Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Lontar Bali yang Identik dengan Ajaran Hindu Mengungkap Wacana Islam: Warisan Sastra Cokorda Denpasar yang Mengejutkan

I Putu Suyatra • Minggu, 19 Januari 2025 | 03:34 WIB
Lontar Bali selama ini identik dengan ajaran Hindu. Namun, fakta menarik terungkap ketika wacana Islam ternyata turut mendominasi beberapa lontar
Lontar Bali selama ini identik dengan ajaran Hindu. Namun, fakta menarik terungkap ketika wacana Islam ternyata turut mendominasi beberapa lontar

BALIEXPRESS.ID – Lontar Bali selama ini identik dengan ajaran Hindu. Namun, fakta menarik terungkap ketika wacana Islam ternyata turut mendominasi beberapa lontar, bahkan menjadi bagian dari literasi yang diwariskan oleh leluhur Bali.

Salah satunya adalah karya Cokorda Denpasar, seorang raja sekaligus sastrawan terkenal dari Bali, yang memuat nilai-nilai Islam dalam karya-karyanya.

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, I Putu Eka Guna Yasa, S.S., M.Hum, mengungkapkan bahwa wacana Islam muncul dalam lontar yang membahas pengobatan hingga filsafat kehidupan.

“Islam juga dibahas dalam teks untuk menjaga diri atau dikenal dengan istilah Pengraksa Jiwa,” ungkapnya kepada Bali Express di Denpasar.

Sinkretisme Islam dan Hindu dalam Lontar

Menurut Guna Yasa, karya sastra Bali kuno tak hanya berkutat pada ajaran Hindu, tetapi juga menunjukkan sinkretisme ajaran Islam dan Hindu.

Salah satu contoh adalah Geguritan Loda, karya Cokorda Denpasar, yang menekankan pentingnya mempelajari ajaran filsafat, etika, termasuk Islam.

Dalam bagian akhir karya ini tertulis:

"Jangan berhenti mempelajari ilmu filsafat dan etika, termasuk ajaran Islam yang juga penting untuk direnungkan."

Guna Yasa menegaskan, wacana ini bukanlah basa-basi.

“Cokorda Denpasar, seorang raja sekaligus sastrawan besar, menyampaikan hal ini sebagai visi toleransi. Penting bagi kita untuk tidak fanatik dan mempelajari ajaran lain untuk memperluas wawasan,” jelasnya.

Islam dalam Karya Sastra Bali

Selain Geguritan Loda, karya Geguritan Purwa Sanghara juga memuat istilah “Magrib, yén cara basa Arab,” menunjukkan pemahaman Cokorda Denpasar terhadap Islam.

Bahkan dalam Geguritan I Nengah Jimbaran, ditemukan penggunaan kata “Insaallah,” sebuah frasa yang jelas berasal dari ajaran Islam.

Menurut Guna Yasa, pemikiran Cokorda Denpasar mencerminkan visi besar tentang harmoni antaragama.

“Beliau memahami pentingnya studi komparatif agama untuk memperkuat keyakinan dan toleransi,” tambahnya.

Pengobatan dan Spiritualitas dalam Lontar

Lontar-lontar lainnya seperti Pengraksa Jiwa, Usadha Manak, dan Kanda Wesi memuat istilah dan konsep Islam.

Dalam Pengraksa Jiwa, misalnya, terdapat kata “Bismillah” yang bersanding dengan mantra Hindu, menunjukkan integrasi unik antara dua ajaran tersebut.

Teks-teks ini juga mencakup tata cara spiritual dan pengobatan, seperti menjaga diri dari serangan fisik dan metafisik, hingga membantu proses kelahiran.

“Islam dipandang sebagai bagian dari ilmu pengetahuan yang relevan dengan kehidupan masyarakat Bali masa lampau,” ungkap Guna Yasa.

Membangun Toleransi Melalui Sastra

Guna Yasa menekankan bahwa keberadaan wacana Islam dalam lontar Bali merupakan bukti keterbukaan leluhur Bali terhadap berbagai ajaran.

“Warisan ini mengajarkan kita untuk lebih inklusif dan menghormati perbedaan keyakinan,” tutupnya.

Temuan ini mengubah pandangan tentang lontar Bali sebagai warisan literasi yang melulu berisi ajaran Hindu.

Justru, lontar-lontar ini membuktikan bahwa Bali memiliki tradisi intelektual yang terbuka terhadap berbagai pengaruh budaya dan agama. ***

Editor : I Putu Suyatra
#bali #lontar #sastra #hindu #denpasar #islam