BALIEXPRESS.ID – Aborsi dan keguguran seringkali menjadi pengalaman pahit yang sulit diungkapkan. Namun, dampaknya ternyata tidak hanya secara fisik tetapi juga memengaruhi kehidupan spiritual dan keberlangsungan rumah tangga.
Solusi dari permasalahan ini hadir melalui upacara Warak Keruron, sebuah tradisi spiritual Hindu Bali yang jarang diketahui.
Mengapa Upacara Warak Kruron Penting?
Menurut Ida Pandhita Mpu Yogiswara, upacara ini tidak hanya ditujukan bagi mereka yang melakukan aborsi secara sengaja, tetapi juga bagi keluarga yang kandungannya gugur sebelum lahir.
"Baik aborsi maupun keguguran, dampaknya sama buruknya. Bukan hanya bagi ibu, tetapi juga bagi ayah dan kehidupan rumah tangga mereka," jelasnya.
Dalam ajaran Hindu, aborsi disebut sebagai Dhanda Bharunana, sedangkan keguguran dikenal dengan Warak Kruron. Keduanya meninggalkan energi negatif yang memengaruhi kehidupan individu, seperti kesulitan rezeki, kegelisahan, hingga rentetan musibah.
Prosesi Upacara dan Makna Filosofis
Upacara Warak Kruron menggunakan Segehan Rare sebagai inti prosesi, simbolisasi Atman sang janin.
Segehan Rare berbentuk gumpalan nasi menyerupai janin yang masih melengkung.
Prosesi ini bertujuan untuk mengembalikan Atman ke alam suarga agar tidak menimbulkan masalah di alam Marcapada.
Upacara dimulai dengan Guru Piduka di Sanggah Kemulan, di mana orang tua memohon pengampunan kepada leluhur.
Kemudian, dilakukan Pacaruan Sapuh Awu di lokasi tempat aborsi atau keguguran terjadi, dilanjutkan dengan prosesi di perempatan agung, hingga puncaknya di laut.
"Prosesi ini tidak mahal dan dapat dilakukan secara sederhana. Yang penting adalah niat tulus untuk menebus kesalahan dan menghantarkan Atman sang janin dengan layak," ujar Ida Pandhita.
Aborsi Bukan Solusi, Upacara Ini Bukan Pembenaran
Ida Pandhita menegaskan bahwa upacara ini tidak dimaksudkan untuk membenarkan praktik aborsi ilegal.
"Aborsi tetaplah salah dan bertentangan dengan ajaran agama mana pun. Harapan kami, generasi muda tidak lagi melakukan kesalahan fatal ini," tegasnya.
Upacara Warak Kruron juga menyadarkan bahwa anak adalah titisan leluhur. Menggugurkan janin berarti melukai leluhur sendiri.
Oleh karena itu, tanggung jawab spiritual perlu dipenuhi agar tidak membawa dampak negatif sepanjang hidup. ***