tepatnya pada Buda Paing wuku Landep, Purnama Kapitu.

Pura yang didirikan di kawasan Bukit Ngandang ini dulunya dikelilingi semak belukar.

Saat membangun pura, para leluhur membawa bekal berupa daun Jepun dan daun Cermen yang kemudian diolah menjadi makanan.

“Leluhur kami membawa bekal sederhana, termasuk daun Jepun. Karena itu, mereka berjanji untuk rutin menghaturkan lawar don bunga Jepun setiap upacara besar jika pembangunan pura berhasil,” ungkap Tokoh Adat Dukuh Penaban, I Nengah Suarya.

Janji ini terus dipegang erat oleh warga desa. Hingga kini, pada setiap piodalan dan hari suci lainnya, mereka gotong-royong membuat lawar don Jepun sebagai persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Tradisi ini dianggap sakral, sehingga warga tidak berani mengabaikannya.

Proses Pembuatan Lawar: Perpaduan Tradisi dan Rasa

Pembuatan lawar don bunga Jepun dilakukan dengan sangat hati-hati. Proses dimulai dari pemilihan daun yang tepat—tidak terlalu tua agar tidak keras, dan tidak terlalu muda karena banyak mengandung getah.

Daun tersebut kemudian dicincang halus, direbus, dan diolah dengan bumbu khas Bali sesuai selera warga.

“Jika diolah dengan benar, rasanya pasti enak. Tetapi kalau salah, lawar bisa terasa pahit,” jelas Suarya.

Pada zaman dahulu, lawar don Jepun hanya dibuat saat upacara sakral dan hanya boleh dimakan setelah selesai diupacarai.

Namun, seiring waktu, warga mulai berinovasi dan menyajikannya sebagai hidangan untuk wisatawan.

Ikon Kuliner dan Pengembangan Pariwisata

Desa Adat Dukuh Penaban kini mulai mempromosikan lawar don bunga Jepun sebagai bagian dari pariwisata.

Tidak hanya disajikan dalam bentuk lawar, daun Jepun juga diolah menjadi kare dan urab, memberikan variasi kuliner yang menarik bagi pengunjung.

Untuk menjaga kelestarian tradisi, warga desa diminta menanam pohon Jepun di pekarangan rumah mereka.

Hal ini bertujuan agar bahan baku selalu tersedia, terutama untuk upacara keagamaan.

“Kami sedang mengembangkan pariwisata berbasis budaya. Lawar don bunga Jepun kini menjadi salah satu daya tarik utama desa kami,” pungkas Suarya.

Tradisi unik ini tidak hanya menunjukkan kekayaan kuliner Bali, tetapi juga menjadi bukti harmoni antara budaya, sejarah, dan inovasi di tengah perkembangan zaman.

Bagi Anda yang penasaran, mampirlah ke Desa Adat Dukuh Penaban untuk mencicipi kelezatan dan sakralitas lawar don bunga Jepun. Apakah Anda siap mencoba hidangan legendaris ini? *** 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#kamboja #bali #Dukuh penaban #jepun #lawar #kuliner #karangasem