Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Hindu Bali, Nyeeb di Tajun: Ritual Wajib Pasangan Baru, Konsekuensinya Bisa Fatal Jika Diabaikan

I Putu Suyatra • Selasa, 24 Desember 2024 | 14:42 WIB
Tradisi Hindu Bali, Nyeeb di Tajun, Buleleng, Bali.
Tradisi Hindu Bali, Nyeeb di Tajun, Buleleng, Bali.

BALIEXPRESS.ID - Setiap pasangan yang baru menikah di Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, harus menjalani tradisi Hindu Bali yang unik bernama Nyeeb.

Tradisi ini bukan sekadar seremoni biasa, melainkan sebuah prosesi sakral yang menjadi penanda sahnya mereka secara niskala untuk menjalankan tugas sebagai krama anyar atau anggota baru masyarakat desa adat.

Menariknya, tradisi ini memiliki konsekuensi fatal jika diabaikan, konon bisa membawa pengaruh buruk dalam kehidupan rumah tangga mereka.

Dilaksanakan Rutin Setelah Nyepi

Tradisi Nyeeb dilangsungkan setiap tahun, tepatnya pada pinanggal ping lima sasih kedasa, atau lima hari setelah Hari Raya Nyepi.

Prosesi sakral ini dilakukan di depan Pura Bale Agung, Desa Adat Tajun.

Sebanyak 41 pasangan suami istri mengikuti tradisi ini.

Sebagian besar merupakan pasangan yang menikah di tahun sebelumnya, namun ada pula pasangan yang baru memiliki kesempatan mengikuti ritual ini meskipun telah menikah bertahun-tahun.

Rangkaian Ritual Penuh Makna

Para pasangan suami istri ini duduk berjejer di depan Pura Bale Agung, mengenakan pakaian adat lengkap.

Prosesi diawali dengan persembahyangan bersama, dilanjutkan dengan natab banten beakala.

Pasangan kemudian diberikan benang tridatu untuk diikatkan di tangan dan karawista yang dipasang di kepala sebagai simbol perlindungan.

Puncak prosesi adalah penyiraman air suci dari wajan panas ke tungku perapian.

Air yang dipanaskan menggunakan kayu bakar ini disiramkan secara bergantian oleh pasangan, sebagai simbol penyucian diri dari segala kekotoran.

Makna Filosofis Tradisi Nyeeb

Menurut Jro Made Sumerta, Kelian Adat Desa Pakraman Tajun, tradisi Nyeeb telah berlangsung ratusan tahun dan tercantum dalam awig-awig desa.

Kata nyeeb sendiri berasal dari kata seeb, yang berarti melihat.

Tradisi ini mengajarkan pasangan baru untuk melihat dan memahami tugas serta tanggung jawab mereka sebagai krama anyar di desa adat.

“Harapannya, pasangan yang baru menikah ini bisa menjalankan prinsip tri kaya parisudha: berpikir, berbicara, dan berbuat yang baik. Ini adalah modal utama untuk membangun hubungan sosial yang harmonis di desa,” ujar Sumerta.

Esensi utama tradisi ini adalah pembersihan diri secara niskala sebelum sah menjalankan tugas sebagai krama.

Ritual ini menggunakan sarana khusus seperti banten sesayut beakala dan durmanggala, yang berfungsi sebagai simbol pelebur unsur negatif dalam diri manusia.

Tradisi yang Tak Boleh Dilewatkan

Sumerta menegaskan, tradisi Nyeeb adalah kewajiban yang tidak bisa diabaikan oleh pasangan suami istri yang ingin menjadi bagian dari masyarakat adat Tajun.

“Setelah menjalani prosesi ini, mereka akan diizinkan untuk ngayah dan mulai berkontribusi bagi desa,” jelasnya.

Tradisi Nyeeb bukan hanya soal adat, tetapi juga cara masyarakat Tajun menjaga harmoni antara dunia sekala dan niskala.

Keunikan dan kesakralan tradisi ini menjadikannya salah satu warisan budaya yang terus dijaga dari generasi ke generasi. *** 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#ritual #bali #nyeeb #nyepi #hindu #kubutambahan #tradisi #Tajun #buleleng