Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Bukan Dicelup dengan Tangan! Tirta Sebaiknya Beralaskan Canangsari dan Peketis Ilalang

Wiwin Meliana • Rabu, 15 Januari 2025 | 15:23 WIB

Memercikkan tirta sebaiknya beralaskan canangsari dan menggunakan peketis ilalang
Memercikkan tirta sebaiknya beralaskan canangsari dan menggunakan peketis ilalang

BALIEXPRESS.ID-Nunas tirta adalah permohonan air suci kepada Tuhan Yang Maha Esa oleh umat Hindu. 

Permohonan ini dilakukan setelah sembahyang di pura dan biasanya dilakukan dengan cara dipercikkan, diminum, dan diraupkan ke tubuh sebanyak tiga kali. 

Baca Juga: PERINGATAN! Umat Hindu Pantang Melukat dan Keramas Jumat 17 Januari 2025, Begini Penjelasannya

Nunas tirta bertujuan untuk membersihkan diri dari dosa dan menuju hidup suci. 

Kata "tirta" berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti kesucian, air suci, atau bersuci dengan air. 

Umat Hindu harus paham, tata cara yang benar dalam memercikkan Tirta.

Baca Juga: Pelaku Pembuangan Bayi di Guliang Kangin Bangli Masih Gelap, RSUD Pastikan Tanggung Biaya Perawatan

Menurut Ida Pandita Kebayan, ketika memercikkan tirta harus beralaskan canangsari dan dipercikkan menggunakan peketis ilalang.

Dalam Kitab Purana dikisahkan bahwa Gangga turun ke dunia ini melalui Rambut Dewa Siwa.

Rambut Dewa Siwa diwujudkan dalam bentuk kembang rampe sebagai salah satu komponen dalam canang sari.

Dalam struktur Canangsari, Kembang rampe diletakkan paling atas.

Di atas kembang rampe yang merupakan simbol dari Dewa Siwa hanya ada satu entitas yang bisa diletakkan yaitu Dewi Gangga yang diwujudkan dalam bentuk tirta.

Baca Juga: Perkelahian Antarsiswa di Karangasem, Satu Orang Dilarikan ke Rumah Sakit

“Sehingga dari sinilah ketika membawa atau meletakkan tirta sebaiknya beralaskan canang sari,” jelas Ida Pandita Kebayan dikutip pada Rabu (15/01/2025).

Sementara itu ketika memercikkan atau mendistribusikan tirta sebaiknya menggunaka peketis ilalang.

Tidak disarankan tirta dicelup dengan tangan apalagi dipercikkan oleh orang yang belum mewinten.

“Ketika dicelup dengan tangan maka seolah-oleh kesucian tirta itu akan berkurang,”jelasnya.

Lebih lanjut, Ida Pandita Kebayan menyebut bahwa sebaiknya memercikkan tirta sebaiknya menggunakan peketis ilalang agar tirta tidak terkontaminasi.

Ilalang merupakan lambang dari kesucian atau Amerta.

Baca Juga: Profil Wayan Ari Trisna Handayani: Camat Perempuan Pertama Gianyar, Bukti Kesetaraan Gender  

Bahkan Ilalang juga dipakai sebagai Karawisata (pengikat kepala).

“Ilalang ini mendapatkan cipratan air amerta ketika para dewa membawa tirta Amerta. Ketika sudah kena cipratan tirta amerta ilalang adalah tumbuhan yang paling sulit dimatikan. Akarnya sangat kuat,” pungkasnya.

 

 

Editor : Wiwin Meliana
#Ida Pandita Kebayan #canang sari #Tirta #Ilalang