BALIEXPRESS.ID - Pura Beji yang terletak di Desa Sangsit, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, bukan hanya sebuah tempat ibadah Hindu Bali, tetapi juga destinasi wisata yang penuh dengan sejarah, keindahan arsitektur, dan tradisi yang menarik.
Pura ini dikenal sebagai tempat pemujaan Dewi Sri, Dewi Kesuburan, yang menjadi simbol kesejahteraan bagi para petani di Desa Sangsit.
Keberadaannya tidak hanya menyimpan nilai spiritual, namun juga menawarkan keunikan ukiran khas yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.
Arsitektur Unik dan Filosofi Ukirannya
Keunikan Pura Beji terletak pada arsitektur dan ukiran yang memiliki gaya khas Buleleng.
Menurut Kelian Subak Desa Sangsit, Gede Somanata, 67, setiap bagian pura dihiasi dengan motif tumbuh-tumbuhan dan bunga yang melambangkan kesuburan dan kemakmuran.
Ukiran yang lebar dan dangkal, namun runcing, menghiasi seluruh bangunan pura, dari tembok penyengker hingga candi bentar, dengan menggunakan batu paras merah khas Dusun Abasan.
"Semua ukirannya khas Buleleng, terbuat dari batu paras yang hanya ada di Desa Sangsit," jelas Somanata.
Pura ini terdiri dari tiga bagian utama: nisata mandala (area luar), madya mandala (area tengah), dan utama mandala (area dalam), yang di dalamnya terdapat banyak palinggih dengan arsitektur yang megah dan indah.
Salah satunya adalah Gedong Simpen, tempat berstana Dewi Sri, yang menjadi pusat perhatian dengan patung Dewi Sri yang terletak di atas atapnya.
Mitos dan Tradisi Unik yang Mengiringi
Pura Beji juga dikenal sebagai tempat untuk memohon tirta atau air suci untuk menghalau hama dan menolak bala.
Bagi para petani di Desa Sangsit, pura ini memiliki kekuatan magis untuk mengusir hama yang sering menyerang tanaman padi mereka, terutama menjelang musim panen.
"Setelah nunas tirta di Pura Beji, hama-hama itu sering menghilang dengan sendirinya," ungkap Somanata.
Kepercayaan ini memperkuat keyakinan masyarakat bahwa Dewi Sri yang berstana di pura ini melindungi mereka dari segala ancaman.
Selain itu, Pura Beji juga memiliki pantangan khusus terkait dengan penguburan jenazah.
Krama yang membawa jenazah di depan pura harus merendahkan jenazah tersebut, tidak boleh mengusungnya lebih tinggi dari lutut.
Konon, jika pantangan ini dilanggar, akan terjadi kejadian misterius, seperti jenazah yang "diseret kembali" secara ajaib.
Pujawali yang Dihormati
Pura Beji juga rutin mengadakan pujawali tiga kali setahun, masing-masing saat Purnama Sasih Kedasa, Purnama Kapat, dan Purnama Jyestha.
Pada saat Purnama Jyestha, pujawali ini menjadi yang terbesar dan paling penting, namun terdapat pantangan untuk tidak menghaturkan daging babi, hanya diperbolehkan daging ayam.
"Pujawali ini sangat sakral bagi masyarakat," tambah Somanata.
Magnet Wisatawan Domestik dan Mancanegara
Keindahan arsitektur dan ukiran Pura Beji membuatnya menjadi magnet bagi wisatawan, baik domestik maupun asing.
Banyak pengunjung yang datang hanya untuk berfoto dengan latar ukiran yang eksotis dan detail.
Bahkan, Pura Beji menjadi lokasi favorit untuk foto prewedding, dengan banyak pasangan yang memilih tempat ini untuk mengabadikan kenangan mereka.
Pada musim liburan atau high season, Pura Beji dapat menarik hingga 200 wisatawan asing per hari.
Sementara saat low season, jumlah pengunjung domestik yang datang untuk sesi foto prewedding tetap cukup tinggi.
Kesimpulan
Pura Beji bukan hanya sekadar destinasi wisata, tetapi juga tempat spiritual yang menyimpan nilai-nilai filosofis, mitos, dan tradisi yang mendalam.
Keunikan arsitektur, ukiran yang sarat makna, serta tradisi yang masih dijaga dengan baik, menjadikan pura ini sebagai salah satu tempat yang wajib dikunjungi saat berada di Buleleng. ***
Editor : I Putu Suyatra