Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah Legendaris Ratu Gede Mas Mecaling, Penguasa Nusa Penida Dipuja Umat Hindu di Bali, Memohon Terhindar Mara Bahaya  

I Putu Mardika • Selasa, 24 Desember 2024 | 04:55 WIB

 

Pura Dalem Ped Nusa Penida, Klungkung menjadi stana Ratu Gede Mas Mecaling
Pura Dalem Ped Nusa Penida, Klungkung menjadi stana Ratu Gede Mas Mecaling
BALIEXPRESS.ID-Masyarakat Desa Ped, Kecamatan Nusa Penida, Klungkung begitu erat dengan kisah Ratu Gede Mas Mecaling. Keyakinan akan Ratu Gede Mas Mecaling juga dipuja di Pura Dalem Ped, Nusa Penida.

Kisah Ratu Gede Mas Mecaling diyakini secara turun temurun oleh masyarakat Nusa Penida. Seperti diceritakan I Wayan Manca, Tokoh Adat Ped, Nusa Penida.

Konon diceritakan dahulu kala, hiduplah seorang pangeran yang menetap di Gunung Kila bernama Pangeran Jumpungan. Dalam perjalanannya, Pangeran Jumpungan memilih jalan spiritual dengan menjadi seorang pendeta dan memperoleh gelar Dukuh.

Dukuh Jumpungan dikenal memiliki keahlian luar biasa dalam membuat perahu, bahkan ia mampu menciptakan jalur loloan di Nusa Penida dan Nusa Ceningan. Ia kemudian menikah dengan seorang wanita bernama Ni Puri.

Dari pernikahan tersebut lahirlah Pangeran Merja. Seperti ayahnya, Pangeran Merja melanjutkan garis keturunan dengan menikahi seorang wanita bernama Ni Luna.

Dari pernikahan mereka, lahirlah dua anak yakni Pangeran Undur dan Dyah Ranggini.

Baca Juga: REKOMNEDASI LIBURAN NATARU DI BALI! Ulun Danu Beratan dan The Blooms Garden Suguhkan Kejutan Spesial: Ada Tari Kecak Unik 

Pangeran Undur menikahi Ni Lumi dan memiliki anak bernama Pangeran Renggan. Sementara itu, Dyah Ranggini dipersunting oleh Dalem Sawang dan menjadi permaisurinya.

Tidak hanya itu, Dukuh Jumpungan juga memiliki keturunan lainnya, yakni Pangeran Jurang yang menikah dengan Ni Jarum dan menetap di Bukit Biye.

Keturunan lainnya tersebar di berbagai wilayah. Ni Luh Puri tinggal di Goa Lawah, Pangeran Yangga di Padang, Ni Runa di Sakenan, dan Pangeran Cenes di Segara.

Pangeran Renggan kemudian menikahi Ni Merahim dan memiliki dua anak: seorang laki-laki bernama Pangeran I Gede Mecaling dan seorang perempuan bernama Ni Tole.

Ni Tole menjadi permaisuri Dalem Sawang, sedangkan Pangeran I Gede Mecaling menikahi Ratu Ayu Mas Lebur Jagat, yang juga dikenal dengan berbagai nama, termasuk Sang Ayu Mas Meketel dan Sang Ayu Mas Rajeg Bumi.

Setelah wafatnya Dalem Sawang dalam perang dengan Dalem Dukut, Pangeran I Gede Mecaling naik takhta menjadi raja.

Pangeran I Gede Mecaling dikenal sebagai sosok yang berwibawa, bertubuh kekar, dan memiliki prabhawa tinggi.

Ia sering melakukan tapa brata yoga semadi di Ped, Nusa Penida, dengan pemujaan yang ditujukan kepada Ida Bhatara Siwa, Bhatari Durga, Bhatara Yama, Indra, dan Waruna. Ketekunannya dalam meditasi membuat hati para dewa tersentuh.

Para dewa akhirnya turun dari swarga loka untuk melihat siapa sosok yang melakukan yoga semadi dengan sedemikian tekunnya.

Baca Juga: Harvey Moeis Divonis 6,5 Tahun dalam Kasus Korupsi: Aset Sandra Dewi Senilai Rp 33 Miliar Juga Ikut Disita

Mereka menemukan Pangeran I Gede Mecaling sedang bertapa di atas batu karang di selat antara Nusa Penida dan Bali. Karena ketekunannya, para dewa menganugerahkan kesaktian berupa ajian Kanda Sanga.

Setelah menerima anugerah tersebut, wujud Ratu I Gede Mecaling berubah drastis. “Badannya menjadi besar, wajahnya menyeramkan, taringnya panjang, dan suaranya menggetarkan jagat raya. Penampilan ini membuat dunia gempar, menciptakan ketakutan di mana-mana,” jelasnya.

Kesaktian luar biasa ini membuat Pangeran I Gede Mecaling menjadi sombong. Ia mulai melarang rakyatnya untuk memuja dewa, Hyang Widhi, maupun leluhur.

Mereka yang melanggar perintahnya dihukum dengan kejam. Perilakunya ini membuat para dewa resah.

Dewa Indra kemudian diutus untuk menghukum Pangeran I Gede Mecaling. Mengetahui rencana ini, Pangeran I Gede Mecaling mempersiapkan diri dengan matang.

Pertempuran antara keduanya pun tak terhindarkan. Dewa Indra menggunakan tombak dan panah, sementara Pangeran I Gede Mecaling mengandalkan kapak saktinya.

Pertempuran tersebut sangat dahsyat. Kilatan cahaya dari senjata mereka menyilaukan mata, deburan ombak dan angin kencang menjadi saksi kedahsyatan duel itu.

“Pangeran I Gede Mecaling bahkan mengubah wujudnya menjadi lebih menyeramkan, namun Dewa Indra tetap tenang dan fokus,” sebutnya.

Baca Juga: Pria di Bali Aniaya Pemotor Tanpa Sebab: 'Kamu Orang Jawa?' Lalu Pukuli Korban di Pinggir Jalan

Dalam pertempuran tersebut, Dewa Indra berhasil menemukan kelemahan Pangeran I Gede Mecaling, yakni pada taringnya. Dengan senjata keris sakti pemberian Bhatara Siwa, Dewa Indra berhasil memotong taring Pangeran I Gede Mecaling, mengakhiri kekuatan besar yang dimilikinya.

Setelah kekalahannya, Pangeran I Gede Mecaling kembali melakukan tapa brata yoga semadi. Kali ini, ia memusatkan pemujaannya kepada Ida Bhatara Rudra.

Ida Bhatara Rudra memberikan anugerah Panca Taksu kepada Pangeran I Gede Mecaling, yang meliputi Taksu Balian, Taksu Penolak Grubug, Taksu Kemeranan, Taksu Kesaktian, dan Taksu Penggeger.

Sebagai pengabih utama Bhatari Durga Dewi, Pangeran I Gede Mecaling diberi wewenang untuk mencabut nyawa manusia di bumi. Ia juga dianugerahi gelar Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling dan menjadi penguasa samudera.

Baca Juga: UPDATE ISTRI SELINGKUH DENGAN DUA PRIA: Setelah Seret dan Lindas Suami, Melody Sharon Sempat Liburan ke Bali Bersama Selingkuhan

Permaisurinya, Sang Ayu Mas Rajeg Bumi, juga diberikan gelar sebagai Papak Selem. Keduanya moksa di tempat berbeda, Pangeran I Gede Mecaling di Ped dan permaisurinya di Bias Muntig. Mereka kini dikenal sebagai penguasa kematian dan sering dipuja oleh masyarakat Hindu Bali.

“Hingga kini, masyarakat Hindu Bali kerap datang ke Nusa Penida untuk memohon keselamatan kepada Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling. Pemujaan ini dilakukan agar terhindar dari mara bahaya dan bencana,” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Desa Ped #Pura Dalem Ped #Ratu Gede Mas Mecaling #klungkung #nusa penida