Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Purnama Kapitu, Maknai Ajaran Sapta Timira

Putu Agus Adegrantika • Minggu, 19 Januari 2025 | 17:55 WIB
PURNAMA : Prosesi upacara yadnya dalam hari suci Purnama Kapitu oleh umat Hindu.
PURNAMA : Prosesi upacara yadnya dalam hari suci Purnama Kapitu oleh umat Hindu.

 

BALIEXPRESS.ID – Pemaksan Padmasari Kementerian Agama Kantor Kabupaten Gianyar melaksanakan persembahyangan bersama pada hari Purnama Kapitu, Selasa (14/10) lalu. 

Prosesi upacara persembahyangan Purnama tersebut diikuti oleh seluruh pegawai Kemenag Gianyar yang beragama Hindu. Diawali dengan Puja Trisandya, dilanjutkan persembahyangan.

Dalam kesempatan itu diisi dharma wacana oleh Penyuluh Agama Hindu, Ni Made Samar, dengan materi Sapta Timira. Dia mengatakan kata Sapta Timira berasal dari bahasa sansekerta dari kata “sapta”yang berarti tujuh, dan “timira” yang berarti gelap, dan suram.

“Sapta Timira berarti “tujuh kegelapan” adalah tujuh unsur atau sifat yang menyebabkan pikiran orang jadi gelap. Ketujuh unsur kegelapan tersebut ada pada setiap diri manusia,” jelasnya.

Tujuh aspek buruk dalam Sapta Timira adalah Surupa Timira. Yakni keindahan dan kerupawanan yang dapat membuat orang mabuk pikiran, perkataan, dan perbuatan.

Kedua ada Dana Timira, harta kekayaan yang dapat membuat orang mabuk pikiran, perkataan, dan perbuatan. Ketiga ada Guna Timira, kepintaran atau kepandaian yang dapat membuat orang mabuk pikiran, perkataan, dan perbuatan.

“Keempat ada Kulina Timira, yaitu keturunan, strata sosial, warna atau sering diartikan kasta yang dapat membuat orang mabuk pikiran, perkataan, dan perbuatan,” papar Made Samar.

Kelima ada Yowana Timira. Yaitu muda, remaja, kreatif, inovatif, dan kebebasan yang tidak terkendali yang akan dapat membuat mabuk pikiran, perkataan, dan perbuatan.

Sedangkan keenam ada Sura Timira. Yaitu hindari minuman keras, narkoba yang dapat mengakibatkan mabuk pikiran, perkataan, dan perbuatan.

“Sedangkan kedelapan adalah Kasuran Timira, yaitu hindari keberanian, kekuatan, kesaktian, dan kewaskitaan yang dapat membuat orang mabuk pikiran, perkataan, dan perbuatan,” pungkas Made Samar. *

Editor : Putu Agus Adegrantika
#Sapta Timira