BALIEXPRESS.ID - Tempat suci umat Hindu Bali, Pura Dalem Pingit di Desa Adat Tembuku Kaja, Kecamatan Tembuku, Bangli, menyimpan cerita unik yang memikat perhatian.
Kepercayaan turun-temurun yang masih dipegang teguh oleh warga setempat melarang kaum wanita untuk masuk atau menginjakkan kaki ke utama mandala pura ini.
Fenomena ini bukan sekadar larangan, melainkan bagian dari tradisi adat yang penuh misteri.
Tradisi Tak Tergoyahkan: Wanita Hanya Bisa Memantau dari Jauh
Berbeda dari pura lainnya, di mana semua umat dapat masuk ke area utama, di Pura Dalem Pingit kaum perempuan hanya diperbolehkan berada di bagian luar atau tengah pura.
Pada saat hari suci seperti pujawali, para pria sepenuhnya mengurus segala rangkaian upacara di utama mandala.
Sementara itu, wanita hanya bisa membantu dari luar, memberikan arahan, atau menyiapkan banten yang nantinya diambil oleh pria melewati tembok pembatas pura.
“Ini bukan soal larangan tertulis. Tidak ada papan imbauan atau aturan resmi. Tapi, perempuan di sini seolah sudah paham bahwa mereka memang tidak boleh masuk ke area utama pura,” ungkap Tokoh Adat setempat, I Nyoman Setiawan.
Kepercayaan yang Tak Bisa Dijelaskan: Apa yang Terjadi Jika Dilanggar?
Hingga kini, tidak ada seorang pun yang berani melanggar tradisi ini. Para tetua adat maupun warga tidak tahu pasti apa konsekuensinya.
“Belum pernah ada yang mencoba melanggar, tapi kami percaya ada bahaya yang bisa menimpa jika pantangan ini dilanggar,” kata panglingsir desa, Wayan Gasir.
Yang menarik, kepercayaan ini bahkan dipahami oleh anak-anak perempuan balita.
Mereka enggan memasuki utama mandala tanpa diberi tahu sebelumnya.
Hal ini, menurut Gasir, seperti ada semacam kontak batin antara masyarakat dengan dewa yang berstana di pura tersebut.
Tradisi yang Berakar pada Sejarah Masa Lampau
Keunikan Pura Dalem Pingit ini diduga berkaitan dengan sejarah perpindahan penduduk dari Desa Manukaya Let, Gianyar, ke Tembuku Kaja pada masa lampau.
Meski asal-usul pantangan ini tidak tercatat secara jelas, warga tetap menjalankan kepercayaan ini sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur.
Keangkeran yang Terjaga: Pantangan Daging Babi
Selain larangan masuk utama mandala bagi wanita, Pura Dalem Pingit juga memiliki aturan khusus soal konsumsi daging.
Seluruh banten yang digunakan dalam upacara wajib menggunakan daging itik. Daging babi dilarang keras, bahkan hanya untuk dibawa atau dimakan di area parkir pura.
“Nama Dalem Pingit itu sendiri bermakna pingit atau tenget, sehingga kesakralannya harus dijaga,” tambah Nyoman Saria, prajuru adat setempat.
Pura Strategis dengan Pesona Wisata
Selain keunikannya, Pura Dalem Pingit terletak dekat dengan objek wisata menarik seperti Air Terjun Goa Giri Campuhan dan Krisik.
Lokasi ini dapat dijangkau melalui rute dari Bangli menuju Karangasem, lalu ke selatan arah Klungkung.
Pura Dalem Pingit bukan sekadar tempat ibadah, melainkan simbol tradisi dan kepercayaan yang masih dijunjung tinggi.
Misteri yang menyelimutinya terus menjadi daya tarik, membuat siapa pun penasaran untuk memahami lebih dalam kisah di balik pura ini. ***
Editor : I Putu Suyatra