Sesuai namanya, tradisi ini menggunakan sarana sayuran, buah hingga ikan yang ditata kemudian wajib ditegen (dipikul) oleh krama lanang (laki-laki) untuk dipersembahkan di Pura Dalem Gede dan Dalem Prajapati.
Tokoh Adat Kedisan, I Ketut Jembawa mengatakan pada saat upacara ini seluruh masyarakat desa Kedisan Membuat jaja bantal, masing-masing satu Tegen berisi jaja bantal serba 20 buah, jaja uli, pisang, taluh, pesan kara.
Ngusabha Tegen dilaksanakan pada setelah tiga atau lima hari sesudah tilem ke tiga, setiap satu tahun sekali. Krama lanang datang ke Pura Dalem Gede dan Prajapati dengan memikul banten tegenan dan perempuan mengusung banten gebogan.
Dikatakan Ketut Jembawa, Tradisi Ngusaba tegen ini dipercayai sudah ada saat Desa Kedisan berdiri.
Baca Juga: Pemkab Tabanan Targetkan 1.700 Vaksin PMK Tahap Pertama Bisa Tercapai
Tradisi ini merupakan dresta dari masyarakat Desa Kedisan yang tersuratkan pada Lontar Siwa Purana dan sudah dilaksanakan secara turun temurun sejak desa kedisan ini berdiri.
“Sarana banten tegenan ini diantaranya hasil pertanian dari masyarakat seperti sayur-sayuran, buah-buahan, ikan dan lainnya. Salah satu keunikan dari saba tegen adalah isi sesaji dari banten tegenan ini serba dua puluh,” ungkapnya.
Jika sarana prosesi bantenya memakai suku pat atau memakai sapi upakaranya dilaksanakan 5 hari setelah hari tilem (penanggal panglima).
Sedangkan, jika upacaranya memakai bebek, kuyuh, atau suku kalih, upakaranya dilaksanakan 3 hari setelah tilem.
Dalam sarana bebantenan ini berisi be-bean atau kacang-kacangan (kare) pantangan memakai ayam, hanya boleh memakai telur dan ikan danau.
Baca Juga: Komisi III DPRD Badung Tinjau Lima Usaha di Kuta Utara, Optimalkan Pajak Daerah
“Alasan pantang memakai ayam, Kami mempercayai bahwa adanya bencana jika ada yang melanggar. Dulu ada yang mencoba memakai ayam digunakan untuk sarana upacara. Mamun saat selesai upacara ada bencana yang terjadi, dimana peliharaan masyarakat kedisan itu dibunuh oleh anjing,” paparnya.
Upacara Ngusaba Tegen ini bermakna sebagai bentuk syukur warga untuk memuja Dewi Kesuburan yang berstana di pura Dalem Prajapati Desa Kedisan.
Krama yakin, dengan digelarnya Tradisi Ngusaba Tegen ini dengan rutin maka keselamatan dan kemakmuran.
Ngusaba Tegen juga dikenal dengan nama Ngusaba Tatag.
Nama Tagtag karena pada saat pengayah nunas tirta telah disucikan oleh pemangku adat, para pengayah nunas dengan cara menaiki tatag (tangga) sehingga itu Tradisi Ngusaba Tegen ini juga dinamakan Ngusaba Tatag.
Prosesi ini dimulai dari suatu tempat di desa Kedisan yang sudah ditentukan panitia. Lalu akan dilanjutkan dengan berjalan menuju Pura Dalem Prajapati Desa Kedisan.
Para pengayah pun saling berjejer sambil mengusung banten dalam perjalanannya.
Upacara dilaksanakan dengan sistem Nyungkit, yaitu tiga kali upakaranya menggunkan ulam Itik atau bebek, dan di tahun keempat menggunakan ulam Banteng atau sapi.
Areal Upacara di depan pelinggih Padma Sari (Prajapati) yang penempatan banten umat dibagi dua (Dajanan-Delodan).
Baca Juga: Empat Kali Terpilih jadi Anggota DPRD Buleleng, Ini Profil Kadek Turkini Srikandi PDIP Buleleng
Setelah sesampainya di tempat Tradisi Ngusaba Tegen ini digelar, para pengayah atau perwakilan disetiap keluarga untuk menghaturkan nasi yang sudah matang yang mana sebelumnya sudah ditentukan takarannya oleh panitia melalui takaran batok kelapa.
Ngaturang nasi yang sudah matang ini bertujuan untuk mengetahui jumlah kepala keluarga yang ada di Desa Kedisan.
“Setelah itu, nasi yang dihaturin tersebut nantinya wajib dinikmati oleh seluruh pengayah yang mana ini sebagai wujud dari mempererat rasa kekeluargaan masyarakat Desa Kedisan,” sebutnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika