Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah Mistis di Pura Gunung Merta Gianyar: Mengapa Sulinggih Pantang Memuput Upacara di Tempat Suci Hindu Bali Ini?

I Putu Suyatra • Sabtu, 4 Januari 2025 | 14:49 WIB
Pura Gunung Merta di Banjar Madangan Kaja, Desa Petak, Gianyar, Bali
Pura Gunung Merta di Banjar Madangan Kaja, Desa Petak, Gianyar, Bali

BALIEXPRESS.ID - Pura Gunung Merta di Banjar Madangan Kaja, Desa Petak, Gianyar, Bali, menyimpan kisah mistis yang membuatnya berbeda dari pura-pura lainnya.

Di tempat suci Hindu Bali ini, pantang bagi seorang sulinggih (pendeta) untuk memuput prosesi upacara, sebuah aturan yang terus dijaga hingga kini.

Kisah Tragis 30 Tahun Silam

Pemangku Pura Gunung Merta, Jero Mangku Wayan Arman, didampingi Tokoh Adat Madangan Kaja, I Nyoman Tempil, mengungkapkan bahwa kepercayaan ini berawal dari peristiwa 30 tahun lalu.

Saat itu, seorang sulinggih yang memberanikan diri memuput upacara di Pura Gunung Merta mendadak jatuh sakit hingga meninggal dunia setelah piodalan berlangsung.

Kejadian ini dipercaya sebagai peringatan bahwa Pura Gunung Merta memiliki pantangan yang harus dihormati.

Perubahan Fungsi dan Sejarah Pura

Menurut Jero Mangku, Pura Gunung Merta awalnya dikenal sebagai Pura Dalem yang digunakan warga Bangli untuk memuja.

Seiring waktu, pura ini berubah menjadi Pura Gunung Merta dengan ciri khas utama berupa Palinggih Bujangga di utama mandala.

Palinggih ini diyakini sebagai tempat berstana Ida berupa sulinggih, sehingga prosesi upacara cukup dipimpin oleh pemangku.

"Karena Ida yang berstana berupa sulinggih, maka tidak perlu lagi dipuput oleh sulinggih. Cukup oleh pemangku," jelas Jero Mangku.

Tradisi dan Keunikan Pura Gunung Merta

Selain keunikan pantang dipuput oleh sulinggih, Pura Gunung Merta juga memiliki tempat melukat (penyucian diri) yang sering dikunjungi umat.

Lokasinya berada di bagian timur pura, sekitar setengah kilometer menurun dari areal pura utama.

Pura ini diempon oleh 59 krama pangarep dan 232 kepala keluarga Banjar Madangan Kaja.

Piodalan Pura Gunung Merta jatuh pada Wuku Julungwangi, berlangsung selama lima hingga tujuh hari.

Akses Mudah Menuju Pura

Bagi yang ingin sembahyang atau melukat, akses menuju Pura Gunung Merta cukup mudah.

Dari Taman Kota Gianyar, perjalanan hanya memakan waktu sekitar 20 menit ke arah barat menuju Kelurahan Bitera.

Setelah sampai di pertigaan Desa Petak, lanjutkan perjalanan sejauh dua kilometer ke utara hingga tiba di Banjar Madangan Kaja.

Tepat di sebelah timur Pura Ulun Suwi, Anda akan menemukan Pura Gunung Merta yang penuh dengan nilai sejarah dan spiritualitas mendalam.

Pura Gunung Merta tidak hanya menjadi tempat pemujaan, tetapi juga menjadi saksi hidup tradisi dan kepercayaan yang terjaga selama puluhan tahun.

Keunikan ini menjadikan pura ini salah satu destinasi spiritual yang wajib dikunjungi. Apakah Anda berani merasakan aura mistisnya? *** 

 

 
Editor : I Putu Suyatra
#bali #gianyar #sulinggih #hindu #Pura Gunung Merta