Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Batu Medau Nusa Penida Diyakini Berusia Ribuan Tahun, Erat dengan Kisah I Renggan, Begini Sejarahnya

I Putu Mardika • Rabu, 1 Januari 2025 | 21:31 WIB

 

Areal Utama Mandala Pura Batu Medau di Nusa Penida, Klungkung
Areal Utama Mandala Pura Batu Medau di Nusa Penida, Klungkung
BALIEXPRESS.ID-Terletak di Desa Suana, bagian timur Pulau Nusa Penida, Klungkung, Pura Kahyangan Jagat Batu Medau menjadi salah satu destinasi spiritual yang menyimpan sejarah unik.

Dikelilingi oleh deburan ombak di pinggir pantai, pura ini menyuguhkan suasana khidmat dan keindahan alam yang harmonis.

Keberadaan Pura Batu Medau tidak hanya menjadi tempat persembahyangan, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Pemangku Pura Batu Medau, Jro Mangku Nyoman Karda Budi Laksana, menjelaskan bahwa sejarah pura ini diperintahkan dibuat oleh cucu Dukuh Jumpungan yaitu I Renggan agar membuat pura yang ada Meru Tumpang sebelas di sebelah utara dan timur (kaja kangin).

Tentu saja pura ini berkaitan erat dengan kisah I Renggan, cucu Dukuh Jumpungan, yang diceritakan dalam Babad Nusa Penida. Ia menyebut jika pura ini sudah berusia ribuan tahun.

“Konon, menurut cerita, I Renggan memiliki ambisi untuk menaklukkan Bali dengan menggunakan perahu sakti yang mampu membelah daratan menjadi laut,” kata Jro Mangku Karda.

Dalam perjalanan menuju Bali, perahu sakti I Renggan dikisahkan membelah Nusa Penida menjadi tiga bagian yakni Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan.

Namun, rencananya terganggu oleh Ida Bhatara Tolangkir yang bersemayam di Gunung Agung.

“Ida Bhatara membuat I Renggan tertidur, sehingga perahunya tidak terkendali dan menyerempet Manggis, Karangasem. Peristiwa ini menciptakan pulau-pulau kecil di sekitar Padang Bai yang masih ada hingga kini,” jelasnya.

Setelah rencananya gagal, I Renggan kembali ke Nusa Penida. Di bagian timur pulau, perahunya ditambatkan tetapi malah membelah bebatuan di pinggir pantai. Peristiwa inilah yang menjadi asal-usul nama “Medau”, dari kata “Perahu Medah Batu”.

“Jika diperhatikan, bebatuan di lokasi ini menyerupai bentuk perahu dengan ujung yang menjulur ke laut,” jelas Mangku Karda.

“Di pura ini ada batu yang bentuknya menyerupai perahu. Anehnya, batu menyerupai perahu ini bertumpu di atas batu. Ini mungkin keajaiban,” katanya.

Pura Batu Medau sendiri terdiri dari beberapa bagian, salah satunya adalah Pura Segara yang terletak di ujung perahu. Pura ini menjadi simbol hubungan antara daratan dan lautan, atau konsep “nyegara gunung”. Pemangku pura percaya bahwa harmoni alam semesta terwujud di tempat ini.

Mangku Karda juga menceritakan bahwa perahu I Renggan menyimpan banyak bahan makanan dan harta berharga. “Harta tersebut memberikan berkah bagi masyarakat sekitar dan menjadi alasan mengapa Ida Bhatara yang berstana di Pura Batu Medawu dipercaya memberikan kesejahteraan dan kebijaksanaan,” katanya.

Pura Batu Medawu memiliki kaitan erat dengan Pura Dalem Ped, yang disebut-sebut sebagai pusat spiritual untuk memohon “taksu” atau kekuatan kepemimpinan.

“Kedua pura ini saling melengkapi. Batu Medawu menjadi tempat memohon kebijaksanaan, sedangkan Dalem Ped untuk memohon kekuatan dan kewibawaan,” ujar Mangku Karda

Pura Batu Medawu juga dikenal sebagai salah satu pura tertua di Nusa Penida, bersama Pura Dalem Ped.

“Secara tradisional, pura-pura ini membagi wilayah Nusa Penida menjadi dua bagian. Desa Mentigi ke timur merupakan pangempon Batu Medawu, sedangkan Kutampi ke barat merupakan pangempon Dalem Ped,” jelasnya.

Setiap tahun, kedua pura ini menggelar upacara pangusaban yang mempertemukan Ida Bhatara dari seluruh pura di Nusa Penida. Upacara ini dilakukan secara bergantian antara Pura Batu Medawu dan Pura Dalem Ped, mencerminkan keharmonisan dan persatuan masyarakat.

Pujawali di Pura Batu Medau berlangsung setiap enam bulan sekali, pada hari Buddha Kliwon Pahang atau rahina Pegatwakan. Selain itu, Pura Batu Medawu termasuk dalam konsep Tri Purusha di Nusa Penida, bersama Pura Dalem Ped dan Pura Puncak Mundi, yang kemudian berkembang menjadi Sad Kahyangan.

Bagi pemedek yang hendak bersembahyang, ritual dimulai dari Pura Segara, dilanjutkan ke Pura Taman, dan berakhir di jeroan Pura Batu Medawu.

“Di sini, umat Hindu memohon kebijaksanaan dan berkah dari Hyang Widhi,” terang Mangku Karda.

Pura Batu Medawu juga memiliki arca batu berbentuk lingga yoni yang sangat dikeramatkan. Arca ini menjadi simbol kesucian dan kekuatan spiritual bagi masyarakat Nusa Penida.

Konsep nyegara gunung yang diusung Pura Batu Medau mencerminkan perpaduan harmonis antara daratan dan lautan.

Hal ini tidak hanya memperkuat nilai-nilai spiritual umat Hindu, tetapi juga menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin merasakan keindahan dan kedamaian di tempat ini.

Pura Batu Medawu diempon oleh separuh desa adat di Nusa Penida, mulai dari Desa Adat Kutampi Atas hingga bagian selatan dan timur. Peran pura ini sangat penting dalam kehidupan masyarakat sebagai pusat spiritual dan kebijaksanaan.

Menurut Mangku Karda, Pura Batu Medau tidak hanya menjadi tempat pemujaan, tetapi juga pusat edukasi spiritual yang mengajarkan keseimbangan antara manusia dan alam semesta. “Keharmonisan inilah yang menjadi inti dari konsep Tri Hita Karana,” katanya.

Melalui kisah sejarah dan keindahan alamnya, Pura Batu Medawu terus menjadi saksi bisu perjalanan spiritual masyarakat Nusa Penida. Dari sini pula, nilai-nilai kebijaksanaan dan keharmonisan terus diwariskan dari generasi ke generasi. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#I Renggan #Dukuh Jumpungan #pura #klungkung #nusa penida #Batu Medau