Pura ini terdiri atas dua kompleks utama, yakni Pura Dalem dan Pura Bias Muntig, yang menjadi salah satu tujuan wisata spiritual di kawasan ini.
Statusnya sebagai salah satu pura terbesar di Nusa Penida menarik banyak pemedek, baik dari dalam maupun luar pulau, untuk melakukan persembahyangan.
Keunikan Pura Dalem Bias Muntig terletak pada keberadaan dua tempat persembahyangan utama, yaitu Pura Taman Bias Muntig dan Pura Dalem. Nama “Bias Muntig” sendiri berasal dari kata “bias,” yang berarti tanah atau pasir, dan “mentig,” yang berarti tumbuh atau menjulang.
Secara harfiah, “Bias Muntig” menggambarkan gundukan pasir yang menjulang di area pura ini.
Tokoh Adat Banjar Nyuh Kukuh, I Wayan Lugra menjelaskan Sejarah pura ini erat kaitannya dengan tokoh spiritual di Nusa Penida, I Gede Mecaling, dan istrinya, Sang Ayu Mas Rajeg Bumi. Dikisahkan, setelah Dalem Dukut moksa, I Gede Mecaling menjadi penguasa Nusa Penida bersama istrinya.
Sang Ayu Mas Rajeg Bumi disebut melakukan yoga semedi di Bias Muntig hingga mencapai moksa pada tahun Saka 425.
Gundukan pasir yang kini menjadi pusat pura dipercaya sebagai tempat semayam Sang Hyang Pasupati.
Dahulu, tempat berdirinya Pura Dalem Bias Muntig dulunya merupakan lahan bercocok tanam milik seorang petani bernama Kakek Jiwa.
Namun, lahan tersebut dianggap angker karena hasil tanamannya selalu gagal, kecuali sebuah pohon kelapa yang tumbuh.
“Setelah berbagai kejadian mistis, masyarakat setempat menerima pawisik untuk mendirikan pura di lokasi tersebut,” jelasnya.
Pendirian pura ini akhirnya terwujud dengan dukungan masyarakat Desa Pekraman Nyuh Kukuh. Rangkaian prosesi pembangunan melibatkan berbagai ritual adat untuk menghormati kekuatan magis yang diyakini ada di tempat itu.
Baca Juga: Fakta Terbaru! Bale Pesandekan di Mengwi Roboh Saat Masih Dikerjakan
Saat ini, pura tersebut menjadi simbol penting bagi masyarakat Nusa Penida dalam menjaga tradisi dan spiritualitas.
Pura Dalem Bias Muntig terbagi menjadi tiga mandala, sebagaimana lazimnya struktur pura di Bali. Utama Mandala menjadi area persembahyangan utama, Madya Mandala sebagai area transisi, dan Nista Mandala untuk aktivitas pendukung. Struktur ini mencerminkan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.
Piodalan di Pura Dalem Bias Muntig diadakan secara rutin setiap enam bulan sekali, tepat pada Buda Cemeng Langkir, empat hari setelah Hari Raya Kuningan. Perayaan ini menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat setempat.
Ritual piodalan biasanya berlangsung selama tiga hari, di mana umat Hindu dari berbagai daerah datang untuk bersembahyang.
Meskipun keberadaan Pura Dalem Bias Muntig belum sepenuhnya dikenal luas, jumlah pemedek yang datang ke pura ini terus meningkat.
Awalnya, pemedek yang datang hanya berasal dari Desa Pekraman Nyuh Kukuh. Kini, pengunjung dari luar desa bahkan Bali daratan turut meramaikan persembahyangan di pura ini.
Pada saat piodalan, masyarakat Desa Adat Nyuh Kukuh bersama kelompok pemudanya turut menyelenggarakan ile-ilen, sebuah tradisi hiburan khas yang digelar pada hari Umanis atau Pahing piodalan. Acara ini menjadi wujud syukur sekaligus sarana pelestarian budaya.
Selain sebagai tempat ibadah, Pura Dalem Bias Muntig juga memiliki daya tarik wisata spiritual.
“Banyak pemedek melaporkan merasakan “taksu” atau kekuatan magis yang kuat saat bersembahyang di pura ini. Hal ini menjadikan pura ini sebagai salah satu destinasi unik di Nusa Penida,” ungkapnya.
Pura Taman Bias Muntig dan Pura Dalem tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menyimpan nilai sejarah yang mendalam.
Cerita tentang Sang Ayu Mas Rajeg Bumi dan I Gede Mecaling menggambarkan peran penting mereka dalam membangun spiritualitas di Nusa Penida.
Dalam pengelolaannya, masyarakat setempat terus menjaga kesucian pura ini. Dukungan dari pemangku adat dan umat Hindu setempat menjadi faktor utama yang memastikan keberlanjutan tradisi di Pura Dalem Bias Muntig.
Pengalaman spiritual di Pura Dalem Bias Muntig juga menarik perhatian wisatawan asing. Mereka yang mencari ketenangan dan makna spiritual mendalam sering kali menyempatkan diri untuk mengunjungi pura ini.
Dengan letaknya yang strategis di Nusa Penida, Pura Dalem Bias Muntig memiliki potensi besar untuk menjadi ikon spiritual di Bali. Namun, pelestarian nilai-nilai tradisional harus tetap menjadi prioritas utama.
“Masyarakat Desa Pekraman Nyuh Kukuh merasa bangga dengan keberadaan pura ini. Mereka berkomitmen untuk terus menjaga dan mengembangkan pura sebagai warisan budaya yang bernilai tinggi,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika