BALIEXPRESS.ID – Di Desa Pakraman Seribatu, Kecamatan Susut, Bangli, tradisi Hindu Bali, Maprani Desa menjadi ritual sakral yang harus dilaksanakan setiap tahun menjelang Nyepi, tepatnya pada malam Tilem Sasih Kasanga atau malam Pangerupukan.
Warga desa percaya, jika ritual ini tidak dilaksanakan, desa akan dihantui oleh gerubug atau wabah yang membawa musibah.
Tradisi Nasi Selasar: Simbol Kebersamaan dan Doa
Dalam tradisi ini, setiap warga atau krama desa menyiapkan sesajen khas yang disebut Nasi Selasar, terdiri dari nasi putih, daging ayam, buah-buahan, dan jajanan khas yang disusun dalam bokor atau tamas.
Setelah prosesi Tawur Kasanga di ujung desa, Maprani dilaksanakan pukul 18.00 WITA, dengan warga duduk di jalan raya sesuai posisi rumah mereka—timur atau barat jalan raya.
“Tradisi ini menjadi momen kebersamaan. Warga makan bersama di jalan raya dengan penuh suka cita, bahkan saling berbagi makanan. Jika ada warga yang belum hadir, prosesi belum bisa dimulai. Semua harus menunggu,” ujar Tokoh Adat Seribatu, I Wayan Badung Suarmana alias Jero Badung.
Sejarah Maprani dan Kejadian Mistis Akibat Absen Ritual
Maprani telah berlangsung turun-temurun selama ratusan tahun.
Meskipun asal-usulnya tidak banyak diketahui, nilai religiusnya sangat dijunjung tinggi oleh warga.
Jero Badung mengungkapkan, pernah ada dua tahun di mana Maprani ditiadakan karena ada warga meninggal.
Akibatnya, desa dilanda musibah bertubi-tubi, seperti banyak warga jatuh sakit hingga meninggal dunia.
“Setelah Maprani absen dua kali, wabah datang silih berganti. Ada warga yang jatuh di jalan dan meninggal. Sejak saat itu, kami percaya Maprani wajib dilakukan tanpa alasan,” tambahnya.
Nilai Filosofis Maprani
Lebih dari sekadar tradisi, Maprani menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur atas berkah yang diterima selama setahun.
Selain itu, warga memanjatkan doa untuk keselamatan, kesehatan, dan kedamaian desa di tahun baru Caka.
“Tradisi ini menjaga keharmonisan antarwarga, mencegah konflik, sekaligus menjadi bentuk doa agar tahun baru lebih baik,” jelas Jero Badung.
Ritual yang Unik dan Mengundang Perhatian
Keunikan Maprani terletak pada pelaksanaannya di badan jalan raya, yang memungkinkan pengendara menyaksikan langsung warga desa makan bersama.
Pemandangan ini menjadi daya tarik tersendiri, sekaligus mencerminkan kekuatan tradisi dalam mempersatukan masyarakat.
“Maprani adalah wujud komitmen kami untuk menjaga tradisi leluhur dan menghormati nilai-nilai keagamaan yang kami anut. Apapun yang terjadi, Maprani akan tetap digelar setiap tahun,” pungkas Jero Badung.
Pesan Sakral Tradisi Maprani
Bagi krama Desa Seribatu, Maprani bukan sekadar ritual, tetapi sebuah kewajiban yang harus dijalankan demi menjaga keselamatan desa dari ancaman musibah.
Tradisi ini menjadi pengingat betapa pentingnya harmoni, kebersamaan, dan doa dalam kehidupan bermasyarakat.
Dengan semangat yang terus dijaga, tradisi Maprani menjadi bukti nyata bahwa warisan leluhur memiliki kekuatan untuk menyatukan, melindungi, dan membawa berkah bagi sebuah komunitas. ***
Editor : I Putu Suyatra