Tidak sulit menjangkau pura ini. Lokasinya berada persis di tepi Pantai Desa Sambirenteng.
Selain itu, puranya juga berada di tepi jalan penghubung Singaraja-Amlapura. Sehingga mudah dijangkau dengan beragam moda transportasi.
Pura ini ditandai dengan sejumlah pohon intaran yang sudah berusia puluhan tahun. Pohon intaran ini menambah kesan sakral dan memberikan vibrasi yang positif tentang keberadaan pura ini.
Ida Mpu Dharma Putra Yoga Daksa Manuaba menjelaskan yang berstana di pura ini identik dengan Dewa-Dewi yang menguasai perdagangan.
Bukan tanpa alasan, mengingat dahulu kawasan ini merupakan dermaga sebagai tempat para saudagar dari Tiongkok berdagang.
Baca Juga: Terbesar di Indonesia, Pengguna Super Apps BRImo Tembus 38,61 Juta
Lambat laun, dermaga berkembang pesat dan ramai sebagai aktivitas perdagangan. Sehingga diistanakan Dewi Pergadangan. Ada dua pelinggih yang di timur disebut Puri Kanginan. Di Barat disebut Pura Kawanan.
Sedangkan yang berstana di Pura Kanginan itu adalah Ida Bhatara Ratu Ngurah Subandar. Kemudian yang berstana di Pura Kawanan adalah Ida Bhatara Ratu Ayu Subandar.
Mpu Dharma Putra menambahkan ada juga petirtan yang dibuat oleh Kebo Iwa. Konon, dahulu adalah batu paras.
“Jaman dahulu ada pancoran sebelas, ada juga menyebut pancoran Sembilan. Kalau di desa adat adalah pancoran tujuh,” ungkapnya.
Selain itu ada juga Batu Kerug atau Batu Kilap yang erat kaitan dengan Pura Lingsar di Lombok, Nusa Tenggara Barat, sehingga ada batu yang menyerupai lingga.
Nah lingga inilah pura kerug atau kilap. Yoninya ada di utara pura.
Ia menjelaskan, tidak ada sejarah secara tertulis. Namun diyakini secara turun temurun bertalian dengan sejarah yang disampaikan secara lisan oleh para pendahulunya.
Menurutnya, distanakannya Ratu Ngurah Subandar karena sebagai bentuk penghormatan atas Dewanya dagang. Para pedagang memohon agar diberkati dalam mengais rejeki.
“Dari semua yang menstanakan biasanya Ratu Ayu Subandar, karena beliau memberkati pedagang,” katanya.
Disinggung terkait Batu Kilat, kalau belum bersuara, maka hujan tidak akan turun. Karena akan memberikan berkah kepada pengempon pura ini. Apalagi sebagai pedoman untuk Bertani
“Kalau bersuara tiga kali, maka pasti akan hujan. Makanya para petani akan menjadikan suara acuan ini untuk memulai berkebun, pertanda hujan akan turun,” paparnya.
Tata persembahyangan diawali dengan melukat di penepi Segara. Setelah itu, barulah melukat di pancoran, dan dilanjutkan dengan persembahyangan.
“Barulah memohon panugarahan kepada Ratu Ayu Subandar,” sebutnya.
Bendesa Adat Geretek, Wayan Taman menjelaskan Pura Pegonjongan diempon oleh lima desa adat yang berada di Kecamatan Tejakula dan di Kecamatan Kintamani, Bangli.
Baca Juga: Tradisi Nampyog di Desa Adat Calo, Tegallalang, Simbol Penyucian Diri
Diantaranya Desa Adat Tembok, Desa Adat Geretek, Desa Adat Sambirenteng yang berada di Kecamatan Tejakula, Buleleng. Sedangkan di Kecamatan Kintamani, Bangli pengempon Pura Pegonjongan berasal dari Desa Adat Siakin dan Desa Adat Pinggan.
Pujawali di Pura ini bertepatan pada Purnama Sasih Kenem. Saat pujawali, krama pengempon bersama sama ngayah melaksanakan pujawali agar berjalan lancar.
“Banten yang dipersembahkan di Pura Kanginan tidak boleh menggunakan Babi. Hanya bebek saja. Karena stana Ida Ayu Subandar. Kalau di Pura Kawanan barulah menggunakan Babi,” akunya (dik)
Editor : I Putu Mardika