BALIEXPRESS.ID – Hidup sebagai manusia Hindu sejatinya diharapkan memikirkan jalan atma pasca kematian. Hal ini memberikan makna bahwa, manusia Hindu diharapkan memikirkan kehidupan pasca kematian. Mengingat, ajaran panca sradha dalam Hindu menyarankan umat untuk mempercayai hakekat punarbhawa.
Hal tersebut diungkapkan oleh Penyuluh Agama Hindu, Kemenag Tabanan, I Made Danu Tirta. Dia menyebutkan Punarbhawa adalah salah satu keyakinan akan adanya siklus hidup kembali pasca kematian di dunia ini.
“Punarbhawa itu sendiri bukanlah sesuatu yang terjadi tanpa rangkaian. Aspek punarbhawa memiliki korelasi dengan bagian panca sradha lain, beberapa diantaranya adalah karma phala dan atma. Tentunya muncul pertanyaan, mengapa karma phala dan atma ? karena karma yang dijalankan di dunia ini akan memberikan berbagai pahala (phala) setimpal,” jelasnya.
Begitu juga Karma juga menjadi penentu “arah hidup” selanjutnya, pasca kematian dialami oleh manusia. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa memikirkan arah hidup (atma) pasca kematian menjadi aspek penting yang harus dilakukan sebagai salah satu jalan spiritual oleh manusia Hindu.
Usaha mendasar yang dapat dilakukan dalam mempersiapkan arah hidup pasca kematian adalah merubah pola pikir. Pemikiran menjadi pusat penentu dan arah kehidupan. Banyak yang beranggapan bahwa “apapun yang dipikirkan, maka itulah yang akan terjadi”.
Pemikiran menjadi salah satu tanda bahwa manusia masih bereksistensi dan mampu menentukan (meng-ada) arah kehidupan menuju kebaikan, pun keburukan. Berpijak pada asumsi tersebut, maka sangat beralasan apabila seorang filusuf Prancis, Rene Descrates, merumuskan sebuah konsep “cogito ergo sum” yang artinya adalah “aku berpikir, maka aku ada”.
Sehingga, dapat ditarik sebuah pemaknaan bahwa melalui pemikiran manusia mampu merumuskan karma yang harus dilakukan dalam kehidupan nyata ini. Selanjutnya, karma itulah yang menjadi bekal penentu arah kehidupan pasca kematian.
Namun, lebih banyak orang hanya memperdulikan kehidupan saat ini. Kehidupan saat ini dipandang sebagai objek faktual yang hanya dialami saat ini. Segala bentuk argumentasi mengenai adanya kehidupan pasca kematian tidak diyakini dengan baik.
Pola pikir seperti ini cenderung melahirkan sikap apatis dalam mempersiapkan karma baik, sebagai ruang mencapai kualitas tertinggi dari arah atma pasca kematian, ataupun kualitas kehidupan saat menjalani rangkaian purnarbhawa. Kehidupan saat ini cenderung dinilai harus dinikmati dan dijalani tanpa harus berpaku pada kebaikan. Mengingat, kebaikan penuh dengan tantangan dan jarang menghasilkan kenikmatan duniawi.
“Kehidupan pasca kematian, sering diposisikan sebagai sesuatu yang bukan urusan manusia, namun lebih diserahkan pada kuasa Transendental (Tuhan). Padahal, Tuhan akan memberikan sesuatu bersifat setimpal sesuai dengan karma atau laku hidup yang dilakukan oleh manusia itu sendiri,” beber Danu Tirta. *
Editor : Putu Agus Adegrantika