BALIEXPRESS.ID – Upacara Menek Kelih merupakan salah satu upacara manusia yadnya yang dilaksanakan ketika anak-anak mulai beranjak dewasa atau pada masa akil balik. Peralihan dari anak-anak menuju dewasa secara biologis dapat dilihat dari beberapa perubahan yang terjadi pada anak-anak.
Pada anak perempuan dapat ditandai dengan “datang bulan” (haid atau menstruasi pertama) dan pada siklus hidup orang bali terdapat beberapa istilah mengenai pertumbuhan tubuh perempuan.
Perempuan yang berumur 8 tahun dinamai Gauri, yang berumur 9 tahun dinamai Rohini, yang berumur 10 tahun dinamai kanya sedangkan yang umurnya lebih dari 10 tahun dinamai Raja Swala sehingga upacara menek kelih untuk anak Perempuan disebut dengan Nge-Raja Swala.
Hal tersebut diungkapkan oleh Penyuluh Agama Hindu, Kemenag Kantor Kabupaten Gianyar, Ni Ketut Santiani. Dia menerangkan jika pada anak laki-laki terlihat perubahan suara yang mulai memberat (ngembak). Upacara menek kelih untuk anak laki-laki disebut dengan Nge-Raja Singa.
“Dalam Lontar Agastya Parwa dijelaskan bahwa orang tua wajib melaksanakan upacara menek kelih terhadap anaknya yang sudah tumbuh dewasa,” papar Santi.
Disebutkan sebagai konsep Yayah Rna dan Ibu Rna Upacara Menek Kelih dilakukan orang tua sebagai ungkapan terima kasih kepada Tuhan, atas anugerah dan kesehatan yang sudah diberikan dan juga sebagai bentuk permohonan supaya senantiasa dituntun dan di jaga di jalan yang baik dan benar serta dijauhkan dari hal-hal yang berbahaya.
Hyang Semara Ratih manifestasi Tuhan sebagai Dewa Asmara dalam upacara menek kelih ditujukan dengan harapan dapat dibimbing dan dituntun di jalan yang baik dan benar.
“Dalam ritual pelaksanaan upacara Menek Kelih dapat dilakukan baik dirumah maupun di Gria, dapat dilakukan secara mandiri atau bahkan secara massal, dan pelaksanaanya bisa dilakukan setelah anak sudah memasuki akil balik dari anak-anak ke dewasa atau bisa juga dilaksanakan dengan memperhitungkan hari baik,” ungkap Santiani.
Upacara menek kelih dapat dipimpin oleh Pinandita/Jero Mangku atau Sulinggih. Adapun proses pelaksanaan upacara menek kelih yakni, diawali dengan sembahyang di merajan dalam Perihal Mepiuning di Pelinggih Surya dan Pelinggih Kemulan (Rong Tiga) dengan sarana Banten Pejati dan canang raka. Setelah itu dilanjutkan dengan pinandita/Sulinggih memohon tirta pembersihan untuk membersihkan sarana upacara dengan Tirta Pengulapan.
Setelah itu dilanjutkan dengan Meprayascita dirangkai dengan biakala, biokaon, melakukan pembersihan diri melalui sarana (Prayascita, Biakala dan Biokaon). Kemudian dilanjutkan dengan sembahyang untuk Hyang Semara Ratih dengan sarana sesayut Raja Singa untuk yang Putra dan sesayut Raja Swala untuk yang putri dilengkapi dengan sesayut Otonan dan banten pededarian.
“Upacara menek kelih tentu memiliki makna untuk memberikan kesadaran kepada anak bahwasanya mereka sudah berada pada fase yang bisa membedakan antara baik dan buruk serta benar dan salah. Selain itu peran orang tua setelahnya adalah selalu mengingatkan dan memberikan petuah-petuah serta contoh yang baik untuk anaknya,” pungkas Santiani. *
Editor : Putu Agus Adegrantika