BALIEXPRESS.ID - Di tengah gemerlapnya warisan budaya Bali, Pura Dalem Jawa (Langgar) Penataran Agung Bunutin, atau yang akrab disebut Pura Dalem Langgar Bunutin, mencuri perhatian.
Terletak di Banjar Dadia Puri, Desa Bunutin, Bangli, tempat suci Hindu Bali, ini memancarkan daya tarik unik karena memiliki bangunan yang menyerupai langgar, tempat ibadah umat Muslim.
Bangunan langgar ini seolah menjadi simbol harmoni budaya dan agama.
Menariknya, masyarakat sekitar pura yang mayoritas beragama Hindu tidak memperdebatkan kehadiran bangunan tersebut.
Sebaliknya, mereka menghormatinya sebagai bagian dari sejarah yang mengakar.
Jejak Sejarah Ida Dalem Mas Wilis
Menurut prasasti di Puri Agung Bunutin, langgar ini dibangun atas sabda supranatural yang diterima Ida Dalem Mas Wilis, Raja Blambangan ke-23.
Kisah bermula ketika putra sulungnya, I Dewa Mas Blambangan, mengalami sakit parah.
Berdasarkan petunjuk, hanya pembangunan sebuah langgar yang bisa menyembuhkannya.
Permintaan tersebut memicu perdebatan di keluarga kerajaan. Meski begitu, akhirnya langgar berhasil dibangun, dan putra sulungnya pun sembuh.
Keajaiban itu menjadi tonggak berdirinya Pura Dalem Langgar, yang hingga kini mengingatkan adanya hubungan darah dengan Kerajaan Blambangan di Jawa Timur.
Keunikan Bangunan Langgar
Bangunan langgar di Pura Dalem Langgar memiliki arsitektur yang memadukan unsur Jawa dan Bali.
Dengan ukiran dari batu padas, dinding bata merah, serta kubah menyerupai musala, bangunan ini memiliki empat pintu di setiap sisinya dan empat palinggih yang menghadap arah mata angin.
Namun, tidak sembarang orang dapat memasuki langgar ini.
Menurut Ida I Dewa Gede Oka Nurjaya, Kelihan Pura Dalem Langgar, hanya pemangku yang diizinkan masuk.
Hal ini demi menjaga kesucian langgar. “Jika ada perintah khusus dari pemangku, baru saya berani masuk. Tanpa itu, tidak ada yang berani masuk sembarangan,” ujarnya.
Akulturasi yang Menarik Wisatawan
Keunikan langgar ini juga menarik perhatian umat Muslim, terutama saat Idul Fitri. Beberapa pengunjung bahkan meminta izin untuk salat di dalam langgar.
Namun, demi menjaga aturan adat, wisatawan hanya diperkenankan menggunakan balai pasantian di jaba sisi pura, yang telah dilengkapi tempat wudu dengan lima sumber air sebagai pengingat salat lima waktu.
Tradisi Sakral dan Aturan Khusus
Pura Dalem Langgar juga memiliki tradisi unik. Dalam upacara Mulang Pakelem yang dilaksanakan setiap Tilem Kaulu, daging babi tidak diperbolehkan digunakan sebagai sarana upacara.
Bahkan, orang yang baru saja memakan daging babi tidak diizinkan memasuki area langgar.
Bagi umat Hindu yang ingin bersembahyang, piodalan di pura ini jatuh setiap Wrespati Umanis Wuku Dungulan, atau sehari setelah Galungan, dan dirayakan dua kali dalam setahun.
Menguak Harmoni di Pura Dalem Langgar
Pura Dalem Langgar bukan sekadar tempat suci, melainkan juga simbol akulturasi yang mempererat hubungan lintas budaya dan agama.
Bangunan langgar menjadi bukti nyata betapa sejarah dan tradisi mampu menghadirkan harmoni dalam keberagaman.
Penasaran ingin berkunjung? Jangan lupa, datanglah dengan niat suci dan pikiran yang jernih agar bisa merasakan energi positif dari situs penuh makna ini! ***
Editor : I Putu Suyatra