BALIEXPRESS.ID - Pura Tirtha Lan Segara Dangkahyangan Rambutsiwi, salah satu tempat suci Hindu Bali yang terletak di Desa Yehembang, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, menyimpan sejarah, spiritualitas, dan keajaiban yang tak pernah surut menjadi daya tarik.
Pura ini merupakan bagian dari sembilan pura di kawasan Pura Rambutsiwi.
Namun, apa yang menjadikan pura ini begitu istimewa hingga umat dari dalam dan luar Bali pedek tangkil (bersembahyang) di tempat ini?
Dewa-Dewi yang Disthanakan
Manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) yang dipuja di pura ini adalah Dewa Siwa Gangga, sebagai Dewa sumber air suci (tirtha), dan Dewa Bharuna, penguasa lautan.
Keduanya melambangkan keseimbangan alam yang memberikan berkah dan perlindungan kepada umat.
Jejak Sang Pendeta Agung
Berdasarkan sastra tua Dwijendra Tattwa, keberadaan Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh menjadi awal mula berdirinya Pura Dangkahyangan Rambutsiwi.
Sang Pendeta yang dikenal dengan kemampuan spiritualnya yang tinggi, kala itu memberikan bimbingan kepada warga setempat yang datang memohon anugerah, kesembuhan, hingga tuntunan hidup.
Kisah ini mencerminkan bagaimana ajaran agama, pertanian, hingga keharmonisan dengan unsur gaib menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kala itu.
Sumber Air Abadi yang Penuh Mukjizat
Salah satu keunikan dari Pura Tirtha adalah keberadaan sumber air yang mengalir dari dalam goa di kawasan pura.
Air ini dipercaya tak pernah mengering, bahkan saat musim kemarau panjang.
Hingga kini, tirtha dari sumber tersebut digunakan untuk berbagai ritual, seperti panglukatan, pasupati, hingga memohon keturunan dan kesembuhan.
Goa Misterius dengan Alur Tanpa Batas
Di dalam pura ini terdapat goa dengan alur yang menyerupai perempatan (catus pata), di mana setiap arah dipercaya menghubungkan pura ini dengan pura-pura lain di Bali, seperti Pura Besakih, Pura Melanting, dan Pura Dalem Ped.
Goa ini menjadi simbol keterhubungan spiritual antara Pura Rambutsiwi dan tempat suci lainnya.
Keajaiban Spiritual yang Terbukti
Seorang pamedek, Ni Komang Sugiantari, menceritakan pengalamannya. Ia mengaku keluarganya mengalami kesembuhan setelah melakukan malukat di Pura Tirtha Lan Segara Dangkahyangan Rambutsiwi.
Kisah ini hanyalah satu dari sekian banyak bukti kekuatan spiritual pura ini.
Rahinan dan Pujawali: Momen Sakral yang Dinantikan
Setiap enam bulan sekali, tepatnya pada Rabu Umanis wuku Perangbakat, Pura Tirtha Lan Segara Dangkahyangan Rambutsiwi menggelar piodalan.
Pada hari suci ini, pura dipenuhi oleh umat Hindu dan wisatawan spiritual yang datang untuk memohon berkah, anugerah, hingga mukjizat.
Kesempurnaan Arsitektur dan Filosofi Tri Mandala
Pura ini terbagi dalam tiga halaman utama (Tri Mandala), yaitu Utama Mandala, Madya Mandala, dan Pratama Mandala.
Setiap bagian dipenuhi oleh simbol-simbol yang mencerminkan keharmonisan alam semesta, seperti arca Naga Cobra berkepala tiga yang melambangkan Tri Loka.
Pura yang Menyatukan Alam Lahir dan Batin
Pura Tirtha Lan Segara Dangkahyangan Rambutsiwi bukan hanya tempat pemujaan, tetapi juga pusat spiritual yang menyatukan keseimbangan lahir dan batin.
Keindahan, sejarah, dan keajaiban pura ini terus menjadi magnet bagi umat Hindu yang mencari kedamaian dan keberkahan hidup. ***