Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Misteri dan Keunikan Pura Pande Wesi Dalem Majapahit: Umat Hindu Bali di Luar Soroh Pande Juga Ikut Sembahyang

I Putu Suyatra • Minggu, 26 Januari 2025 | 16:52 WIB

 

Pura Pande Wesi Dalem Majapahit
Pura Pande Wesi Dalem Majapahit

BALIEXPRESS.ID – Pura Pande Wesi Dalem Majapahit, sebuah tempat suci Hindu Bali keluarga yang diempon oleh soroh Pande, menyimpan daya tarik yang unik. Meskipun secara tradisional diperuntukkan bagi keturunan Pande, pura yang terletak di Jalan Raya Buduk, Badung, Bali, ini juga sering dikunjungi oleh warga dari luar soroh Pande untuk bersembahyang.

Fenomena ini tentu menimbulkan pertanyaan, bagaimana bisa pura keluarga ini begitu inklusif?

Keunikan pura ini tak hanya terletak pada statusnya sebagai pura keluarga, tetapi juga pada lokasinya yang bersebelahan dengan Gereja Katolik Santa Maria Assumpta.

Hal ini menjadi simbol toleransi beragama yang terjalin harmonis di Banjar Tampak Kerep.

Sejarah Tersembunyi dalam Lontar

Mangku Pura, Made Budiyasa (59), mengungkapkan bahwa nama lengkap pura ini baru ditemukan pada tahun 2001 saat dilakukan pemugaran.

Sebelumnya, pura ini hanya dikenal sebagai Pura Pande. Penemuan secarik lontar di dalam gedong pura menjadi kunci terungkapnya nama asli, Pura Pande Wesi Dalem Majapahit.

Sayangnya, lontar tersebut hanya berisi nama pura tanpa keterangan tambahan mengenai sejarah leluhur dari Majapahit.

“Saya dan keluarga hanya tahu nama itu setelah lontar ditemukan. Kakek saya dulu juga seorang mangku, tapi kami tak memiliki informasi lebih jauh tentang hubungan dengan Majapahit,” jelasnya.

Daya Tarik Ritual yang Berbeda

Pura ini memiliki tata urutan persembahyangan yang tak biasa. Ada sembilan tahapan dalam ritualnya, dimulai dengan persembahyangan tanpa sarana, langsung menggunakan kwangen.

Tiap tahapan memiliki makna yang mendalam, mulai dari penghormatan kepada Sang Hyang Widhi hingga persembahyangan kepada leluhur kawitan Pande.

“Urutannya berbeda dengan pura pada umumnya. Tahapan ini telah dijaga turun-temurun,” ujar Mangku Budiyasa.

Selain ritual yang unik, pura ini juga memiliki berbagai palinggih, seperti Palinggih Perapen, Ratu Biang Dewa Hyang Ibu, hingga Padmasana berbentuk candi.

Mengapa Warga Luar Ikut Sembahyang?

Meski diempon oleh sebelas Kepala Keluarga (KK) dari soroh Pande, banyak pamedek dari luar soroh yang ikut bersembahyang saat piodalan yang jatuh pada Anggara Kasih Wuku Kulantir.

Menurut Mangku Budiyasa, fenomena ini mungkin terkait dengan kakeknya, yang selain menjadi pemangku juga seorang balian.

“Dulu kakek sering membantu penyembuhan warga. Mungkin itu sebabnya, hingga sekarang banyak yang datang ke sini untuk bersembahyang. Kami tidak menolak, karena semua kembali kepada Sang Hyang Widhi,” ungkapnya.

Pencurian Pratima yang Menggemparkan

Di balik daya tariknya, pura ini juga pernah mengalami peristiwa miris. Beberapa pratima di pura sempat dicuri.

Ironisnya, pelaku pencurian ternyata orang Bali sendiri.

“Ketika polisi menunjukkan pratima yang ditemukan, sayangnya milik pura kami tidak ada. Mungkin sudah digadaikan oleh pencuri,” cerita Mangku Budiyasa dengan nada lirih.

Namun, ada kejadian yang cukup menggelitik saat polisi mengungkap fakta bahwa pelaku juga mencuri pratima dari puranya sendiri.

Simbol Toleransi di Buduk

Keberadaan Pura Pande Wesi Dalem Majapahit di sebelah gereja Katolik menjadi bukti toleransi yang hidup di Buduk.

Bahkan, saat pura ini dipugar, pihak gereja memberikan izin untuk menggunakan halaman mereka sebagai tempat penyimpanan peralatan.

“Toleransi di sini sudah terjalin sejak dulu. Kami hidup berdampingan dengan damai,” pungkas Mangku Budiyasa.

Keunikan sejarah, tradisi, dan toleransi yang melekat pada Pura Pande Wesi Dalem Majapahit menjadikannya tak hanya sebagai tempat suci, tetapi juga simbol kerukunan yang patut diteladani.

Bagi pamedek maupun masyarakat umum, pura ini menawarkan pesan mendalam tentang harmoni antarumat beragama dan penghormatan terhadap leluhur. ***

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #hindu #Pura Pande Wesi Dalem Majapahit #buduk #badung