BALIEXPRESS.ID - Kajeng Kliwon, hari yang diyakini memancarkan aura magis dari alam semesta, sering dikaitkan dengan hal-hal niskala oleh umat Hindu Bali.
Aura mistisnya yang kuat kerap menciptakan kesan menyeramkan, terutama karena sinerginya dengan kekuatan niskala dalam tubuh manusia.
Tidak heran, hari ini dianggap istimewa dalam tradisi Hindu Bali.
Menurut Jro Mangku Dalang I Nyoman Badra, seorang spiritualis dari Banjar Pengosekan, Desa Mas, Gianyar, Kajeng Kliwon merupakan pertemuan Tri Wara, yakni Kajeng dan Panca Wara Kliwon.
"Hari ini sering dimanfaatkan untuk mengaktifkan kekuatan dalam diri, seperti Kanda Pat atau cakra energi," jelasnya.
Tiga Jenis Kajeng Kliwon yang Jarang Diketahui
Kajeng Kliwon memiliki tiga jenis berdasarkan waktunya:
- Kajeng Kliwon Uwudan: Setelah bulan purnama.
- Kajeng Kliwon Enyitan: Setelah bulan tilem.
- Kajeng Kliwon Pamelastali: Datang setiap enam bulan sekali.
Seperti halnya Purnama dan Tilem, Kajeng Kliwon diperingati setiap 15 hari sekali, dengan berbagai tradisi dan sesaji untuk menetralisir kekuatan negatif.
Hari Turunnya Bhutakala dan Kekuatan Pangiwa
Jro Mangku Dalang menjelaskan, Kajeng Kliwon diyakini sebagai saat turunnya Bhutakala, yang dapat mengganggu manusia yang melanggar aturan niskala.
Beberapa pantangan pada hari ini termasuk bepergian tepat pukul 12 siang atau tengah malam. Untuk menetralisir energi negatif, umat Hindu menghaturkan sesaji seperti Segehan dan Tipat Dampulan.
Kajeng Kliwon juga kerap dikaitkan dengan ilmu pangiwa.
Pada hari ini, mereka yang menguasai pangiwa melakukan ritus khusus dengan sesaji seperti Pajati lengkap dengan simbol-simbol mistis.
Kajeng Kliwon Uwudan Bertemu Buda Kliwon Gumbreg
Kajeng Kliwon Uwudan bersamaan dengan Buda Kliwon Gumbreg, yang hanya terjadi setiap enam bulan sekali.
Menurut lontar Sundarigama, hari ini adalah waktu Bhatara Siwa beryoga, sehingga umat disarankan melakukan panglukatan Dasa Mala untuk membersihkan diri dari sepuluh kotoran batin seperti iri hati, kebohongan, dan kemalasan.
Makna Segehan dan Lokasi Persembahan
Sesaji berupa Segehan Cacah dan Segehan Panca Warna memiliki makna penting dalam Kajeng Kliwon. Segehan ini dihaturkan di tiga lokasi:
- Halaman Sanggah atau Merajan.
- Halaman rumah, sebagai persembahan kepada Sang Kala Bhucari.
- Depan pintu gerbang, ditujukan kepada Sang Durgha Bhucari.
Keunikan Buda Kliwon Gumbreg dan Watak Kelahiran
Buda Kliwon Gumbreg juga diyakini sebagai hari pasucian Hyang Nirmala Jati.
Bagi yang lahir pada hari ini, menurut primbon, mereka memiliki watak baik hati, penuh kasih, dan berbakat dalam filsafat, menulis, serta orasi.
Namun, mereka cenderung mudah terperdaya oleh pujian.
Pesan Spiritual di Balik Kajeng Kliwon
Kajeng Kliwon bukan hanya hari magis, tetapi juga momentum untuk introspeksi diri, membersihkan batin, dan memperkuat hubungan dengan alam semesta.
Dengan mengikuti tradisi ini, umat Hindu meyakini hidup akan lebih selaras dengan dharma dan mendapat berkah dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Apakah Anda sudah menyiapkan sesaji untuk Kajeng Kliwon berikutnya? ***
Editor : I Putu Suyatra