Salah satu yang menarik menjadi kajian adalah Asta Wara, adalah delapan klasifikasi sifat dan karakter manusia yang memberikan panduan dalam kehidupan.
Delapan elemen ini dikenal sebagai Shri, Indra, Guru, Yama, Ludra, Brahma, Kala, dan Uma. Setiap wara memiliki pengaruh unik yang terinspirasi dari energi para dewa dalam agama Hindu.
Dosen Wariga STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Made Gami Sandi Untara, M.Fil.H mengatakan wara pertama, Shri, menggambarkan pikiran yang baik dan kesejahteraan.
Dalam lontar disebutkan, “Sri, madwe kahyun becik, rahayu, tan kirang pangan kinum.”
Seseorang yang lahir pada Shri dipengaruhi oleh Dewi Shri, simbol kemakmuran, dan Bhetari Giriputri, yang unggul dalam merancang program kegiatan.
Mereka dikenal pemurah dan memiliki keberuntungan dalam mencari nafkah.
Wara kedua adalah Indra, yang diwarnai sifat bahagia dan penuh wibawa. Dalam lontar tertulis, “Indra, madwe kahyun girang trang, mapangkat miwah sadhya.”
Orang yang lahir di bawah pengaruh Dewa Indra cenderung menyukai kemewahan, namun sering kesulitan fokus. Mereka memiliki jiwa motivator dan pandangan yang luas.
Wara Guru, yang ketiga, mencerminkan kebijaksanaan dan kecenderungan untuk memberikan tuntunan. Lontar menuliskan, “Guru, madwe kahyun terang, edalemin anak, pituturne kamomotang.”
“Dipengaruhi oleh Sanghyang Guru, orang kelahiran ini memiliki bakat mengajar dan sering kali menjadi sumber inspirasi, meski perlu hati-hati dalam menyampaikan pengetahuan agar tidak terjadi salah paham,” katanya.
Yama, wara keempat, mewakili keadilan dan ketegasan. Dalam lontar, “Yama, madwe kahyun kawon, sneng, misuna miwah ngardinin anak sdih,” menandakan karakter tegas, disiplin, dan tidak toleran terhadap ketidakadilan.
Pengaruh Sanghyang Yamadipati membuat mereka sangat menghargai keteraturan.
Pada wara kelima, Ludra, terlihat sifat yang keras dan penuh energi. Lontar menyebutkan, “Rudra, Sring Krodha Sring Sungkan,” yang mencerminkan kemarahan yang dapat memengaruhi kesehatan.
Dipengaruhi oleh Sanghyang Rudra, mereka cocok menjadi pemimpin di situasi sulit namun harus belajar mengendalikan amarah.
Wara keenam, Brahma, melambangkan kreativitas. Dalam lontar disebutkan, “Brahma, Sring krodha tan sneng kacacad,” yang menggambarkan orang yang tidak suka kritik.
Dipengaruhi oleh Sanghyang Brahma, mereka sering memiliki ide cemerlang dan cocok dalam menciptakan karya inovatif.
Kala, elemen ketujuh, berhubungan dengan sifat kritis dan ketajaman analisis. Lontar menyebutkan, “Kala, Kahyun Lobha, sneng ngardinin anak nandang sdih.” Orang dengan elemen ini dianugerahi kecerdasan, tetapi perlu belajar mengendalikan keserakahan dan emosinya.
Wara kedelapan, Uma, melambangkan kasih sayang dan kepedulian. Lontar menuliskan, “UMA, madwe kahyun irsya, mneng-mneng tangar ring raga.”
Dipengaruhi oleh Dewi Uma, orang kelahiran ini memiliki sifat keibuan yang kuat dan cenderung menjaga keharmonisan dalam keluarga dan masyarakat.
Gami memamaprkan, selain karakteristik, Asta Wara juga dikaitkan dengan bagian tubuh tertentu.
“Shri berhubungan dengan ujung rambut, Indra dengan mata, Guru dengan kepala, Yama dengan mulut, Ludra dengan kulit, Brahma dengan hati, Kala dengan gigi, dan Uma dengan perut. Simbolisme ini memperkuat hubungan antara manusia dengan alam semesta,” sebutnya.
Asta Wara juga dikenal sebagai “tepining urip,” atau aspek penentu kehidupan. Dalam pandangan spiritual, Asta Wara menjadi penghubung manusia dengan Sanga Wara, sembilan elemen yang merepresentasikan energi kosmik.
Dalam praktik kehidupan sehari-hari, Asta Wara menjadi pedoman bagi masyarakat Bali untuk memahami sifat diri dan membangun harmoni.
Seseorang yang memahami wara kelahirannya diharapkan mampu mengembangkan potensi dan mengatasi kelemahan dengan bijaksana.
“Contohnya, orang yang lahir di bawah pengaruh Yama dianjurkan untuk lebih toleran terhadap perbedaan, sementara mereka yang lahir pada Ludra diingatkan untuk mengendalikan emosi demi kesehatan fisik dan mental,” ungkapnya.
Menurutnya, pemahaman mendalam tentang Asta Wara juga diajarkan melalui tradisi lisan dan tulisan lontar, seperti yang terdapat dalam Lontar Wawatekan Wawaran. Hal ini menunjukkan bagaimana kearifan lokal Bali terus diwariskan secara turun-temurun. (dik)
Editor : I Putu Mardika