Namun, hari suci ini juga menjadi ritual wajib bagi Para Dalang di Bali untuk menghaturkan sesajen kepada wayang yang dimilikinya sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Iswara.
Jro Dalang Putu Ardiyasa, 28 mengatakan ada ritual yang wajib dilaksanakan saat Tumpek Wayang bagi seorang dalang.
Ritual tersebut bisa dilaksanakan sesuai dengan tingkatan mulai dari nista, madya hingga utama.
Pria yang menekuni dunia perdalangan sejak Tahun 2015 silam ini mengaku jika ritual ngaturin wayang saat tumpek Wayang sudah menjadi tradisi. Sama seperti pujawali atau piodalan pada umumnya.
“Secara teknis lebih ke penyiapan sesajen, mempersembahkan sesajen sampai melayani krama yang nunas tirtan panglukatan Wayang,” jelasnya.
Sarananya pun diakuinya cukup sederhana. Jro Ardi mengatakan, ia sering mengambil upacara yang sifatnya nista.
Sarana upakara yang digunakan seperti banten pejati asoroh, banten suci asoroh, durmanggala, prayascita, dan lis, serta penganteb.”Yang nganteb jro dalang sendiri,” ungkapnya.
Baca Juga: Wabup Suiasa Sambut Kunjungan Studi Tiru Pemkab Bantul
Prosesinya berlangsung tak lebih dari satu jam. Jro Ardi mengaku kadang Melaksanakan saat pagi hari atau sore hari. Wayang yang ia beli sejak tahun 2011 hingga tahun 2015 dan disimpan di kamar khusus selanjutnya dihaturkan sesajen. Hanya beberapa jenis wayang saja yang dikeluarkan sebagai simbol.
Jika sudah tuntas segala persiapannnya, maka proses nganteb pun sudah dilakukan. Tak jarang Jro Dalang Ardi menggunakan saa dan sejumlah mantram dalam proses ritual tersebut.
Demikian pula persembahyangan bersama, ia lakukan bersama keluarga intinya.
“Kalau tiang cukup degnan keluarga kecil. Mungkin kalau dalang yang sudah besar, pasti nangkil untuk sembahyang pasti beramai-ramai,” katanya.
Selain mengahturkan sesajen terhadap wayang yang dimilikinya, Jro Ardi juga tak menampik kerap melayani warga untuk nunas tirta wayang. Mereka biasanya lahir dari Redite hingga Saniscara Wuku Wayang.
Orang yang nunas tirta penglukatan wayang rata-rata sampai sepuluh orang. Mereka berasal dari wilayah Selunglung dan Kecamatan Kintamani.
Menurutnya, ritual nunas tirta wayang ini sudah menjadi tradisi dan diyakini.
Saat ada warga yang nunas tirta wayang, biasanya ia cukup lakukan dengan ngarga tirta wayang. Prosesinya, tangkai atau gagang wayang hanya cukup dimasukkan ke dalam air. Lalu air wasuhannya ditunas oleh warga yang lahir saat Wuku Wayang.
“Ada yang nunas tirta saja. Ada juga yang melaksanakan ritual sapuleger masal. Mungkin pertimbangan biaya. Karena memang kalau sapuleger itu biayanya lumayan besar,” bebernya.
Adapun mantram dalang saat ngelukat di hari tumpek wayang atau dalam upacara nyapuh leger sebagai berikut:
“sang amangku dalang tedun saking genahe ngewayang, nuju natah paumahanyadin sangah sang inupakara, nglukat sang inupakara wetu ring wuku wayang”.
Terjemahan: Dalang turun dari tempatnya mendalang, menuju ke halaman atau ke tempat suci dari rumah yang diupacarai yang lahir pada wuku wayang
“Ong Yang Sarwagni mahojwala, wisaya, papa-klesa, utpatadityam, supranaya namah”
Artinya: Ya Tuhan dalam wujud api yang maha dahsyat melebur segala kesalahan, noda maupun dosa.
Baca Juga: Lepas Agung Mannan ke Bali United, Dewa United tak Rekrut Pemain Baru: Ini Alasannya
Ong serdah paduka betara Siwa Murti sakti, anibakaken tirta kamandalu, winadahan kundi manik, maka suklaning bhuana agung bhuana alit maka uriping bhuana kabeh, amuburana ujar ala, tuju, teluh, desti trangjana, kalukat denira tirtan betara Siwa Murti Sakti, siniratan muncrat mancur, angilangaken papa klesa, dasa mala manusa kabeh, Ong sidi rastu tatastu astu swaha.
Terjemahan: Tuhan dalm wujud Siwa maha sakti, memercikkan air suci yang ada di dalam kendi mas manikam, sebagai penyucian makrokosmos dan mikrokosmos, yang menghidupkan dunia tersebut, dan membakar serta melebur segala nista, teluh, penyakit, segala ilmu gaib, dilebur oleh percikan air suci dewa Siwa yang maha sakti, percikan maha suci ini menghilangkan segala segala kesengsaraan semua mahluk (manusia), Tuhan semua kehendakmu pasti terwujud.
Ong ayu werdhi yasa, wrdhi pradnyan suka sriya, dharma sentana wredinca, santute sapta wredayah, Ong yawat meru stuti dewah, yawat gangga mahitale, candrarka gangane yawat, tawat wijaya bhawet.
Menjadi seorang dalang tentu harus memiliki Manik Dalang sebagai Taksu. Simbolnya pun bermacam-macam. Ada yang berbentuk Wayang Ismaya (Tualen) dan Sang Hyang Siwa (Bhatara Guru).
Jro Dalang Putu Ardiyasa mengaku manik dalang sudah disungsung sejak dirinya mawinten sebagai dalang. Taksu itulah yang memberikan energy positif sebagai seorang dalang, sehingga mampu mementaskan Wayang lewat beragam lakon cerita dengan baik.
Saat diwinten juga sudah ngelinggihang taksu dalang lanang dan istri. Itu yang kami maknai sebagai manik dalang. Dan itu adalah taksu dari Ida Sang Hyang Ringgit,” jelasnya.
Selama sudah menjadi dalang, biasanya ada saja hal unik yang didengar saat hari-hari tertentu. Namun bukan dirinya yang melihat maupun mendengar secara langsung.
Sebab, Jro Dalang memang tinggalnya di Singaraja. Sedangkan Wayangnya berada di kampungnya, Desa Selunglung, Kecamatan Kintamani, Bangli.
“Ibu saya yang pernah mendengar langsung. Pernah kejadian saat lupa menghaturkan sesajen, ternyata Ibu saya mendengar seolah wayang sedang mesolah di kamar suci. Sehingga ibu saya langsung bangun dari tempat tidur dan melakukan persembhayangan,” paparya.
Jro Dalang Ardiyasa yakin, jika nyungsung taksun dalang, memang memiliki tanggungjawab yang sangat besar.
Ia mengaku jika seluruh ritual pemujaan terhadap Dewa Iswara sebagai Dewaning Pewayangan adalah untuk memohon keselamatan, wara nugraha, kerahayuan serta menjaga hubungan dengan taksu yang distanakan agar tetap harmonis.
“Kelak saat saya mendalang agar beliau selalu hadir dan membawa energi positif kepada tiang,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika