BALIEXPRESS.ID - Pura Laban yang terletak di Banjar Sindu, Desa Sayan, Ubud, Gianyar, Bali, menyimpan banyak cerita unik dan magis. Tidak seperti tempat suci Hindu Bali lainnya yang biasanya diempon oleh satu komunitas warga di suatu desa, Pura Laban memiliki keistimewaan tersendiri.
Pura ini didukung oleh 70 subak yang tersebar di tiga kabupaten: Gianyar, Badung, dan Denpasar.
Keberadaan Pura Laban dan Perannya di Tiga Kabupaten
Jero Mangku Made Naya, pemangku Pura Laban, mengungkapkan bahwa pura ini telah lama berdiri di dekat campuhan aliran Sungai Yeh Lauh.
Posisinya yang strategis menjadikannya sebagai tempat penting bagi puluhan subak yang mendapatkan aliran air dari sungai tersebut.
"Ini satu-satunya pura yang diempon oleh 70 subak di tiga kabupaten," ungkapnya.
Subak-subak ini memiliki tanggung jawab kolektif untuk menjaga keberlangsungan pura, terutama pada saat piodalan yang jatuh setiap Pagerwesi, Buda Kliwon Sinta, setiap enam bulan sekali.
Dalam acara ini, ribuan krama hadir, sementara Subak Bija dari Desa Sayan bagian selatan menjadi penanggung jawab utama pelaksanaan upacara.
Pesona Magis dan Kisah Mistis Pura Laban
Selain keunikannya sebagai Ulun Suwi bagi tiga kabupaten, Pura Laban juga memiliki sisi magis yang membuatnya semakin menarik.
Berlokasi di atas jurang dengan pemandangan aliran Sungai Yeh Lauh, suasana pura ini terasa mistis, terutama saat malam hari.
Salah satu daya tarik mistisnya adalah palinggih di bawah pohon beringin besar yang dianggap sebagai rumah makhluk halus.
Menurut Jero Mangku Naya, banyak pamedek yang memohon keturunan di tempat ini.
"Ada pasangan yang sudah lama tidak memiliki anak, lalu nunas di sini, dan beberapa bulan kemudian mereka hamil," ceritanya.
Keajaiban ini telah menyebar dari mulut ke mulut, menjadikan palinggih tersebut populer di kalangan warga.
Tidak hanya itu, dalam prosesi ngarap bade untuk upacara palebon, krama banjar sering memohon bantuan makhluk halus di palinggih ini agar bade yang berat terasa ringan.
"Sempat ada bade besar dan tinggi, namun setelah memohon di palinggih beringin, bade itu terasa ringan saat diusung hingga ke setara," tambahnya.
Keunikan dan Misteri yang Mengundang Rasa Penasaran
Meskipun asal-usul nama Pura Laban tidak diketahui secara pasti, keberadaannya sebagai Ulun Suwi dari tiga kabupaten menjadikannya sangat unik.
Banyak petani yang datang menghaturkan sesajen untuk memohon keberkahan, terutama saat sawah mereka diserang hama.
Setelah memohon, panen biasanya kembali normal, menambah kepercayaan masyarakat terhadap keajaiban pura ini.
Bagi yang ingin berkunjung, tidak perlu membawa sesajen besar.
"Cukup dengan canang sederhana, niat yang tulus lebih penting," kata Jero Mangku Naya.
Setelah keinginan terkabul, para pamedek biasanya kembali untuk menepati janji atau naur sesangi sesuai dengan nazar mereka.
Pura Laban bukan hanya tempat suci, tetapi juga saksi hidup tradisi, keajaiban, dan misteri yang memikat siapa saja yang datang.
Apakah Anda siap untuk menjelajahi keunikan dan keajaiban pura ini?
Editor : I Putu Suyatra