Beragam jenis daging yang dipersembahkan juga sarat akan makna dalam panca yadnya.
Cendikiawan Hindu, Dr. I Ketut Rupawan, M.Ag, menjelaskan dalam praktiknya, sarana pokok bebantenan meliputi dedaunan, bunga, biji-bijian, buah-buahan, sayuran, nasi, telur, dan daging binatang.
Daging, yang dalam bahasa Bali disebut ulam, merupakan unsur penting dalam setiap upacara. Unsur ini mencakup bahan dari tumbuh-tumbuhan, hewan bertelur, hingga hewan yang melahirkan.
Pengaruh ajaran Tantrayana sangat kentara dalam pelaksanaan ritual Hindu Bali. Salah satu ajaran utamanya adalah Panca Ma diantaranya Matsya, Mamsa, Mada, Mudra, dan Maituna.
“Dari lima unsur tersebut, mamsa atau daging menjadi hal yang dominan dalam bebantenan, baik dalam skala kecil maupun besar. Walaupun hanya menggunakan telor, itu juga menjadi bagian dari daging” jelasnya.
Menurut Lontar Durga Dewi dan Widhi Sastra, sebut Rupawan ada tiga jenis ulam utama yang digunakan dalam banten ayaban tingkat bebangkit, yakni gayah puspus, gayah sari, dan gayah utuh.
“Gayah ini dipersembahkan kepada Dewi Durga, sesuai dengan sloka pengantar dalam lontar tersebut,” katanya.
Ia menambahkan, ada banyak lontar lain yang membahas filosofi dan praktik bebantenan, seperti Widhi Sastra, Dewa Tattwa, Pelutuk Dewa Yadnya, Tutur Rare Angon, dan Rare Angon.
Ulam yang digunakan dalam bebantenan dikelompokkan berdasarkan asalnya, yakni air dari sungai, laut, sawah, danau, daratan, hutan, dan angkasa (burung).
Lontar juga membagi jenis ulam menjadi dua jenis, yakni ulam selam dan ulam kapir. Ulam selam mencakup itik, telurnya, ikan laut, kambing, dan kerbau.
Sementara itu, ulam kapir meliputi Babi dan Ayam. Kedua jenis ini memiliki fungsi spesifik dalam berbagai jenis banten.
Baca Juga: Awal 2025 Berdarah! Dua Remaja Dikeroyok dan Ditusuk di Jalan Mertasari Sanur
Ia menambahkan, Banten dapat diklasifikasikan berdasarkan strukturnya, yakni sebagai kepala (banten suci, catur, dan daksina), badan (rayunan, ajuman, sorohan), dan kaki (segehan, caru, tawur).
Selain itu, ada banten untuk permohonan khusus seperti sesayut dan tebasan, serta banten penyucian seperti panglukatan dan durmanghala.
Penggunaan ulam dalam banten suci dan daksina mengutamakan ulam selam. Banten ayaban menggunakan kombinasi ulam selam dan kapir.
“Sementara itu, banten caru dan tawur sering melibatkan berbagai jenis hewan, mulai dari ayam, itik, hingga babi,” imbuhnya.
Banten sesayut dan tebasan juga mengintegrasikan ulam selam maupun kapir. Namun, untuk banten penyucian tingkat alit seperti panglukatan, ulam biasanya tidak digunakan.
Pada banten padudusan, baik ulam selam maupun kapir dapat ditemukan.
Baca Juga: Sosok Agus Aryawan, Pimpin DPMPTSP Badung Raih Puluhan Pengargaan
Olahan ulam dalam bebantenan juga beragam. Beberapa digunakan dalam bentuk mentah, seperti kulit binatang pada banten caru.
Ulam mentah berupa telur sering ditemukan dalam banten pejati atau daksina. Sementara itu, olahan seperti sate, lawar, dan urab-urab menjadi bagian dari banten ayaban.
Banten caru atau tawur memanfaatkan kulit binatang seperti ayam hitam, ayam brumbun, dan ayam sembilan warna.
“Kulit ini digunakan untuk tapakan atau titi mahmah, kecuali untuk pala kiwa kebo yang khusus digunakan di sanggar tawang,” katanya.
Telur mentah juga ditemukan dalam banten sesantun sarwa 4, sarwa 8, dan sarwa 16. Sedangkan, telur rebus digunakan dalam banten rayunan, ajuman, dan dampulan.
Bentuk olahan lain seperti jejatah mentah, serapah, dan timbungan menambah dimensi estetika dan simbolis banten.
Baca Juga: Laka Lantas Libatkan Sepeda Motor dan Truk di Jembrana, Penumpang Motor Tewas: Begini Kejadiannya
Berbagai jenis ulam olahan mencerminkan kompleksitas dan keindahan filosofi bebantenan. Lawar, urutan, dan oret-oret tidak hanya memenuhi fungsi simbolis tetapi juga estetika.
Kombinasi ini menjadikan bebantenan sebagai sarana yang menghubungkan manusia dengan kekuatan Ida Sang Hyang Widhi.
Sebagai salah satu bentuk tradisi yang sarat makna, bebantenan memerlukan pemahaman mendalam tentang komposisi dan fungsinya.
Setiap elemen, dari yang sederhana hingga kompleks, mencerminkan keyakinan akan harmonisasi antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Dengan demikian, bebantenan bukan sekadar tradisi, melainkan sebuah cerminan nilai-nilai spiritual yang terus dilestarikan oleh masyarakat Hindu Bali.
“Filosofi dan simbolisme yang terkandung di dalamnya menjadikan bebantenan sebagai warisan budaya yang unik dan penuh makna,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika