Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Lontar Kuno Pura Mekah di Bali: Penelitian yang Menguak Sejarah dan Keunikan Tradisi Hindu Bali

I Putu Suyatra • Selasa, 21 Januari 2025 | 23:41 WIB
Pura Mekah yang terletak di Banjar Binoh Kaja, Desa Ubung Kaja, menyimpan cerita menarik tentang lontar kuno yang menyimpan sejarah panjang keturunan Arya Kepakisan.
Pura Mekah yang terletak di Banjar Binoh Kaja, Desa Ubung Kaja, menyimpan cerita menarik tentang lontar kuno yang menyimpan sejarah panjang keturunan Arya Kepakisan.

BALIEXPRESS.ID – Tempat suci Hindu Bali, Pura Mekah yang terletak di Banjar Binoh Kaja, Desa Ubung Kaja, menyimpan cerita menarik tentang lontar kuno yang menyimpan sejarah panjang keturunan Arya Kepakisan.

Dengan nama yang unik dan tradisi sembahyang yang berbeda, pura ini menarik perhatian berbagai pihak, termasuk Badan Arkeologi Denpasar, yang pada tahun 2007 berhasil menyelesaikan penelitian tentang lontar tersebut.

Menurut Mangku Made Wirya, pemangku Pura Mekah, lontar ini merupakan salinan dari naskah induk yang berasal dari Padangrata, Karangasem.

“Lontar ini ditulis menggunakan aksara Bali Baru dengan teknik goresan benda tajam yang disebut pengrupak,” ujarnya saat ditemui di kediamannya.

Keunikan Tradisi Pura Mekah

Tak hanya lontar kuno, Pura Mekah juga memiliki tradisi sembahyang yang tak biasa.

Prosesi pamuputnya menghadap ke barat, berbeda dari kebanyakan pura lainnya di Bali.

“Sembahyang di sini dilakukan dua kali. Pertama menghadap ke timur, lalu pamuputnya ke barat karena kita ngayat ke Pura Dalem Solo di Jawa,” jelas Mangku Made.

Sebagai pura keluarga yang diempon oleh 16 kepala keluarga, piodalan di Pura Mekah dilaksanakan setiap enam bulan sekali pada Wrespati Kliwon Wuku Warigadian.

Tradisi ini mencerminkan harmoni antara warisan leluhur dan kehidupan masa kini.

Menguak Sejarah Keturunan Arya Kepakisan

Penelitian yang dilakukan pada lontar kuno ini mengungkapkan silsilah keturunan Arya Kepakisan.

Diketahui bahwa lontar tersebut dibuat pada tahun 1808 Saka atau 1886 Masehi oleh Bapa Wayahan Karang dari Liran atas izin I Gusti Nyoman Kuwun dari Padangrata.

Lontar ini mencatat garis keturunan mulai dari Pangeran Asak dan Pangeran Nyuhaya, yang kemudian menurunkan berbagai keluarga dengan gelar Arya dan Gusti.

Namun, seiring perjalanan waktu, beberapa keturunan Arya Kepakisan tidak lagi menggunakan gelar tersebut.

“Sebagian memilih nama lain karena nyineb wangsa. Hal ini mungkin dilakukan karena alasan ekonomi atau politik pada masa itu,” tambah Mangku Made.

Pentingnya Penelitian Budaya

Penelitian ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga warisan budaya leluhur.

Mangku Made berharap hasil penelitian ini dapat mempererat hubungan antar keturunan Arya Kepakisan sekaligus menjadi penghubung dengan nilai-nilai masa kini.

Pura Mekah bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol harmoni antara tradisi, sejarah, dan kehidupan modern.

Dengan segala keunikannya, pura ini terus menarik perhatian mahasiswa, peneliti, hingga wisatawan yang ingin menyelami lebih dalam kekayaan budaya Bali.

Apakah masih banyak misteri yang tersembunyi di Pura Mekah? Hanya waktu dan penelitian lebih lanjut yang dapat menjawabnya. *** 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #lontar #hindu #PURA MEKAH