Kisah Keangkeran Palinggih Ratu Gede di Ubud, Benarkah Tempat Ini Dijaga oleh Ular dan Bayangan Putih Besar?
I Putu Suyatra• Sabtu, 21 Desember 2024 | 16:02 WIB
Palinggih Ratu Gede yang berdiri megah di depan Pura Dalem Semana Desa Adat Demayu, Singakerta, Ubud, Gianyar, Bali
BALIEXPRESS.ID – Palinggih Ratu Gede yang berdiri megah di depan Pura Dalem Semana Desa Adat Demayu, Singakerta, Ubud, Gianyar, Bali, menyimpan sejarah, misteri, dan aura magis yang menarik perhatian.
Tempat pemujaan yang berada di perbatasan Kabupaten Gianyar dengan Kabupaten Badung ini bukan sekadar tumpukan batu bata tua.
Ada kisah yang menegaskan keangkerannya.
Lokasi ini memang unik. Berada di dataran tinggi yang diapit oleh dua sungai, kawasan ini sudah lama dikenal angker.
Untuk mencapai Palinggih Ratu Gede, hanya butuh sekitar 15 menit perjalanan dari Pasar Mambal ke arah utara menuju Ubud.
Setiba di Desa Semana, palinggih tersebut bisa ditemukan di sisi utara jalan yang menikung tajam.
Menurut Tokoh Desa Adat Semana, I Wayan Karya, keberadaan Palinggih Ratu Gede memiliki latar cerita yang sangat erat kaitannya dengan kepercayaan leluhur setempat.
Zaman dahulu, desa ini dikelilingi sungai di empat penjuru: selatan, utara, barat, dan timur.
Akses utama hanya berupa bambu sederhana yang membuat perjalanan terasa menegangkan, terutama pada malam hari.
Penampakan Ular Kendang dan Bayangan Putih Besar
Kawasan sekitar Palinggih Ratu Gede sering dihiasi oleh cerita mistis.
Menurut para tetua desa, pada zaman dahulu masyarakat kerap melihat penampakan ular pendek yang disebut Lipi Kendang di sekitar lokasi.
Bahkan, beberapa warga melaporkan melihat sosok bayangan putih besar yang sering muncul di area palinggih.
"Coba datang malam hari, auranya berbeda sekali. Bahkan, banyak warga merasakan bulu kuduk berdiri saat berada di sekitar sini," ujar Karya.
Aura angker ini membuat warga desa selalu menghaturkan canang sebelum melintasi lokasi, sebagai bentuk permohonan keselamatan.
Tradisi ini berlangsung hingga akhirnya didirikan Palinggih Ratu Gede untuk menghormati kepercayaan leluhur.
Tempat Memohon Perlindungan Secara Niskala
Palinggih Ratu Gede kini tidak hanya menjadi tempat pemujaan bagi warga Desa Semana, tetapi juga menarik perhatian warga luar.
Banyak umat Hindu Bali datang untuk menghaturkan sesajen, terutama saat Purnama, Tilem, Kajeng Kliwon, dan hari-hari penting lainnya.
Warga setempat percaya bahwa Palinggih Ratu Gede adalah pelindung desa. Kisah-kisah permohonan yang terkabul menambah keyakinan ini.
Salah satu contoh, seorang warga yang mengalami kendala pembayaran gaji proyek akhirnya mendapatkan solusi setelah memohon di Palinggih Ratu Gede.
"Setiap ada permasalahan, warga sering memohon di sini, dan banyak yang terkabul. Itu yang membuat kepercayaan masyarakat semakin kuat," jelas Karya.
Keangkeran yang Menyatu dengan Kehidupan Warga
Meski angker, tidak ada pantangan khusus bagi siapa pun yang melewati kawasan ini.
Namun, Karya mengingatkan agar tetap berhati-hati, terutama saat malam hari dan hari-hari penting.
Selain dikenal sebagai tempat memohon keselamatan secara niskala, Palinggih Ratu Gede juga dijaga oleh kehadiran ular dan bayangan misterius.
Hal ini menambah daya tarik sekaligus rasa hormat bagi siapa saja yang datang ke sana.
Bagaimana kisah Anda jika berkunjung ke Palinggih Ratu Gede ini? Berani mencoba merasakan auranya pada malam hari? ***