Tradisi Okokan di Tabanan: Ritual Sakral Penolak Bala di Bali yang Sarat Makna dan Pesona Mistis
I Putu Suyatra• Minggu, 22 Desember 2024 | 15:07 WIB
Okokan di Tabanan, Bali
BALIEXPRESS.ID - Kabupaten Tabanan, Bali, dikenal memiliki beragam tradisi unik yang tidak ditemukan di daerah lain.
Salah satunya adalah tradisi Okokan, ritual khas yang diyakini sebagai cara untuk menolak bala atau yang dikenal dengan sebutan Nangluk Merana.
Tradisi ini telah menjadi warisan budaya yang melekat di hati masyarakat Tabanan, khususnya warga Banjar Delod Puri, Desa Kediri.
Asal Usul Tradisi Okokan: Bermula dari Wabah Misterius
Sejarah Okokan tak tercatat secara tertulis, namun tradisi ini telah diwariskan turun-temurun sejak tahun 1960.
Kala itu, warga Desa Kediri dilanda wabah misterius yang menyerang berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa.
Penyakit aneh ini bahkan menyebabkan kematian mendadak tanpa sebab yang jelas.
Sebagai respons atas malapetaka tersebut, masyarakat menggelar tradisi Tektekan, yakni membunyikan alat-alat seperti peralatan dapur dan alat pertanian untuk mengusir bala.
Dari sinilah Okokan berakar. Nama Okokan sendiri merujuk pada alat-alat berbentuk kalung sapi berukuran besar yang menghasilkan suara gemuruh nan merdu saat dibunyikan.
Keunikan Okokan: Bahan Khusus dan Hiasan Mistis
Okokan dibuat dari kayu pilihan seperti kayu Teep dan Camplung yang menghasilkan suara kuat sekaligus harmonis.
Selain itu, alat ini dihias dengan tapel atau lukisan wajah Boma, simbol keangkaramurkaan yang dipercaya mampu menetralisasi energi negatif.
Hiasan kain poleng (hitam putih) turut menambah aura magisnya, menjadikan tradisi ini Mataksu atau penuh daya spiritual.