Bhatara Siwa Giri Natha beserta dengan Saktinya inilah sebagai Ista Dewata tertinggi yang di puja di Pura Teluk Biyu ini.
Pura Tulukbiyu berdiri di sebelah timur jalan raya utama yang menghubungkan Bangli dengan Singaraja. Letaknya berdampingan dengan Pura Ulun Danu Batur.
Sepintas, kedua pura ini tampak sebagai bagian dari kompleks yang sama, namun masing-masing memiliki karakteristik unik.
Nama “Tulukbiyu” diyakini berasal dari istilah “Kulitbiyu” yang tercatat dalam prasasti Air Hawang tahun 1011 Masehi.
Nama ini mengalami transformasi menjadi Tulukbiyu pada tahun 1181 M, sebagaimana tercatat dalam prasasti Er Abang.
Pura Tulukbiyu dulunya terletak di Desa Abang, di tepi Danau Batur. Letusan Gunung Batur yang kerap terjadi memaksa penduduk memindahkan pura ini ke lokasi yang lebih aman.
Langkah ini memastikan kelangsungan warisan spiritual dan budaya yang tersimpan di dalam pura.
Pura Tulukbiyu menyimpan sejumlah peninggalan arkelogi yang mencakup prasasti tembaga, arca, porselen dari Dinasti Ming, dan berbagai peralatan upacara.
Di antara temuan paling berharga adalah prasasti Air Hawang dan Er Abang yang memberikan informasi mendalam tentang struktur sosial dan keagamaan Bali kuno.
Prasasti bertahun 1011 M ini menyebutkan raja Paduka Sri Dharmodayana Warmadewa dan penggunaan bahasa Jawa Kuno dengan beberapa elemen Bali Kuno.
Selain itu, prasasti ini mencatat pentingnya pemeliharaan kuda dalam transportasi barang dan manusia di Bali masa itu.
Diterbitkan pada tahun 1181 M, prasasti ini mencatat nama raja Jayapangus dan permaisurinya. Selain menyebutkan nama Bhatara di Tulukbiyu, prasasti ini juga mendokumentasikan penyelesaian konflik antara penduduk lokal dan pejabat pemerintah.
Pura ini memiliki dua arca emas yang dikenal sebagai Betara dan Betari Tulukbiyu, menggambarkan Dewa Siwa dan Dewi Parwati.
Arca-arca ini diperkirakan berusia lebih dari 850 tahun dan menjadi simbol keagungan tradisi Hindu-Bali.
Di antara koleksi lainnya adalah sebuah arca porselen dari Tiongkok yang menggambarkan binatang gaib. Artefak ini menunjukkan hubungan perdagangan internasional Bali pada abad ke-14.
Pemangku Pura Tuluk Biyu, Jro Nyarikan Alitan menjelaskan Pura Tuluk Biyu merupakan stana dari Bhatara Siwa Giri Natha dan Bhatari Uma Parwati. Keduanya diwujudkan dalam bentuk Arca (Pratima) di Pelinggih Meru.
Dua arca emas setinggi kurang lebih 30cm yang merupakan perwujudan simbolik Ida Bhatara Siwa Giri Natha dan Ida Bhatara Uma Parwati.
Bhatara Siwa Giri Natha dan Bhatari Uma Parwati juga di puja dalam Palinggih Meru Tumpang Sembilan dan Meru Tumpang Tujuh.
Meru Tumpang Sembilan ini didirikan di bagian sisi Timur Jeroan Pura Tuluk Biyu dan disebelah atau di selatannya atau sebelah kirinya Meru Tumpang Tujuh.
Umat umumnya menyebutnya Meru Tumpang sembilan ini sebagai pelinggih Ida Bhatara Sakti Tuluk Biyu Puri Kaleran sedangkan Meru Tumpang Tujuh sbagai pelinggih Ida Bhatara Sakti Tuluk Biyu Puri Kelodan.
“Di dua Meru inilah Sang Hyang Widhi Wasa sebagai sebagai Bhatara Siwa Giri Natha di puja sebagai purusa dan pradhana,” ungkapnya.
Di Meru Tumpang Sembilan sebagai purusa yang memberikan jiwa niskala pada kehidupan isi alam semesta.
Sedangkan di Meru Tumpang Tujuh beliau di puja sebagai pradana yang memberikan kesejahteraan hidup sekala pada isi alam ini terutama manusia. Di depan dua Meru tersebut terdapat bangunan pelinggih yang cukup megah berupa Bale Pasamuan.
Bale Pasamuan yang beratap ini sebagai media Ida Bhatara tedun, ngeluhur, dan masimpen.
Saat puja wali atau ada upacara besar di Bale Pasamuan inilah Ida Bhatara Bhatari Tuluk Biyu dilambangkan tedung memulai umatnya memberikan wara nugraha atau mapaica sweca kepada umatnya yang melakukan yadnya dan bhakti pada Ida Bhatara Siwa Giri Natha yang disebut Bhatara Sakti Tuluk Biyu.
“Saat selesai upacara puja wali melalui Bale Pasamuan inilah Ida Bhatara masineb, terus ke Palinggih Meru yang ada di timur Bale Pasamuan tersebut,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika