Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Nginang: Warisan Leluhur Bali yang Sarat Makna dan Manfaat

I Putu Mardika • Minggu, 29 Desember 2024 | 19:07 WIB

Tradisi Nginang menjadi budaya orang Bali sejak dahulu yang kaya manfaat
Tradisi Nginang menjadi budaya orang Bali sejak dahulu yang kaya manfaat
BALIEXPRESS.ID-Tradisi nginang, yang telah dilaksanakan oleh masyarakat Bali sejak zaman dahulu hingga saat ini, masih ditemukan meskipun mulai jarang dilakukan.

Aktivitas ini lebih sering dilakukan oleh para lansia, namun di balik kelangkaannya, nginang ternyata memiliki manfaat kesehatan, khususnya bagi gigi dan mulut.

Gede Sutana, S.Kes, M.Si, seorang praktisi usadha Bali, menjelaskan bahwa nginang adalah aktivitas mengunyah daun sirih yang dicampur dengan kapur tohor, biji pinang, dan gambir.

“Nginang adalah kebiasaan warisan leluhur yang sudah sangat langka dan hampir punah di Bali,” ujarnya.

Menurut Sutana, tradisi nginang semakin terpinggirkan di era modern ini.

Generasi muda cenderung menganggap aktivitas ini kurang menarik atau bahkan jorok, sehingga peminatnya hanya terbatas pada orang-orang tertentu.

Selain itu, gencarnya promosi produk pasta gigi oleh perusahaan dan pegiat kesehatan memperkuat persepsi bahwa cara terbaik menjaga kebersihan gigi adalah dengan menggosok gigi menggunakan pasta gigi, bukan nginang.

Di Bali, nginang umumnya dilakukan oleh para lansia dan sering disuguhkan dalam konteks ritual.

Tradisi ini menjadi bagian dari suguhan untuk tamu, Sulinggih, dan Pemangku, serta menjadi elemen penting dalam upacara adat dan persembahyangan.

Bahan utama dalam nginang, seperti daun sirih, kapur, biji pinang, dan gambir, diatur sedemikian rupa sebelum dikunyah.

Proses ini menghasilkan air liur berwarna merah yang kadang dibuang atau ditelan, tergantung kebiasaan penginang.

Manfaat nginang bagi kesehatan gigi dan mulut telah didukung oleh penelitian.

Kebiasaan ini membantu menjaga kesehatan gigi, mengurangi risiko gigi berlubang, dan menjaga kekuatan gigi hingga usia lanjut meskipun gigi menjadi berwarna kekuningan atau kemerahan.

Kandungan antiseptik pada daun sirih dan gambir memberikan perlindungan dari kuman penyebab sakit gigi dan bau mulut.

Senyawa fitokimia di dalamnya membantu mencegah pertumbuhan bakteri, sementara kapur mengandung kalsium yang baik untuk kesehatan tulang dan gigi.

Tembakau yang digunakan dalam campuran nginang juga memiliki manfaat lain, yaitu membantu menyembuhkan luka karena kandungan alkaloid, saponin, flavonoid, dan polifenol di dalamnya.

Dikatakan Sutana, pada masa lalu, setiap rumah di Bali memiliki tempat sirih yang disebut pabuan, lengkap dengan alat penghancurnya, penyokcokan.

Alat ini membantu mereka yang tidak dapat mengunyah sirih secara langsung, terutama orang tua yang giginya sudah ompong.

Pabuan dan penyokcokan sering kali dibuat dengan desain artistik, menunjukkan status sosial penggunanya.

Dalam konteks keluarga kerajaan, penggunaan pabuan sering diiringi dengan tradisi membawa alat ini oleh petugas wanita, menambah nilai simbolis dan estetis tradisi tersebut.

Tradisi nginang juga terkait dengan aspek hubungan suami istri.

Sebelum bersanggama, pasangan lazim memulai dengan mengunyah sirih pinang untuk menambah daya seksual, mengharumkan napas, dan menciptakan suasana yang harmonis.

Dalam upacara pernikahan di Bali, sirih pinang menjadi simbol persatuan dan ajakan cinta. Panasnya buah pinang dan dinginnya daun sirih melambangkan harmoni dalam hubungan suami istri.

Selain nilai sosial dan kesehatan, tradisi nginang juga memiliki makna religius, yaitu sebagai simbol pemujaan kepada Tri Murti.

"Campuran sirih, pinang, dan kapur melambangkan Brahma, Wisnu, dan Siwa melalui kesesuaian warna merah, hijau, dan putih," ujarnya.

Konsep ini sesuai dengan ajaran dalam kitab-kitab Purana, di mana warna-warna tersebut memiliki simbolisme mendalam.

Dengan demikian, nginang tidak hanya menjadi aktivitas fisik, tetapi juga bagian dari praktik spiritual Hindu yang kaya makna. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #Tri Murti #sirih #tradisi #nginang