Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Tanah Putih di Desa Lemukih, Jadi Tempat Memohon Hujan, Tanah Putih Bisa untuk Pengobatan  

I Putu Mardika • Kamis, 19 Desember 2024 | 04:40 WIB

 

Pura Tanah Putih di Desa Lemukih, Kecamatan Sawan, Buleleng
Pura Tanah Putih di Desa Lemukih, Kecamatan Sawan, Buleleng
BALIEXPRESS.ID-Pura Tanah Putih terletak di Desa Lemukih, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng. Pura ini memiliki keunikan tersendiri karena lokasinya yang jauh dari pemukiman penduduk, berada di tengah hutan lebat.

Keberadaan pura ini telah menjadi pusat kegiatan spiritual masyarakat Desa Lemukih, terutama dalam kegiatan persembahyangan dan upacara keagamaan.

Pujawali atau upacara besar di pura ini dilaksanakan sekali dalam setahun, menjadi momen sakral yang ditunggu-tunggu oleh warga desa.

Secara struktur, Pura Tanah Putih memiliki susunan yang mirip dengan pura pada umumnya di Bali, yaitu terdiri dari Tri Mandala. Struktur Tri Mandala meliputi tiga bagian utama, yakni Nista Mandala atau bagian terluar, Madya Mandala atau bagian tengah, dan Utama Mandala sebagai kawasan yang paling suci. Setiap bagian memiliki fungsi dan pelinggih (bangunan suci) dengan peran masing-masing.

Nista Mandala, sebagai bagian pertama yang ditemui, difungsikan sebagai tempat parkir dan lokasi pedagang saat upacara berlangsung.

Masyarakat memanfaatkan area ini untuk mempersiapkan diri sebelum memasuki area dalam pura.

Sementara itu, Madya Mandala, atau area tengah, berisi beberapa bangunan penting seperti Bale Enam Dasa, Bale Dawa, Bale Saya, dan Apit Lawang.

Gede Widarta selaku penyarikan desa di Desa Lemukih menjelaskan, Bale Enam Dasa adalah simbol masyarakat Lemukih yang melibatkan 60 orang sebagai pemangku dan tokoh adat. Mereka terdiri dari Jro Pasek, Jro Mangku, Jro Kubayan, Jro Penyarikan, dan tokoh-tokoh lainnya yang dipilih berdasarkan usia tertua.

Selain itu, Bale Dawa digunakan untuk kegiatan mengolah daging atau persembahan, sementara Bale Saya menjadi tempat pembuatan upakara. Apit Lawang adalah bangunan yang terletak di pintu masuk menuju kawasan Utama Mandala.

Utama Mandala merupakan kawasan paling suci di Pura Tanah Putih. Bagian ini hanya dapat diakses setelah melewati Jaba Sisi dan Jaba Tengah. Di dalamnya terdapat beberapa pelinggih, seperti Bale Piyasan, Pelinggih Surya, Pelinggih Penaenan, dan Pelinggih Gedong.

Bale Piyasan digunakan untuk meletakkan sesaji dan tempat pemangku memimpin persembahyangan.

Pelinggih Surya, yang terletak di tenggara pura, dikhususkan untuk persembahan berupa Canang Raka dan Banten Suci.

Dikatakan Widiarta keunikan lain dari Pura Tanah Putih adalah keberadaan Pelinggih Penaenan, yang dipercayai sebagai media memohon agar hujan tidak turun selama upacara berlangsung.

Selain itu, Pelinggih Gedong dipercaya sebagai tempat berstana sosok suci yang melinggih di pura ini. Ketiga mandala tersebut sangat dijaga kesuciannya oleh masyarakat Desa Lemukih.

Pengempon Pura Tanah Putih adalah seluruh masyarakat Desa Lemukih, meskipun seiring perkembangan, masyarakat dari luar desa juga turut bersembahyang di pura ini.

Para pengempon memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga kebersihan, kesucian, serta keberlangsungan pura.

Selain berfungsi sebagai tempat persembahyangan, Pura Tanah Putih juga memiliki peran unik sebagai tempat nunas obat berupa tanah putih.

Tanah ini dipercaya memiliki khasiat untuk pengobatan penyakit, terutama sebagai obat luar.

“Tanah putih tersebut diambil dari sebuah gua kecil yang terletak di kawasan pura, namun berada di luar Tri Mandala. Untuk mengambil tanah ini, hanya tangan yang bisa dimasukkan ke dalam gua,” jelasnya.

Sejarah penggunaan tanah putih sebagai obat berawal dari masa lampau, ketika masyarakat Desa Lemukih belum memiliki akses ke pengobatan medis.

Dengan keterbatasan ekonomi dan minimnya fasilitas kesehatan, mereka mencoba memanfaatkan tanah putih untuk pengobatan luar.

Khasiat yang dirasakan langsung oleh masyarakat menyebabkan tanah ini dipercaya mampu menyembuhkan berbagai penyakit.

Tanah putih biasanya digunakan untuk pengobatan sakit gigi, nyeri, dan gendongan. Untuk sakit gigi, tanah dicampur dengan air lalu dioleskan pada bagian luar gigi yang sakit.

Sensasi dingin saat tanah dioleskan dipercaya membantu meredakan rasa sakit. Efek penyembuhan dapat dirasakan dalam waktu beberapa jam hingga dua hari, tergantung kondisi sakit yang dialami.

Selain itu, tanah putih juga digunakan sebagai pengobatan gendongan, yakni sakit di area belakang telinga. Prosesnya sama, yaitu tanah dioleskan pada bagian yang sakit.

Baca Juga: Drama Asmara Jonathan Frizzy dan Ririn Dwi Ariyanti: Terhalang Restu, Dituduh Abaikan Anak

Tanah ini dapat dicampur dengan minyak khusus seperti minyak bali untuk mempercepat proses pengobatan. Masyarakat percaya bahwa penggunaan tanah putih yang rutin dapat memberikan hasil yang signifikan.

Untuk nyeri otot atau pegal-pegal, tanah putih dioleskan lebih luas sebagai boreh (baluran). Proses ini dilakukan secara bertahap selama beberapa hari hingga tiga hari berturut-turut untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

“Penggunaan tanah putih sebagai obat ini tidak hanya sekali dilakukan, melainkan sudah menjadi tradisi yang diwariskan secara turun-temurun,” imbuhnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #tanah #obat #Penyakit #hindu #pura #putih #hujan