BALIEXPRESS.ID - Di Banjar Buungan, Desa Tiga, Kecamatan Susut, Bangli, Bali, terdapat sebuah mata air suci yang dikenal dengan nama Pasiraman Jaga Satru.
Tempat ini menyimpan cerita mistis dan diyakini sebagai lokasi untuk menetralisir kekuatan ilmu hitam.
Namun, lokasinya yang tersembunyi di dasar lembah, diapit tebing berbatu dan hutan bambu, membuat perjalanan menuju pasiraman ini tidaklah mudah.
Pesona dan Misteri di Balik Nama "Jaga Satru"
Bagi masyarakat setempat, nama Jaga Satru masih menjadi misteri.
Tidak ada catatan resmi mengenai asal-usul nama tersebut, namun cerita turun-temurun dari tetua banjar menyebut bahwa mata air ini telah ada sejak ratusan tahun lalu.
Anehnya, tempat ini baru mulai dikenal luas beberapa tahun belakangan, dan banyak yang percaya bahwa keberadaannya sering kali ditemukan melalui petunjuk spiritual atau wahyu.
Perjalanan Berat Menuju Lokasi
Untuk mencapai Pasiraman Jaga Satru, pengunjung harus menempuh perjalanan sejauh 500 meter dari area parkir.
Jalan menuju lokasi sebagian besar terjal dan licin, dengan setengahnya berupa jalan beton.
Di tengah perjalanan, suara gemericik air dari Sungai Sangsang yang mengalir di bawahnya menjadi satu-satunya penanda kedekatan dengan tujuan.
Pemandian yang Dipercaya Menyembuhkan
Pasiraman ini memiliki dua sumber air yang dipercaya memiliki khasiat untuk menyembuhkan penyakit nonmedis, terutama yang disebabkan oleh serangan ilmu hitam.
Menurut I Nyoman Subamia, seorang keturunan panglingsir Jaga Satru, pamedek yang melakukan malukat (ritual penyucian diri) sering kali menunjukkan reaksi aneh jika tubuhnya terpengaruh kekuatan negatif.
“Banyak yang merasa panas, gelisah, bahkan ada yang sampai pingsan saat baru tiba di lokasi. Ada juga yang berputar-putar tanpa sadar,” ungkap Subamia.
Proses Ritual Malukat
Ritual di Jaga Satru memiliki aturan ketat. Pamedek diwajibkan membawa perlengkapan seperti canang atau pajati, lalu memulai prosesi dengan sembahyang di Palinggih Pasiraman Jaga Satru.
Setelah itu, mereka harus mengikuti tahapan pembersihan diri di dua sumber air, dimulai dari bulakan (mata air pertama) dan dilanjutkan ke pancuran berikutnya.
Cerita Kesembuhan yang Menarik Perhatian
Kisah kesembuhan para pamedek menjadi daya tarik utama Pasiraman Jaga Satru.
Salah satu cerita datang dari seorang warga Batubulan yang mengalami sakit berak darah selama setahun tanpa penjelasan medis.
Setelah menjalani malukat di Jaga Satru, ia akhirnya sembuh total.
“Bapak itu datang sendiri. Saat malukat, dia sampai pingsan. Beberapa hari setelahnya, kondisinya membaik. Sekarang dia sudah sehat,” tutur Subamia.
Daya Tarik Bagi Penekun Spiritual
Selain pamedek biasa, Jaga Satru juga sering dikunjungi oleh penekun spiritual dari berbagai daerah, seperti Karangasem, Buleleng, hingga Tabanan.
Mereka mengaku tertarik dengan energi mistis yang tersimpan di lokasi ini, meskipun Subamia sendiri tidak pernah melakukan promosi besar-besaran sebelumnya.
Pesan dari Pasiraman Jaga Satru
Pasiraman Jaga Satru tidak hanya menjadi tempat spiritual, tetapi juga menjadi simbol keyakinan masyarakat terhadap tradisi leluhur.
Dengan daya tarik mistis dan cerita kesembuhan yang tak terhitung, mata air suci ini menjadi salah satu destinasi yang penuh misteri dan memikat untuk dijelajahi. ***
Editor : I Putu Suyatra