BALIEXPRESS.ID - Selain Pura Tirta Sudhamala, Kelurahan Banyuasri di Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Bali, ternyata menyimpan tempat panglukatan alternatif yang memikat perhatian.
Terletak di tepi Pantai Banyuasri, tepatnya di area Pura Lingga Pawitra, lokasi ini menjadi tujuan pamedek (umat Hindu Bali) untuk memohon kesembuhan, keturunan, hingga tamba (obat) atas berbagai permasalahan hidup.
Namun, untuk mencapai tempat sakral ini, perjalanan menuju panglukatan menawarkan pengalaman unik.
Pamedek harus melalui jalan setapak sepanjang 100 meter yang melintasi area Kuburan Cina, hanya bisa diakses dengan berjalan kaki atau sepeda motor.
Lokasi ini terbilang sederhana, namun justru menyimpan daya tarik spiritual luar biasa.
Keunikan Tempat Panglukatan di Pura Lingga Pawitra
Meski hanya memiliki dua palinggih, yaitu Palinggih Ida Bhatara Mahendra dan Dewa Ayu Manik Gangga, area pura ini berdiri kokoh di lahan kecil seluas 20 meter persegi.
Posisi pura yang menjorok ke tengah laut menjadikannya rentan terkena abrasi.
Untuk melindungi palinggih dari terjangan ombak, pura dikelilingi deker sebagai benteng.
Keajaiban lain yang memikat perhatian adalah keberadaan mata air suci yang jernih dan tak pernah kering meski berada di tengah laut.
Lebih menarik lagi, air ini sama sekali tidak terasa asin meski dikelilingi air laut.
Awal Berdirinya Pura Lingga Pawitra
Menurut Jro Mangku Istri, Jero Ketut Rasmi, keberadaan pura ini tak lepas dari peran almarhum suaminya, Jro Nyoman Ardiartha, yang terketuk hatinya saat gelombang pasang sering mengganggu permukiman di Banjar Lingga.
Kala itu, Jro Ardiartha memohon kepada Hyang Baruna, Dewa Penguasa Laut, agar gelombang pasang berhenti meluap.
“Beliau berjanji, jika air laut berhenti meluap, Bhatara Baruna akan dibuatkan palinggih. Setelah itu, air laut benar-benar tidak meluap lagi,” ungkap Jro Rasmi.
Sebagai wujud syukur, Jro Ardiartha membangun dua palinggih untuk Ida Bhatara Wisnu dan Baruna.
Sejak saat itu, pura ini menjadi tempat suci yang ramai dikunjungi pamedek dari berbagai penjuru.
Tujuan Spiritualitas yang Terpenuhi
Pamedek yang datang ke Pura Lingga Pawitra membawa berbagai permohonan, mulai dari tirta penyucian hingga memohon kesembuhan dan keturunan.
Menariknya, banyak di antara mereka yang mengaku permohonannya terkabul setelah melukat di sini.
“Dari 100 orang yang datang, sekitar 98 orang rata-rata permohonannya dikabulkan. Setelah itu, mereka datang lagi untuk bayar kaul,” ujar Jro Rasmi.
Bahkan, pamedek tak hanya berasal dari Bali, tetapi juga dari Kalimantan, Lombok, Jakarta, hingga Sumatra.
Fenomena Mistis di Pura Lingga Pawitra
Hal unik lain yang kerap terjadi adalah pamedek yang terkena gangguan ilmu hitam sering berteriak kesakitan saat air suci diguyur ke tubuh mereka.
Rasa panas dan sakit yang dialami pamedek menjadi tanda adanya gangguan yang akhirnya teratasi setelah proses melukat.
Syarat dan Tata Cara Melukat
Jro Rasmi menyarankan pamedek untuk membawa kembang sebelas warna, ilalang, kelungah (kelapa muda), dan banten pajati saat melukat.
Proses ini diyakini lebih efektif jika dilakukan tiga kali berturut-turut untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
“Astungkara, mereka yang memohon kesembuhan melalui panglukatan di Parahyangan ini selalu diberikan jalan oleh Beliau yang berstana di pura ini,” tuturnya.
Kesimpulan
Pura Lingga Pawitra di tepi Pantai Banyuasri tidak hanya menjadi tempat sakral untuk panglukatan, tetapi juga menyimpan kisah spiritual dan fenomena unik yang menarik perhatian.
Bagi siapa saja yang mencari kedamaian batin, kesembuhan, atau solusi atas permasalahan hidup, tempat ini menjadi salah satu destinasi yang wajib dikunjungi. ***
Editor : I Putu Suyatra