Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah dan Makna Wayang Sapuh Leger: Ritual Sakral Hindu Bali Penolak Bala di Tumpek Wayang

I Putu Suyatra • Minggu, 5 Januari 2025 | 02:46 WIB

Wayang Sapu Leger
Wayang Sapu Leger

BALIEXPRESS.ID - Bagi umat Hindu Bali, kelahiran pada hari Tumpek Wayang membawa makna yang unik dan penuh tantangan spiritual.

Untuk menangkal ancaman dari Bhatara Kala, tradisi menanggap Wayang Sapuh Leger menjadi keharusan.

Namun, siapa sangka, prosesi ini menyimpan makna mendalam, baik bagi yang diruwat maupun sang dalang yang memainkannya.

Dalang Wayang Sapuh Leger: Bukan Sekadar Seniman

Menjadi dalang dalam pertunjukan Wayang Sapuh Leger bukanlah perkara sederhana. Selain menguasai seni pewayangan, seorang dalang harus menjalani ritual khusus untuk mencapai kematangan spiritual.

Dalam budaya Bali, dalang bukan hanya seniman, tetapi juga dianggap sebagai saman atau medium spiritual yang mampu menurunkan roh leluhur.

Oleh karena itu, seorang dalang memiliki posisi yang setara dengan pemangku atau pendeta Hindu.

Tidak heran jika masyarakat Bali kerap mengingatkan, “Dalang bukan sekadar pemain wayang, tetapi penjaga warisan leluhur yang sarat spiritualitas.”

Sejarah dan Makna Wayang: Bayangan Leluhur yang Hidup

Wayang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Nusantara sejak era pra-Hindu. Dalam kepercayaan kuno, wayang dianggap sebagai medium komunikasi dengan roh leluhur.

Istilah seperti Prabayang (bayangan leluhur) atau Wahyayang (cerita leluhur yang dituturkan) menunjukkan kedalaman makna seni ini dalam kehidupan spiritual masyarakat.

Wayang mulai mendapatkan pengaruh Hindu sejak abad ke-5, terlihat dari relief di Candi Prambanan.

Di Bali, jejak seni wayang bahkan tercatat dalam Prasasti Bebetin Singaraja dari tahun 896, yang menyebut pertunjukan wayang sebagai bagian dari kesenian istana.

Wayang Sapu Leger: Pertunjukan Sakral untuk Ruwatan

Di antara berbagai jenis wayang di Bali, Wayang Sapu Leger memiliki fungsi unik sebagai ritual penolak bala.

Pertunjukan ini khusus digelar untuk meruwat mereka yang lahir pada hari Tumpek Wayang, karena diyakini berada di bawah ancaman Bhatara Kala.

Cerita Wayang Sapu Leger berpusat pada kelahiran Bhatara Kala dan Rare Kumara, anak dari Bhatara Siwa.

Dikisahkan, Bhatara Kala ingin memangsa Rare Kumara yang lahir bersamaan dengannya.

Namun, berkat kecerdikan sang dalang dan sesaji persembahan, Rare Kumara berhasil selamat.

Kisah ini kemudian menjadi landasan pentingnya pelaksanaan ruwatan Wayang Sapuh Leger.

Keunikan Ritual Wayang Sapuh Leger

Berbeda dengan pementasan wayang biasa, Wayang Sapu Leger memiliki keunikan dalam tata cara penyelenggaraannya:

Setiap elemen ritual ini memiliki makna mendalam, mulai dari benang yang melambangkan penghubung spiritual, hingga ranting kayu yang merepresentasikan kekuatan hidup.

Magis dan Religius: Pesan di Balik Wayang Sapu Leger

Drs. I Gede Anom Ranuara, S.Sn, menjelaskan bahwa sakralitas Wayang Sapu Leger terletak pada cerita yang dimainkan serta sesaji yang menyertainya.

Pertunjukan ini bukan hanya ritual budaya, tetapi juga sarana pengingat akan pentingnya menjaga harmoni antara manusia, leluhur, dan alam semesta.

Bagi masyarakat Hindu Bali, Wayang Sapu Leger lebih dari sekadar seni. Ia adalah penjaga tradisi, warisan leluhur, dan jembatan spiritual yang terus hidup di tengah zaman modern. *** 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#ritual #bali #Tumpek wayang #sakral #Penolak Bala #hindu #sapuh leger