BALIEXPRESS.ID-Canang sari tidak pernah lepas dari kehidupan persembahyangan Umat Hindu sehari-hari.
Canang sari adalah persembahan terkecil tapi merupakan inti dari setiap persembahyangan.
Hal ini disampaikan oleh Ida Pandita Kebayan melalui akun media sosial Tiktoknya dikutip pada Selasa (17/12/2024).
Baca Juga: Kontes Surfing Lokal Desa Yeh Sumbul 2024, Promosi Pariwisata dan Pemberdayaan Masyarakat Jembrana
Lebih lanjut, Ida Pandita Kebayan menyebut tidak ada satupun persembahan banten yang tidak menggunakan canang sari.
“Persembahan banten dari yang paling kecil hingga paling lengkap semua menggunakan canang sari,” jelasnya.
Komponen canang sari meliputi ceper berbentuk segi empat yang terbuat dari janur.
Kemudian ada minyak wangi, boreh miik, pisang, tebu, beras, kemudian di atasnya ada sampian berbentuk segi delapan.
Baca Juga: Bahas Percepatan Penyusunan RDTR Bersama Mendagri, Menteri Nusron: Untuk Memudahkan Iklim Investasi
Di atasnya kemudian ada porosan, dan di atasnya ada bunga empat warna yakni putih di Timur, kuning di Barat, Merah di Selatan dan Hijau di Utara.
Sementara di tengah-tengahnya ada kembang rampe atau samsam.
Dalam struktur canang sari, kembang rampe berada pada posisi paling atas.
Hal ini berkaitan dengan Kitab Purana yang menceritakan ketika Gangga turun ke bumi, karena terlalu deras ditakutkan bumi akan pecah.
Sehingga Dewa Siwa Mahadewi, menghalau Gangga dengan Prabu atau kepalanya.
“Gangga mengalir lewat rambut beliau sehingga alirannya tidak lagi deras,” jelas Ida Pandita Kebayan.
Lebih lanjut, beberapa dari helai rambut Siwa jatuh terbawa aliran sungai dan tumbuh menjadi Pandan Harum di tepi sungai.
Pandan harum yang tumbuh dijadikan kembang rampe yang menyimbolkan rambut Siwa.
Dalam struktur canang sari maka kembang rampe ditempatkan pada posisi paling atas karena menyimbolkan rambut Siwa.
Editor : Wiwin Meliana