Pemijilan Ida Bhatara Bhatara Sakti Ngerta Gumi dilaksanakan sepuluh tahun sekali pada saat tahun saka berakhir dengan angka nol dan tahun masehi berakhir dengan angka delapan atau disebut saka ngewindu. Karya ini terakhir dilaksanakan tahun 2018 silam.
Pada saat itu Ida Bhatara Sakti Ngerta Gumi dan Putra Beliau Ida Ratu Putra Piageng tedun nyejer katuran di Pura Bale Agung selama 35 hari dan di Pura Puseh selama 7 hari. Sehingga prosesnya selama satu bulan tujuh hari.
Bendesa Adat Selat Jro Mangku I Wayan Gede Mustika menjelaskan Pelaksanaan upacara pamijilan merupakan upacara Dewa Yadnya di Desa Adat Selat.
Tradisi ini oleh masyarakat setempat dimaknai untuk memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar berkenan menganugrahkan keharmonisan dan kesuburan.
Dijelaskan Mangku Mustika, keunikan dari tradisi Pamijilan ini adalah menggunakan lantaran dengan tikar di atas kain putih sepanjang 650 meter, yakni dari pesimpenan beliau di Pura Gaduh Sakti banjar Bingin sampai di Pura Bale Agung.
Di atas kain putih sepanjang ratusan meter ini kemudian dihaturkan nasi (ajengan) lengkap berisi ulam karangan, panca pala dan bakti krama. Berupa bakti canang sari dan lengkap dengan runtutannya.
“Tujuan dari pelaksanaan itu adalah untuk memohon keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan, bagi makhluk-makhluk hidup dalam kesempatan hidupnya. Kami sangat meyakini ritual ini memberikan nilai positif secara spiritual,” kata Jro Mustika.
Prosesi ini didahului dengan karya melasti. Tujuannya untuk menghanyutkan malaning bumi dan mendapatkan sarining bhuana atau tirta amerta.
Ritual ini dilaksanakan dengan mengusung arca atau pralingga ke segara untuk disucikan.
Setelah melasti dilanjutkan dengan mendak agung yang diikuti dengan pancaka tirta sebagai saksi tabuh gentuh dan pamijilan.
Pada saat Ida Bhatara Sakti Ngerta Gumi dan Putra Beliau Ida Ratu Putra Piageng melewati nasi lantaran, maka nasi tersebut diambil oleh krama
“Lantaran yang berisi nasi ini biasanya ditunas oleh krama desa selat, Bahkan ada krama dari luar selat juga nunas. Mereka meyakini ajengan yang ditunas ini akan memberikan kesehatan dan kekuatan. Selain ditunas juga dibawa pulang dan ditaburkan di tempat beras, di tempat jualan, sawah atau pekarangan. Sehingga apapun usahanya semakin meningkat,” paparnya.
Setelah distanakan di Pura Bale Agung, maka beliau nyejer selama 35 hari. Maka saat ngaturang penganyar dilengkapi dengan wewalen dan Salaran.
Baca Juga: Tersinggung Ditanya soal Motor, Kawanan Pemabuk Keroyok Seorang Pemuda: Begini Kejadiannya
Sarana ini dibuat dari pala gantung pala wija serta umbi umbian dengan bentuk dan ukuran yang beragam.
Salaran itu dipersembahkan dari masing-masing Desa Pengarep. Mereka akan menghaturkan secara silih berganti selama Ida nyejer di Bale Agung. Upacara pamijilan ini nyejer selama 1 bulan 7 hari.
Semua Salaran ayahan krama akan diletakkan di depan banten tempat Ida Bhatara Ngerta Gumi melinggih.
Salaran berbentuk seperti Barong, Gajah, Kapal Laut, Kacang kacangan serta hasil bumi Pala Bungkah, Palawija, Pala Gantung.
“Salaran dalam Sarana upacara Pamijilan di Desa Adat Selat ini terdiri dari bentuk yang merupakan visualisasi barong, maupun hewan berkaki empat, perahu, ikan, ataupun makhluk lainnya,” sebut Jro Mangku Mustika. (dik)
Editor : I Putu Mardika