BALIEXPRESS.ID - Dalam kehidupan sehari-hari kita sering dihadapkan pada dilema antara menjadi orang yang lurus, jujur, dan teguh dalam prinsip. Sebaliknya menjadi orang yang lebih fleksibel dan memahami kenyataan hidup yang penuh dengan kompleksitas.
Seringkali kita diberitahukan bahwa kebaikan itu identik dengan keteguhan dan kejujuran yang absolut. Namun, dalam beberapa keadaan, kita mungkin perlu mempertimbangkan cara kita beradaptasi dengan lingkungan sekitar, yang tidak selalu sejalan dengan prinsip-prinsip kita.
Dalam kitab Canakya Nitisastra VII.12, yang mungkin sedikit kontroversial, namun penuh makna: "Janganlah hidup terlalu lurus atau terlalu jujur, sebab begitu Anda pergi ke hutan, Anda akan melihat bahwa pohon-pohon yang lurus ditebang, sedangkan pohon-pohon yang bengkok dibiarkan hidup."
Kutipan sloka ini mengandung makna yang dalam. Dalam alam, pohon-pohon yang lurus sering dianggap sebagai sesuatu yang sempurna, ideal, dan kuat.
Namun, kenyataan yang kita temui di lapangan adalah bahwa pohon yang terlalu lurus sering kali lebih rentan terhadap angin dan badai. Mereka bisa patah atau tumbang karena tidak cukup fleksibel.
Penyuluh Agama Hindu, Kementerian Agama Kantor Kabupaten Gianyar, Ni Wayan Ekayanti, menjelaskan kehidupan manusia, sikap yang terlalu lurus atau terlalu jujur sering kali menuntut kita untuk selalu mengikuti aturan dan norma dengan ketat, tanpa ada ruang untuk adaptasi dan fleksibilitas.
“Meskipun kedengarannya baik dan benar, sikap seperti ini kadang kala dapat membuat kita terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan,” paparnya. *
Namun, menjadi terlalu fleksibel atau tidak jujur juga bukanlah pilihan yang tepat. Sebab, jika kita terlalu membengkokkan diri dan prinsip, kita bisa kehilangan arah dan integritas. Oleh karena itu, keseimbangan adalah kunci.
Tidak ada salahnya untuk sedikit melengkung atau beradaptasi dengan keadaan, asalkan kita tetap berpegang pada nilai-nilai yang benar dan tidak mengorbankan prinsip-prinsip moral kita. Fleksibilitas tidak berarti kita harus kompromi dengan nilai-nilai luhur.
Sebaliknya, fleksibilitas yang sejati adalah kemampuan untuk memahami bahwa dalam hidup ini, tidak semua hal dapat dihadapi dengan cara yang keras dan kaku. Ada kalanya kita harus menyesuaikan diri dengan situasi dan orang lain tanpa harus kehilangan identitas dan integritas kita.
“Sebagai contoh, seorang pemimpin yang bijak tidak selalu memaksakan pandangan atau keputusannya, melainkan mampu mendengarkan dan menyesuaikan kebijakan dengan kebutuhan masyarakat yang beragam,” jelas Ekayanti.
Begitu pula dalam hubungan pribadi, terkadang kita harus bisa beradaptasi dengan perasaan orang lain tanpa harus mengorbankan kejujuran yang mendalam. Hal ini lebih merupakan kebijaksanaan daripada sekadar kebenaran mutlak.
“Dalam hidup, janganlah kita menjadi terlalu lurus, karena terkadang kelurusan itu malah membawa kita pada kerapuhan. Jangan juga terlalu bengkok, karena kita bisa kehilangan arah. Sebaiknya, kita hidup dengan fleksibilitas yang didasari oleh kebijaksanaan dan nilai-nilai yang luhur,” ucap Ekayanti.
Seperti pohon yang tidak hanya lurus atau bengkok, tetapi tumbuh dengan penuh kebijaksanaan. Kita juga hendaknya mampu bertumbuh dengan keseimbangan dalam menjalani kehidupan. *
Editor : Putu Agus Adegrantika